<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Sayyid Abdullah Al Haddad (1044 &#8211; 1132 H)</title>
	<atom:link href="http://www.kisah.web.id/tokoh-islam/sayyid-abdullah-al-haddad-1044-1132-h.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kisah.web.id/tokoh-islam/sayyid-abdullah-al-haddad-1044-1132-h.html</link>
	<description>kisah nabi, rosul, sahabat, imam dan orang sholeh</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 06:35:21 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: si Faqir</title>
		<link>http://www.kisah.web.id/tokoh-islam/sayyid-abdullah-al-haddad-1044-1132-h.html/comment-page-1#comment-1103</link>
		<dc:creator>si Faqir</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 03:19:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.kisah.web.id/2007/06/23/sayyid-abdullah-al-haddad-1044-1132-h.html#comment-1103</guid>
		<description>Utk Akhi Mustafa Adnani justru para ulama lah yg paling tahu ttg al Quran dan Hadits dan merekalah org2 yg mencintai Rasulullah SAW. Gelar mereka minimal al Hafidz (hafal hadits 100rb beserta sanad/guru dan hukum matannya), kemudian al hujjah (300rb), al hakim dan al Imam.Dan Tokoh ulama di atas ini sudah al hujjah.

Kalau bicara al Quran maupun hadits bisa berbagai tafsir dan pemahaman tapi apakah mereka2 yang menafsirkan itu sudah ulama minimal al Hafidz. Kalau tidak sampai bagaimana mungkin mereka faham al Quran dan Hadits.

Syaikh Nashirudin al Albani saja bukan al Hafidz bahkan tidak hafal satu hadits pun karena tidak punya sanad hadits karena beliau baca hadits di perpustakaan. Silahkan lihat profil dan biograpinya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Utk Akhi Mustafa Adnani justru para ulama lah yg paling tahu ttg al Quran dan Hadits dan merekalah org2 yg mencintai Rasulullah SAW. Gelar mereka minimal al Hafidz (hafal hadits 100rb beserta sanad/guru dan hukum matannya), kemudian al hujjah (300rb), al hakim dan al Imam.Dan Tokoh ulama di atas ini sudah al hujjah.</p>
<p>Kalau bicara al Quran maupun hadits bisa berbagai tafsir dan pemahaman tapi apakah mereka2 yang menafsirkan itu sudah ulama minimal al Hafidz. Kalau tidak sampai bagaimana mungkin mereka faham al Quran dan Hadits.</p>
<p>Syaikh Nashirudin al Albani saja bukan al Hafidz bahkan tidak hafal satu hadits pun karena tidak punya sanad hadits karena beliau baca hadits di perpustakaan. Silahkan lihat profil dan biograpinya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Mustafa Adnani</title>
		<link>http://www.kisah.web.id/tokoh-islam/sayyid-abdullah-al-haddad-1044-1132-h.html/comment-page-1#comment-787</link>
		<dc:creator>Mustafa Adnani</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Oct 2010 14:14:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.kisah.web.id/2007/06/23/sayyid-abdullah-al-haddad-1044-1132-h.html#comment-787</guid>
		<description>Berbagai kisah kehebatan seseorang sudah terbiasa muncul, yg pada awalnya dari mulut ke mulut. Sesuai dgn perjalanan zaman, kemudian muncul  acuan dalam tulisan/kitab, dan berujung menjadi kredo (keyakinan) seseorang/golongan. Kehebatan atau sesuatu yg tidak pernah terjadi pada manusia pada umumnya, biasa dimunculkan pada seseorang yg dikultuskan. Ini terjadi pada hampir seluruh negeri, contohnya para awliya (wali) a.l. wali Songo di Indonesia, bahkan pada diri Rasulullah SAW. Bila Islam selalu merekomendasi setiap apa saja yg aneh menjadi pelajaran kebaikan, lalu bagaimana fungsi Al Quran atau hadits (yg sejalan dgn Al Quran), sedangkan dalam BUKU BESAR  ISLAM  termaktub dlm QS7:188, QUL LAA AMLIKU LINAFSII NAF&#039;AN WALAA  DHARRAN ILLAA MASYAA ALLAH.WALAW KUNTU &#039;A-LAMUL GHAYBA LAS-TAK-TSAR-TU MIN ALKHAYRI WA MAA MASSANIYASSUU-U, IN ANA ILLA NADZIRUN WA BASYIIRUN