Ketika Hati Berdesir-desir

 



Tak terasa sudah memasuki pertengahan September. Suhu musim panas mulai turun. Paling tinggi 32 derajat Celcius. Bulan Oktober nanti adalah bulan peralihan dari musim panas ke musim dingin. Si Musthafa Fathullah Said, teman Mesir satu kelas di pascasarjana yang juga sedang mengajukan proposal tesis, memberitahukan bahwa dua hari lagi aku harus ke kampus untuk ujian proposal tesis yang kuajukan. Aku terfokus pada ujian yang sangat menentukan itu. Jika proposalku ditolak maka aku harus menunggu setengah tahun lagi untuk mengajukan proposal baru.

As you sow, so will you reap! Demikian pepatah Inggris mengatakan. Seperti apa yang anda tanam, sebegitu itulah yang akan anda petik. Rasanya tidak sia-sia apa yang telah kukerjakan selama ini. Membuat jadwal ketat, bolak-balik ke National Library, ke perpustakaan IIIT di Zamalek, dan mengumpulkan bahan. Membaca literatur-literatur klasik berkaitan Ilmu Quran, berdiskusi dengan teman-teman pascasarjana. Kerja yang melelahkan. Mengantuk. Pusing. Mual. Kurang tidur. Semuanya terasa bagaikan simfoni hidup yang indah setelah tim penilai yang terdiri para guru besar menerima proposal tesis yang aku ajukan.

Aku jadi menulis tentang “Metodologi Tafsir Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi.” Aku memang pengagum ulama terbesar Turki abad ke-20 itu. Dia termasuk tokoh dunia Islam yang menurut Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi layak disebut mujaddid umat Islam abad ke-20 di samping Hasan Al-Banna.

Pembimbingku juga telah ditentukan yaitu Syaikh Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja’far. Aku seperti mendapat durian runtuh sebab beliau memang profesor idolaku. Terkenal paling mudah ditemui dan paling senang dengan mahasiswa dari Asia Tenggara. Aku belum dikenal oleh beliau, tapi aku akan berusaha menjadi muridnya yang baik sehingga beliau akan mengenalku dengan baik sebagaimana Syaikh Utsman mengenalku.

Dan sebagai rasa syukur aku harus kembali memeras otak dan bekerja keras untuk menyelesaikan tesis ini. Pekerjaan yang tidak ringan, sebab aku juga harus menerjemah. Tanpa menerjemah dari mana sumber penghidupan akan aku dapatkan.

Aku kembali menata peta hidup dua tahun ke depan. Aku teliti dan aku kalkulasi dengan seksama. Target-target dan cara pencapaiannya. Ada satu target yang masih mengganjal. Yaitu menikah. Aku mentargetkan saat menulis tesis aku harus menikah. Umurku sudah 26 tahun menginjak 27.

Aku mengkalkulasi kemampuan mencari dana setiap bulan. Sebelum menulis tesis aku sanggup merampungkan buku setebal 200–300 halaman setiap bulan. Itu berarti aku akan mendapat masukan sekitar 250 dolar per bulan. Dan aku hanya bisa menyisakan 100 dolar dan terkadang malah cuma 50 dolar. Setiap kali masuk toko buku aku tidak bisa menahan diri untuk membeli buku atau kitab.

Ketika konsentrasiku terpusat pada menulis tesis maka kemampuanku menerjemah akan berkurang. Mungkin aku hanya akan mampu menerjemah 150–200 halaman saja per bulan. Uang yang aku terima dari bayaran menerjemah hanya cukup untuk memenuhi biaya sehari-hari.

Bagaimana? Apakah akan tetap nekat menikah?

Tunggu dulu. Bang Aziz yang mengais nafkah dengan membuat tempe dan mendistribusikannya ke rumah-rumah mahasiswa itu berani menikah. Bang Aziz bercerita dengan pemasukan 150 dolar per bulan sudah berani menikah. Hidup sederhana dan menyewa rumah sederhana di kawasan Hayyu Thamin, atau jauh di Zahra sana.

Apalagi jika mencari istri mahasiswi yang kebetulan dapat beasiswa. Meskipun beasiswa tak seberapa tapi sangat membantu karena datangnya tetap.

Akhirnya kupikir dengan matang, bahwa umur tidak bisa dihargai dengan materi. Jika menemukan perempuan shalihah dan mau menerima diriku seutuhnya dan siap hidup berjuang bersama, dalam suka dan duka, maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menyempurnakan separuh agama.

Kutatapkan tahun ini bisa menikah, tapi tidak mencari.

Lho bagaimana?

Siapa tahu ada yang menawari.

Kalau sampai selesai magister tidak ada yang menawari ya berarti memang nasibku tidak menikah di Cairo dengan mahasiswi Al-Azhar. Mungkin nasibku adalah menikah di Indonesia, dengan seorang akhwat berjilbab yang ghirah keislamannya bagus, yang ada di UI, atau di UGM, atau di UNDIP, atau di UNS.

