14. Badai Kegelisahan
Tiga hari berturut-turut aku shalat istikharah. Yang terbayang adalah wajah ibu yang semakin menua. Sudah tujuh tahun lebih aku tidak berjumpa dengannya. Oh ibu, jika engkau adalah matahari, aku tak ingin datang malam hari. Jika engkau adalah embun, aku ingin selalu pagi hari. Ibu, durhakalah aku, ...
Sumayyah binti Khayyat
Dialah Sumayyah binti Khayyat, hamba sahaya dari Abu Hudzaifah bin Mughiroh. Beliau dinikahi oleh Yasir, seorang pendatang yang kemudian menetap di Mekkah sehingga tidak ada kabilah yang dapat membela, menolak dan mencegah kezaliman atas dirinya, karena dia hidup sebatang kara. Posisinya menjadi sulit dibawah naungan aturan yang berlaku pada masa Jahiliyah.
Suhail Bin ‘Amar
Tatkala ia Jatuh menjadi tawanan Muslimin di perang Badar, Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anhu mendekati Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam katanya: -- 'Wahai Rasulullah ...,biarkan saya cabut dua buah gigi muka Suheil bin 'Amar hingga ia tidak dapat berpidato menjelekkan anda lagi setelah hari ini ... !"ยท
Shuhaib Bin Sinan
Ia dilahirkan dalam lingkungan kesenangan dan kemewahan .... Bapaknya menjadi hakim dan walikota "Ubuilah" sebagai pejabat yang diangkat oleh Kisra atau maharaja Persi. Mereka adalah orang-orang Arab yang pindah ke Irak, jauh sebelum datangnya Agama Islam. Dan di istananya yang terletak di pinggir sungai Efrat ke arah hilir "Jazirah" dan ''Mosul", anak itu hidup dalam ...
5. Pertemuan di Tahrir
Jam 10.10 aku sampai di mahattah metro bawah tanah Maydan Tahrir. Sesuai dengan janji, kami akan bertemu di jalur metro menuju Giza Suburban. Tempatnya lebih nyaman. Lebih indah. Aku mencari tempat duduk yang paling mudah dilihat. Janjinya tepat setengah sebelas. Aku datang dua puluh menit lebih awal. Sambil menunggu aku ...
28. Sidang Penentuan
Sidang penentuan itu pun datang. Amru dan Magdi datang dengan wajah tenang. Syaikh Ahmad dan isterinya juga datang. Orang-orang Indonesia di Mesir banyak yang datang. Namun Maria, dan Aisha belum juga datang. Sudah dua puluh menit menunggu mereka belum juga kelihatan. Noura dan keluarganya beberapa kali memandangku dengan pandangan yang merendahkan. Apapun yang akan terjadi ...
Periuk Beranak
Nasrudin meminjam periuk kepada tetangganya. Seminggu kemudian, ia mengembalikannya dengan menyertakan juga periuk kecil di sampingnya. Tetangganya heran dan bertanya mengenai periuk kecil itu.
"Periukmu sedang hamil waktu kupinjam. Dua hari kemudian ia melahirkan bayinya dengan selamat."
Tetangganya itu menerimanya dengan senang. Nasrudin pun pulang.
Beberapa hari kemudian, Nasrudin meminjam kembali periuk itu. Namun kali ini ia pura-pura ...
Shaykh ‘Abdullaah Ibn Hasan al-Qu’ood
He was born on the 17th night of Ramadhaan in 1343 A.H./1922 C.E. in the town of al-'Areeq which is known as Waadee Hu'aam, which happens to be one of the Waadee's of Yamaamah.
He was brought up by his noble parents in affluent surroundings. He studied the basics of reading and writing from the Mushaf ...
Shaykh ‘Abdul-’Azeez Ibn ‘Abdullaah Aal ash-Shaykh
He is the noble Shaykh 'Abdul-'Azeez Ibn 'Abdullaah Ibn Muhammad Ibn 'Abdul-Lateef Aal ash-Shaykh. He was born in Riyadh in 1362 A.H./1941 C.E., and since his birth he suffered from weak eyesight, until he lost his sight altogether in 1381 A.H./1960 C.E.
Gossip
A man said to Nasrudin, 'Mulla, your wife is a terrible gossip. She visits everyone in town and gossips all the time.'
'I don't believe that -- otherwise she would surely have dropped in on me from time to time and gossiped -- and she has never done that!'
Al Buwaithi (wafat 231H)
Nama iengkap beliau adalah Abu Ya'kub Yusuf bin Yahya al Buwaithi, lahir di desa Buwaith (Mesir) wafat 231 H.
Beliau ini adalah murid langsung dari Imam Syafi'i Rhl sederajat dengan Ar Rabi'i bin Sulaiman al Muradi.
Imam Syafi'i berkata: "Tidak seorang juga yang lebih berhak atas kedudukanku melebihi dari Yusuf bin Yahya al Buwaithi", dan Imam Syafi'i ...
Itik Berkaki Satu
Sekali lagi Nasrudin diundang Timur Lenk. Nasrudin ingin membawa buah tangan berupa itik panggang. Sayang sekali, itik itu telah dimakan Nasrudin sebuah kakinya pagi itu. Setelah berpikir-pikir, akhirnya Nasrudin membawa juga itik panggang berkaki satu itu menghadap Timur Lenk.
Seperti yang kita harapkan, Timur Lenk bertanya pada Nasrudin, "Mengapa itik panggang ini hanya berkaki satu, Mullah ...
Membalik Logika
Seorang yang filosof dogmatis sedang meyampaikan ceramah. Nasrudin mengamati bahwa jalan pikiran sang filosof terkotak-kotak, dan sering menggunakan aspek intelektual yang tidak realistis. Setiap masalah didiskusikan dengan menyitir buku-buku dan kisah-kisah klasik, dianalogikan dengan cara yang tidak semestinya.
Akhirnya, sang penceramah mengacungkan buku hasil karyanya sendiri. nasrudin segera mengacungkan tangan untuk menerimanya pertama kali. Sambil memegangnya ...
Tidak Terlalu Dalam
Telah berulang kali Nasrudin mendatangi seorang hakim untuk mengurus suatu perjanjian. Hakim di desanya selalu mengatakan tidak punya waktu untuk menandatangani perjanjian itu. Keadaan ini selalu berulang sehingga Nasrudin menyimpulkan bahwa si hakim minta disogok. Tapi -- kita tahu -- menyogok itu diharamkan. Maka Nasrudin memutuskan untuk melemparkan keputusan ke si hakim sendiri.
Nasrudin menyiapkan sebuah ...