LIQAWMI YU-MINUUN,  Artinya: Katakanlah (hai Muhammad kpd orang banyak):&quot;Aku tidak berkuasa menarik kemanfa-atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan, kecuali apa yg telah Allah inginkan (apa yg telah didapat Rasulullah). Dan andaikan saja aku mengetahui (hal-hal) yg ghaib, tentu aku telah membuat kebaikan (yg menyenangkan) sebanyak mungkin, dan aku(pun) tidak (pernah) ditimpa kesengsaraan/ketidaksenangan. Sungguh, aku ini hanya sebatas pemberi peringatan (ttg siksa) dan penyampai kabar  gembira (tentang kenikmatan/balasan baik) bagi kaum yg beriman&quot;.  Alasan di atas, bahwa hal seperti ini merupakan pola pendekatan untuk mencapai nilai yg sebenarnya (kembali kepada sejarah walisongo), Untuk zaman sekarang, hal tsb sudah kadaluwarsa. Zaman sekarang tengah barada pada tingkat teknologi canggih yakni ilmiah, rasional dan faktual. Lalu mengapa agama selalu disajikan dgn pola zaman kuda gigit besi?. Karena itu, kaum mislimin harus mengetahui, apa yg PASTI Allah kehendaki, bukan yg KALAU Allah kehendaki. Semuanya termaktub dlm Al Quran. Mari kita kaji.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Berbagai kisah kehebatan seseorang sudah terbiasa muncul, yg pada awalnya dari mulut ke mulut. Sesuai dgn perjalanan zaman, kemudian muncul  acuan dalam tulisan/kitab, dan berujung menjadi kredo (keyakinan) seseorang/golongan. Kehebatan atau sesuatu yg tidak pernah terjadi pada manusia pada umumnya, biasa dimunculkan pada seseorang yg dikultuskan. Ini terjadi pada hampir seluruh negeri, contohnya para awliya (wali) a.l. wali Songo di Indonesia, bahkan pada diri Rasulullah SAW. Bila Islam selalu merekomendasi setiap apa saja yg aneh menjadi pelajaran kebaikan, lalu bagaimana fungsi Al Quran atau hadits (yg sejalan dgn Al Quran), sedangkan dalam BUKU BESAR  ISLAM  termaktub dlm QS7:188, QUL LAA AMLIKU LINAFSII NAF&#8217;AN WALAA  DHARRAN ILLAA MASYAA ALLAH.WALAW KUNTU &#8216;A-LAMUL GHAYBA LAS-TAK-TSAR-TU MIN ALKHAYRI WA MAA MASSANIYASSUU-U, IN ANA ILLA NADZIRUN WA BASYIIRUN LIQAWMI YU-MINUUN,  Artinya: Katakanlah (hai Muhammad kpd orang banyak):&#8221;Aku tidak berkuasa menarik kemanfa-atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan, kecuali apa yg telah Allah inginkan (apa yg telah didapat Rasulullah). Dan andaikan saja aku mengetahui (hal-hal) yg ghaib, tentu aku telah membuat kebaikan (yg menyenangkan) sebanyak mungkin, dan aku(pun) tidak (pernah) ditimpa kesengsaraan/ketidaksenangan. Sungguh, aku ini hanya sebatas pemberi peringatan (ttg siksa) dan penyampai kabar  gembira (tentang kenikmatan/balasan baik) bagi kaum yg beriman&#8221;.  Alasan di atas, bahwa hal seperti ini merupakan pola pendekatan untuk mencapai nilai yg sebenarnya (kembali kepada sejarah walisongo), Untuk zaman sekarang, hal tsb sudah kadaluwarsa. Zaman sekarang tengah barada pada tingkat teknologi canggih yakni ilmiah, rasional dan faktual. Lalu mengapa agama selalu disajikan dgn pola zaman kuda gigit besi?. Karena itu, kaum mislimin harus mengetahui, apa yg PASTI Allah kehendaki, bukan yg KALAU Allah kehendaki. Semuanya termaktub dlm Al Quran. Mari kita kaji.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: saomii</title>
		<link>http://www.kisah.web.id/tokoh-islam/sayyid-abdullah-al-haddad-1044-1132-h.html/comment-page-1#comment-449</link>
		<dc:creator>saomii</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 01:08:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.kisah.web.id/2007/06/23/sayyid-abdullah-al-haddad-1044-1132-h.html#comment-449</guid>
		<description>gtu ya cra supaya jadi org sukses??????????</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>gtu ya cra supaya jadi org sukses??????????</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