Atau malah gadis dari pesantren yang masih sangat suci. Atau, tak tahunya anak tetangga sendiri, teman gebyuran di sungai waktu kecil. Jadi tidak asing lagi, sejak kecil sudah sama-sama tahu.

Aku jadi teringat puisiku sendiri, yang kutulis jelek sekali di buku harian suatu malam di musim semi setahun yang lalu:

Bidadariku

Namamu tak terukir
Dalam catatan harianku

Asal usulmu tak hadir
Dalam diskusi kehidupanku

Wajah wujudmu tak terlukis
Dalam sketsa mimpi-mimpiku

Indah suaramu tak terekam
Dalam pita batinku

Namun kau hidup mengaliri
Pori-pori cinta dan semangatku

Sebab kau adalah hadiah agung
Dari Tuhan untukku

Bidadariku.

Seorang perempuan shalihah yang akan jadi bidadariku, yang akan aku cintai sepenuh hati dalam hidup dan mati, yang akan aku harapkan jadi teman perjuangan merenda masa depan dan menapaki jalan Ilahi, itu siapa?

Aku tak tahu.

Ia masih berada dalam alam ghaib yang belum dibukakan oleh Tuhan untukku. Jika waktunya tiba semuanya akan terang. Hadiah agung dari Tuhan itu akan datang.


Di layar TV Channel 2 ada pengumuman nama-nama orang hilang, lengkap dengan data singkat, ciri-ciri, dan fotonya. Nama yang terakhir ditampilkan adalah Noura binti Bahadur Gonzouri, lengkap dengan fotonya.

Saat itu pukul setengah sepuluh malam.

Kami satu rumah kaget.

Si Muka Dingin Bahadur rupanya masih mencari Noura untuk ia jual kepada serigala-serigala berwajah manusia. Kami satu rumah cemas jika urusannya akan sampai kepada polisi dan menyeret Syaikh Ahmad.

Jika Si Muka Dingin Bahadur punya hubungan dengan seorang pembesar di bagian intelijen keamanan negara urusannya benar-benar bisa merepotkan.

Saat itu juga aku menelpon Syaikh Ahmad.

Beliau minta aku tenang saja dan tidak usah khawatir. Noura sedang berada di pintu gerbang kemerdekaan dan kebahagiaannya. Besok pagi setelah shalat Subuh beliau akan menjelaskan semuanya.

Usai shalat Subuh, Syaikh Ahmad menjelaskan kepadaku bahwa masalah Noura sedang ditangani diam-diam oleh Ridha Shahata, saudara sepupunya yang bertugas di bagian intelijen keamanan negara.

Ridha Shahata menemukan informasi berharga bahwa Noura dilahirkan di sebuah rumah sakit elite di kawasan elite Heliopolis. Pada minggu yang sama Noura dilahirkan hanya ada lima bayi. Dan pada hari yang sama Noura lahir cuma ada dua bayi di sana. Yaitu dia dan bayi satunya bernama Nadia.

Setelah dilacak, Nadia kini tinggal di Heliopolis. Ayah dan ibunya dosen di Universitas Ains Syams. Yang sedikit aneh Nadia berkulit hitam sementara ayah dan ibunya berkulit putih.

Kolonel Ridha Shahata sedang menyiapkan surat pemanggilan untuk tes DNA pada Si Muka Dingin Bahadur dan isterinya. Juga pada Nadia dan kedua orang tuanya. Sebab memang sangat mencurigakan dua bayi itu tertukar.

Jika benar tertukar nanti akan dicari siapa saja perawat yang bertugas waktu itu. Tertukarnya sengaja atau tidak. Tes DNA itulah yang akan jadi bukti kuat kejelasan kasus Noura.

Namun seandainya tidak terbukti ada pertukaran bayi, Noura akan tetap dilindungi. Kolonel Ridha Shahata juga telah menyiapkan bukti untuk menyeret Si Muka Dingin Bahadur ke penjara.

Kolonel Ridha Shahata adalah intelijen yang sangat profesional. Dia pernah menangkap seorang turis Spanyol yang ternyata adalah mata-mata Mossad.

Syaikh Ahmad meminta saya tenang.

Wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja.

Siapa yang bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan untuknya jalan keluar.

Aku lega.

Begitu sampai di rumah, aku mendapat telepon dari Nurul. Ia rupanya juga melihat tayangan nama orang hilang tadi malam. Ia cemas kalau Noura tertangkap dan urusannya melebar.

Aku lalu menjelaskan apa yang dijelaskan Syaikh Ahmad kepadaku. Nurul merasa lega.

Sebelum mengakhiri pembicaraannya dia bertanya apakah aku sudah ke tempatnya Ustadz Jalal. Kubilang sejak sakit aku belum ke mana-mana. Aku minta pada Nurul agar menyampaikan pada Ustadz Jalal permohonan maafku belum bisa ke sana.

