Satu-Satunya Baju

Posted by redaksi On 25 February 2012 3 Commented

Nasrudin sedang mengembara cukup jauh ketika ia sampai di sebuah kampung yang sangat kekurangan air. Menyambut Nasrudin, beberapa penduduk mengeluh,

“Sudah enam bulan tidak turun hujan di tempat ini, ya Mullah. Tanaman-tanaman mati. Air persediaan kami tinggan beberapa kantong lagi. Tolonglah kami. Berdoalah meminta hujan.”

Nasrudin mau menolong mereka. Tetapi ia minta dulu seember air. Maka datanglah setiap kepala keluarga membawa air terakhir yang mereka miliki. Total terkumpul hanya setengah ember air.

Nasrudin melepas pakaiannya yang kotor, dan dengan air itu, Nasrudin mulai mencucinya. Penduduk kampung terkejut,

“Mullah ! Itu air terakhir kami, untuk minum anak-anak kami!”

Di tengah kegaduhan, dengan tenang Nasrudin mengangkat bajunya, dan menjemurnya. Pada saat itu, terdengar guntur dahsyat, yang disusul hujan lebat. Penduduk lupa akan marahnya, dan mereka berteriak gembira.

“Bajuku hanya satu ini,” kata Nasrudin di tengah hujan dan teriakan penduduk, “Bila aku menjemurnya, pasti hujan turun deras!”

[Catatan Koen: Trik ini sering digunakan oleh kaum sufi -- menggunakan keterjepitan-keterjepitan untuk hal-hal yang berbeda.]

Popularity: 2% [?]

Incoming search terms:

3 Responses to “Satu-Satunya Baju”

  1. marzuki says:

    Benar g’ yah bisa kayak gitu..
    kalau benar bisa di coba tuh di tempat yang kekurangan air..

  2. kuchikirukia says:

    Serius, tuh..?!
    Masa’ sih..??!

  3. belajar bijak says:

    u/ dua orang diatas ku :

    ya nggaklah, itu kan cuma cerita, masa di musim kemarau/ panas orang jemur pakaian akan turun ujan… tp ya klo sekarang di tengah anomali cuaca mgkin bisa saja terjadi…hujan makin sulit diprediksi ^__^’

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word