Sayyid Abdullah Al Haddad (1044 – 1132 H)
Sayyid Abdullah bin Alwi bin Muhammad Al-Haddad, Al-Husaini, Asy-Syafi’i Al-Hadhrami. Dilahirkan pada 5hb Safar 1044H. Ia mendapat pendidikan agama dari ulama’ Ba’ Alawi, kemudian berpindah belajar di Yaman menyempurnakan ke Mekkah dan Madinah. Tatkala ditanya orang tentang guru-gurunya, terutama ia mempelajari ilmu tasauf dan tarikat, ia menjawab ia tidak dapat menyebutkan seorang demi seorang kerana jumlahnya lebih dari seratus orang.
Bagaimanapun juga di antara guru-gurunya yang terpenting ialah :
1. Sayyid bin Abdur Rahman bin Muhammad bin Akil Al-Saqqaf kerana daripadanya ia mendapat Khirqah Sufi. As-Saqqaf ialah seorang tokoh sufi yang terkenal dalam Mahzab Mulamatiyyah.
2. Sayyid Abu Bakar bin Abdur Rahman bin Syeikh Aidid.
3. Sayyid Umar bin Abdur Rahman Al-Attas, inilah gurunya yang terpenting menurut keterangan sejarah. Sayyid Umar Al-Attas seorang daripada tokoh tarikat yang dianggap luar biasa dalam ilmu hakikat. Al-Haddad sendiri menyebut nama tokoh tarikat ini dengan penuh hormat sebagai gurunya dan beliau menerangkan bahawa daripadanya ia beroleh ajaran tarikat zikir yang sempurna serta beroleh khirqah yang terakhir.
Abdullah bin Umar Ba-Ubaid menerangkan bahawa Sayyid Umar Al-Attas adalah seorang wali yang tidak dapat disaingi pengetahuannya. Ia seorang Qutub dalam zamannya, sesudah gurunya Abu Bakar bin Salim. Dia (Sayyid Umar Al-Attas) seorang yang kashaf. Tarikat dan Ratibnya termasyhur dan tidak dapat mempengaruhi tarikat dan ratib muridnya Al-Haddad.
Sayyid Umar Al-Attas tidak meninggalkan karangan-karangan, tetapi muridÂmuridnya yang banyak itu menyampaikan ajarannya itu dari mulut kemulut dan menyebut dalam kitab-kitab karangan mereka.
Di antara murid-muridnya ialah lsa bin Muhammad Al-Habayi di Khanfar, Hadramaut; Syeikh Ali bin Abdullah Al-Baras, di Quraibah, Do’an, Hadramaut dan lainÂlain. Semuanya terkenal dalam bidang tasauf.
Di antara murid-muridnya yang ramai dan terkenal Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang sangat dicintainya. Beliau kemudian menjadi tokoh besar dalam tarikat dan seorang pengarang yang ternama. Ia terkenal sebagai orang yang Abid. Tiap-tiap hari ia kelilingi kota Tarim untuk sembahyang sunnat dalam tiap-tiap masjid.
Dalam kitab Masyru’ul Rawi disebutkan bahawa ia seorang yang melimpahÂlimpah ilmunya, ahli yang mempertemukan hakikat dan syariat. Sejak kecil ia telah menghafal Al Qu’ran. Seorang yang bersungguh-sungguh dalam membersihkan dirinya dan mengumpulkan ilmu pengetahuannya dari ulama’ terkenal yang semasa dengan dia seorang mujaddid yang terkenal ijtihad-ijtihadnya dalam persoalan ibadah. Seorang yang bersungguh-sungguh menghidupkan ilmu dalam amal dan oleh kerana itu dikenal orang di Timur dan di Barat. Beliau banyak melahirkan murid-murid yang salleh, yang tersiar keseluruh pelusuk bumi dari zaman ke zaman.
Ia pernah mengunjungi Mekkah dan Madinah dalam tahun 1080H dan salah seorang gurunya di Mekkah ialah Sayyid Muhammad bin Alawi As-Saqqaf Ba’ Alawi, yang keturunannya sambung menyambung sampai kepada Ja’far As-Sadiq anak Imam Baqir anak Imam Ali Zainal Abidin anak Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib (suami Fatimah binti Rasulullah s.a.w.). Oleh itu pada akhir ratibnya dibacakan fatihah untuk dihadiahkan pada gurunya Sayyid Muhammad bin Alawi Ba’ Alawi.
Al-Haddad selain dari seorang tarikat, beliau juga seorang penyair. Apabila mengucapkan syairnya nescaya mempersonakan. Beliau juga seorang pengarang yang utama. Tulisannya sungguh mengharukan dan memikat hati. Di antara kitab-kitab karangan beliau ialah: An-Nasa’ih An-Diniyyah, Sabilul Azkar, Ad-Da’watul Ittihaful Sa’ il, Risalah Al-Mu’aw-wanah, Al-Fusulul Ilmiyyah, Risalatul Murid, Risalatul Muzakarah dan yang terpenting kitabul Majmu’ yang terdiri empat juzu’ berisi wasiat dan masalahÂmasalah hukum terpenting, dan pada akhirnya ditutup dengan kumpulan sajak-sajak yang indah bernama Durrul Manzum. Banyak orang berpendapat bahawa ilmu Sayyid Abdullah Al-Haddad tidak tersimpan dalam karangannya tetapi tersimpan dalam keperibadian dan ihwalnya, tersimpan dalam syair dan sajaknya.
