Ibnu Hajar Al Haitami (909 – 974 H)

Posted by redaksi On 23 June 2007 8 Commented

Nama lengkap beliau adalah Syihabuddin Ahmad bin Hajar al Haitami, Lahir di Mesir tahun 909 H. dan wafat di Mekkah tahun 974H. Pada waktu kecil beliau diasuh oleh dua orang Syeikh, yaitu Syeikh.Syihabuddin Abul Hamail dan Syeikh Syamsuddin  as Syanawi. Pada usia 14 tahun beliau dipindahkan belajar masuk Jami’ Al Azhar. Pada Unirnersitas Al Azhar beliau belajar kepada Syeikhul Islam Zakariya al Anshari dan lain-lain.

Kitab.kitab karangan beliau banyak sekali, diaantaranya:
1. Kitab Tuhfatul Muhtaj al Syarhil Minhaj (10 jilid besar), sebuah kitab fiqih dalam Madzhab Syafi’i yang sampai saat ini dipakai dalam sekolah-sekolah Tinggi Islam di seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Kitab ini setaraf dengan kitab Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj (8 jilid besar) karangan Imam Ramli (wafat 1004 H). Kedua dua kitab ini adalah tiang tengah dari Madzhab Syafi’i, tempat kembali bagi Ulama-ulama Syafi’iyah dalam masalah-masalah agama di Indonesia pada waktu ini.
2. Kitab fiqih Fathul Jawad.
3. Kitab fiqih al Imdad
4. Kitab fiqih al Fatawi.
5. Kitab fiqih al ‘Ubad.
6. Kitab Fatawi al Haditsiyah.
7. Kitab Az Zawajir, frgtirafil Kabaair.
8. As Syawa’iqul Muhriqah Firradi al az Zindiqah.
9. Dan banyak lagi yang lainnya.

Perlu drperingatkan kepada pembaca bahwa dalam lingkungan Ulama-ulama Syafi’iyah, terkenal dua orang Ibnu Hajar, yaitu :
1. Ibnu Hajar al ‘Asqalani (wafat 852 H.) pengarang kitab Fathul Bari a’l Syarhil Bukhari dan kitab hadits Bulugul Maram dll.
2. Ibnu Hajar al Haitami (wafat 974H.), pengarang kitab Tuhfah yang kita bicarakan sekarang ini.

Tetapi yang sangat terkemuka di bidang fikih di antara dua orang Ulama Ibnu Hajar ini, adalah Ibnu Hajar al Haitami karena Ibnu Hajar al ‘Asqalani lebih banyak kesibukannya dalam ilmu hadits daripada ilmu fiqih.

Sumber: Sejarah dan Keagungan Madzab Syafi’i, karangan KH. Siradjuddin Abbas, Pustaka Tarbiyah, 1994.

Popularity: 13% [?]

Incoming search terms:

8 Responses to “Ibnu Hajar Al Haitami (909 – 974 H)”

  1. nu leureus ka DUA says:

    Tuhnya,aneh lalieur pisan jalma teh.
    ai ka ulama anu nyaan euweuh nu mere komentar,ai kanu teu baraleg kawas alwi almaliki jeung albarjanji pada ngadungakeun…wahhh…lieurrrr..

  2. Gin Gin says:

    nu leureus ka DUA
    March 11th, 2008 at 10:56 pm

    Tuhnya,aneh lalieur pisan jalma teh.
    ai ka ulama anu nyaan euweuh nu mere komentar,ai kanu teu baraleg kawas alwi almaliki jeung albarjanji pada ngadungakeun…wahhh…ieurrrr.

    Kangge anu nulis komentar ieu
    Hai Ujang Wahabi Salafy tobat anjeun bisi kawalat. Ka ulama ulah kitu..
    Baca qur’an sareng hadis anu leress…
    Betull….

  3. nunuh says:

    naha nya asa mani gampang nyarios teh abongkena letah euweuh tulangan…
    Ka Ulama jangji we nyebat teh kawas urang geus satara jeung aranjeuna…

  4. rake says:

    bismillaah,

    setahu kami ibnu hajjar al ashqolany masih lebih terkemuka di ilmu fiqh.
    lihatlah fat-hul bari, bulughul marom sebagai buktinya.
    para ulama besar pun lebih banyak menukil dari beliau, karena kelebihannya dalam ilmu hadits, sehingga dipastikan pendapatnya lebih hasan, atau shahih.

    wallohu a’lam

  5. jamaluddin says:

    assalamualaikum..adalah kurang baik jika kita berselisih pasal kedua dua ulama tadi..adapun kedua dua ulama tadi kedua duanya terkenal..cuma yang perlu difahami..manhaj ibnu hajar al asqalani adalah manhaj ahlul hadis sedangkan manhaj al haitsami adalah manhaj ahlul fiqh..seorang ahlul fiqh haruslah memahami hadis sedangkan seorang ahlul hadis sudah pasti faham tentang fiqh kerana fiqh itu asasnya hadis dan quran..ibnu hajaar adalah seorang pentarjih hadis dan kebanyakkan ulama yang ingin mengkaji martabat sesuatu hadis selalunya merujuk kepada kitab kitab ibnu hajar al asqalani..adapun ulama yang ingin mengkaji pendapat dalam feqah syafi’i akan merujuk kepada kitab alhaitsami..al haitsami juga merupakan seorang pentarjih hadis tetapi tidaklah banyak kitab kitab tarjih hadis yang di karangnya berbanding al asqalani..sekian

  6. jose says:

    kang, nama Ibnu Hajar Al-Haitsami, bukan Al-Haitami. memang di edisi Inggris, huruf TS ditranslit menjadi TH. susahnya, sebagian komunitas Islam modern, menerjemahkan TH menjadi T, dalam bahasa Indonesia, tanpa mencari tahu nama asli dalam edisi Arab. sehingga menjadi Al-Haitami. padahal seharusnya Al-Haitsami.

  7. kuring says:

    mau nanya nih, jadi yang punya cerita “cikaracak ninggang batu” Ibnu Hajar yang mana yah?
    kira2 inti ceritanya begini:

    Dulu waktu kecil saya dengar cerita katanya Ibnu Hajar itu waktu masantren belet pisan sampai2 prustasi dan kabur dari sekolah. Di perjalanan pada saat istirahat melihat “cikaracak ninggang batu, laun-laun beuki legok”. Terinspirasi oleh kejadian tsb, beliau kembali lagi ke sekolah dan belajar dgn sungguh2 sehingga akhirnya menjadi ulama terkenal.

    Nah … apa betul cerita ini? dan Ibnu Hajar yang mana?

  8. si Faqir says:

    1. Menurut Imam Syafii Bid’ah itu ada 2 (yg baik dan yg buruk). Menurut Hujjatul Islam Imam Nawawi dan yg lainnya malah ada 5 (bidah yg wajib, haram, sunah, makruh, mubah).
    2. Kalau ada yg tidak setuju point 1 (siapapun orangnya) cek deh bioghrapinya. Pasti mereka bukan ulama. Karena yg namanya ulama minimal dia al hafidz (hafal 100rb hadits berserta sanad dan hukum matannya)
    3. Diatas al Hafidz adalah al Hujjah (300rb), diatasnya lagi al hakim baru kemudian al imam. Muridnya Imam Syafii saja yaitu Imam Hambali hafal 1 juta hadits.
    4. Kisah “cikaracak ninggang batu, laun-laun beuki legok” adalah Hujjatul Islam Ibnu Hajar al Asqalani

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word