Panduan Adab untuk Guru Dan Santri


Loss of adab, seperti menjadi ‘hantu’ buat para guru dan orangtua. Adab sekaligus akhlaq tak bisa ditegakkan dalam ruang hidup pembelajaran bersama para ahli ilmu. Pun demikian juga, orangtua serba kesulitan juga untuk menegakkan adab anak di lingkungan rumah maupun di sekitar masyarakat. Hal ini terasa dan bisa dirasakan manakala iman pada seseorang tak teguh dan kokoh.

 

Adab memberikan kenyamanan dalam sirkulasi proses kehidupan di ruang manapun, jika iman dalam dadanya kokoh. Namun sebaliknya, tatkala iman itu lemah, maka struktur adab pun akan melepuh lemah tak berdaya. Hilang akhlak dan sopan santun, serta hikmah dalam kehidupan.

 

Suatu saat Imam Syafii ditanya. Bagaimana minat Anda terhadap adab? Imam Syafii menjawab, mendengar satu huruf dari masalah adab yang belum pernah aku dengar sebelumnya, menjadi aku berangan-angan seandainya semua anggota tubuhku memiliki pendengaran sehingga dapat menikmatinya. Beliau juga ditanya, “ Bagaimana usaha Anda untuk meraihnya?” Sang Imam menjawab, “Layaknya semangat pencarian seorang ibu yang kehlangan anak satu-satunya.” Sepeti mejadi wajar jika hal ini disampaikan Imam Syafii, apalagi kalau merujuk firman Allah dalam surat Al Qolam ayat 4, “ Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

 

Keluhuran adab harus sejalan dengan iman dan orang-orang berilmu. Karena dengan ilmu dan adab yang didapat maka amal yang disosialisasikan pun menjadi kokoh. Seperti halnya ulama Ibnu Sirin berkata, “Para ulama terdahulu mempelajari adab sebagaimana mempelajari ilmu.” Dan AL Hasan berkata, “Sungguh, untuk menguasai adab, seseorang perlu mempelajari bertahun-tahun. Bahkan Sufyan bin Uyainah menjelaskan bahwa, “Rsulullah merupakan barometer paling utama. Kepada beliaulah segala hal di takar, yaitu akhlak, perangai dan petujuk beliau. Apa yang sesuai dengannya itulah kebenaran. Dan apa yang meneyelisihinya maka itulah kebatilan.”

 

 

Ilmu dan orang yang berilmu

Ali bin Abi Tholib berkata, “Cukuplah menunjukkan kemuliaan ilmu bahwa orang yang tidak menguasainya kadang mengklaimnya dan merasa senang jika ilmu dinisbatkan kepadanya. Dan cukuplah menjadi pertanda buruknya kebodohan bahwa orang bodoh pun menolak jika dirinya dinisbatkan kepadanya.” Jadi sebaik-baiknya karunia adalah akal dan seburuk-buruknya musibah adalah kebodohan. Oleh karena itu, ilmu bagi manusia bisa mengantarkan dirinya bermartabat. Tetapi tatkala ilmu itu tidak dilandasi iman dan adab, maka kesombongan dan martabat ilmu dan penuntut ilmunya pun menjadi lemah. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firmannya dalam surat Az Zumar 9, “Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui…”

 

Menjadi sangat tegaslah martabat penuntut ilmu dan kokohnya ilmu yang dilanasi dengan iman dan adab. Sebagaimana disampaikan dalam hadir riwayat Abu Dawud no 3641, dan At Tirmidzi no. 2682, “Barag siapa meniti  jalan untuk menuntut ilmu, akan dipermudah baginya jalan ke surga. Sungguh, para malaikat merendahkan sayapnya kepada para penuntut ilmu karena keridhaan Allah kepada mereka. Orang yang berilmu akan dimintakan ampunoleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yan berada di dasar laut. Kelebihan seorang alim disbanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi, sedangkan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak.”

 

Jadi sangatlah engkap dalam buku ini uraian tentang korelasi iman, adab dan ilmu. Sudah saatnya bagi penuntut ilmu untuk membaca buku ini sebagai landasan berpikir dan bertindak sebagai penuntut ilmu. Adapun bagi guru, buku ini bisa dijadikan acuan sekaligus panduan, bagaimana semestinya menyampaikan ilmu dilandasi dengan adab. Dan tentu kita berharap antara adab dan ilmu bisa diamalkan sesuai dengan harapan yang bisa menumbuhkan memperkokoh keimanan. */Akbar Muzakki, Suara Hidayatullah

 

Judul Buku               : Adab Fondasi Ilmu

Penulis                      : Ibnu Jama’ah

Penerbit                    : Taujih, Sukoharjo

Cetakan                     : Januari 2022

Tebal                          : 316 Halaman

Rep: Akbar Muzakki
Editor: –





SUMBER BERITA

Lebih baru Lebih lama