Diriwayatkan bahwa beliau telah mendapat ilham menyusunnya pada suatu malam dalam bulan Ramadan yang dikatakan bertepatan dengan Malam Lailatul Qadr. Zikir-zikir mempunyai fadhilat yang sangat besar sekali, sesiapa yang mengamalkannya akan mendapat banyak berkat antaranya mendapat Husnul khatimah. Waktu membacanya adalah selepas sembahyang Isyak dan sunnah ba’diyahnya. Tetapi pada bulan Ramadhan hendaklah dibaca sebelum sembahyang Isyak selepas sunnah kabliyahnya.
Sayyid Abdullah Al-Haddad pengarang ratib Al-Haddad kembali ke Rahmatullah pada malam Selasa tanggal 7hb Zulkaedah 1132H, dalam usia lebih kurang lapan puluh sembilan tahun (89 tahun). Empat puluh hari sebelum ia meninggal dikala sakitnya pada akhir bulan Ramadhan, dia sudah menjelaskan kejadian-kejadian yang akan datang pada dirinya.
Semoga Allah merahmati Al-Imam dan menempatkan beliau di Syurga, dan dihimpunkan kita bersamanya dengan berkat Saiyidina Muhammad S.A.W., keluarganya dan sahabatnya serta selawat keatas Nabi Muhammad yang mulia serta keluarga dan sahabatnya. Amien.
Sumber:
http://www.alhawi.net
http://web.singnet.com.sg/~mansal/kitab.htm
Popularity: 4% [?]

gtu ya cra supaya jadi org sukses??????????
Berbagai kisah kehebatan seseorang sudah terbiasa muncul, yg pada awalnya dari mulut ke mulut. Sesuai dgn perjalanan zaman, kemudian muncul acuan dalam tulisan/kitab, dan berujung menjadi kredo (keyakinan) seseorang/golongan. Kehebatan atau sesuatu yg tidak pernah terjadi pada manusia pada umumnya, biasa dimunculkan pada seseorang yg dikultuskan. Ini terjadi pada hampir seluruh negeri, contohnya para awliya (wali) a.l. wali Songo di Indonesia, bahkan pada diri Rasulullah SAW. Bila Islam selalu merekomendasi setiap apa saja yg aneh menjadi pelajaran kebaikan, lalu bagaimana fungsi Al Quran atau hadits (yg sejalan dgn Al Quran), sedangkan dalam BUKU BESAR ISLAM termaktub dlm QS7:188, QUL LAA AMLIKU LINAFSII NAF’AN WALAA DHARRAN ILLAA MASYAA ALLAH.WALAW KUNTU ‘A-LAMUL GHAYBA LAS-TAK-TSAR-TU MIN ALKHAYRI WA MAA MASSANIYASSUU-U, IN ANA ILLA NADZIRUN WA BASYIIRUN LIQAWMI YU-MINUUN, Artinya: Katakanlah (hai Muhammad kpd orang banyak):”Aku tidak berkuasa menarik kemanfa-atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan, kecuali apa yg telah Allah inginkan (apa yg telah didapat Rasulullah). Dan andaikan saja aku mengetahui (hal-hal) yg ghaib, tentu aku telah membuat kebaikan (yg menyenangkan) sebanyak mungkin, dan aku(pun) tidak (pernah) ditimpa kesengsaraan/ketidaksenangan. Sungguh, aku ini hanya sebatas pemberi peringatan (ttg siksa) dan penyampai kabar gembira (tentang kenikmatan/balasan baik) bagi kaum yg beriman”. Alasan di atas, bahwa hal seperti ini merupakan pola pendekatan untuk mencapai nilai yg sebenarnya (kembali kepada sejarah walisongo), Untuk zaman sekarang, hal tsb sudah kadaluwarsa. Zaman sekarang tengah barada pada tingkat teknologi canggih yakni ilmiah, rasional dan faktual. Lalu mengapa agama selalu disajikan dgn pola zaman kuda gigit besi?. Karena itu, kaum mislimin harus mengetahui, apa yg PASTI Allah kehendaki, bukan yg KALAU Allah kehendaki. Semuanya termaktub dlm Al Quran. Mari kita kaji.
Utk Akhi Mustafa Adnani justru para ulama lah yg paling tahu ttg al Quran dan Hadits dan merekalah org2 yg mencintai Rasulullah SAW. Gelar mereka minimal al Hafidz (hafal hadits 100rb beserta sanad/guru dan hukum matannya), kemudian al hujjah (300rb), al hakim dan al Imam.Dan Tokoh ulama di atas ini sudah al hujjah.
Kalau bicara al Quran maupun hadits bisa berbagai tafsir dan pemahaman tapi apakah mereka2 yang menafsirkan itu sudah ulama minimal al Hafidz. Kalau tidak sampai bagaimana mungkin mereka faham al Quran dan Hadits.
Syaikh Nashirudin al Albani saja bukan al Hafidz bahkan tidak hafal satu hadits pun karena tidak punya sanad hadits karena beliau baca hadits di perpustakaan. Silahkan lihat profil dan biograpinya.