Dan aku titip pesan seandainya beliau ada waktu supaya menghubungi aku langsung. Biar aku tahu sebenarnya beliau mau minta tolong apa.

Aku juga menjelaskan pada Nurul saat ini sudah konsentrasi menulis tesis. Alhamdulillah judul tesisnya sudah diterima. Nurul menyatakan rasa gembira dan senangnya.


Aku teringat ini hari Ahad. Sudah lama aku tidak mengaji pada Syaikh Utsman. Aku benar-benar rindu pada beliau.

Ramalan cuaca siang ini Cairo tidak terlalu panas. Hanya 30 derajat Celcius.

Aku berangkat setengah sebelas. Aku ingin shalat Zhuhur di Shubra.

Baru keluar sampai di halaman apartemen, aku dicegah oleh Maria dari atas, dari jendelanya. Dia minta agar aku tidak pergi dulu, di rumah dulu. Aku heran apa haknya melarang aku.

Aku jelaskan padanya aku harus belajar qiraah sab’ah.

Akhirnya dia menyuruh adiknya, Si Yousef, untuk mengantar aku ke tempat aku ngaji.

Aku merasa heran dengan diri sendiri. Keluarga Tuan Boutros begitu baik dan besar perhatiannya kepada kami.

Hari itu Yousef mengantar aku sampai di depan Masjid Abu Bakar Shiddiq, Shubra. Ia juga berjanji akan menjemputku pukul setengah lima sore. Aku mengucapkan terima kasih padanya.

Syaikh Utsman dan teman-teman menyambutku dengan penuh kehangatan. Kami mempraktikkan qiraah Imam Warasy dengan membaca surat Al-Mujadilah, Al-Hasyr, Al-Mumtahanah, Ash-Shaf, dan Al-Jumu’ah.

Selesai mengaji Syaikh Utsman mengajakku masuk ke kamar beliau yang khusus disediakan oleh takmir masjid. Beliau ingin berbicara masalah khusus.

“Anakku, kau sudah sehat betul?” tanya beliau lembut.

“Alhamdulillah, Syaikh,” jawabku dengan menundukkan kepala. Aku tidak berani memandang beliau. Segan.

“Alhamdulillah. Terus bagaimana dengan kuliahmu?”

“Alhamdulillah. Judul tesis magister sudah diterima, Syaikh. Sekarang sedang mengumpulkan bahan lebih lengkap untuk menulis.”

“Alhamdulillah. Kau menulis tentang apa?”

“Metodologi Tafsir Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi.”

“Bagus sekali. Said An-Nursi memang ulama luar biasa yang harus dikaji kelebihan yang diberikan Allah kepadanya. Lantas siapa pembimbingmu?”

“Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja’far.”

“Yang tinggal di dekat Masjid Rab’ah El-Adawea, Nasr City itu?”

“Benar, Syaikh.”

“Alhamdulillah. Kau insya Allah akan mendapat bimbingan dan kemudahan dari beliau. Beliau adalah salah seorang muridku angkatan pertama. Beliau mengambil sanad dan ijazah qiraah sab’ah dariku. Nanti akan aku telpon beliau agar memberikan bimbingan terbaik kepadamu. Dan agar kamu benar-benar menjadi pembela dan penyebar agama Allah di tanah airmu kelak.”

Suara Syaikh Utsman bernada optimis dan bahagia.

Diam-diam aku sangat kagum pada beliau yang sangat memperhatikan semua muridnya. Beliau memang tidak mau mengambil murid terlalu banyak. Tapi yang sedikit itu benar-benar beliau curahi perhatian yang luar biasa.

“Anakku. Aku mau bertanya masalah penting padamu. Apakah kau mau menikah?”

Pertanyaan Syaikh Utsman itu bagaikan guntur yang menyambar gendang telingaku. Aku kaget. Hatiku bergetar hebat.

Jika yang bertanya orang semacam Rudi, Hamdi, dan Saiful aku akan menjawabnya dengan santai, bahkan aku bisa menjawabnya dengan guyon.

Tapi ini yang bertanya adalah ulama terkemuka, gurunya para guru besar di Mesir.

“Maksud Syaikh bagaimana?”

“Apakah kau mau menikah dalam waktu dekat ini. Kalau mau, kebetulan ada orang shalih datang kepadaku. Ia memiliki keponakan yang shalihah yang baik agamanya dan minta dicarikan pasangan yang tepat untuk keponakannya itu. Aku melihat kau adalah pasangan yang tepat untuknya.”

Keringat dinginku keluar.

“Tapi aku mahasiswa miskin, Syaikh. Tidak punya biaya.”

“Baginda Nabi dulu menikah dalam keadaan miskin. Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga menikah dalam keadaan miskin. Aku sendiri menikah dalam keadaan miskin.

Begini Anakku, kau pikirkanlah dengan matang. Lakukanlah shalat istikharah. Gadis shalihah ini benar-benar shalihah. Dia mencari pemuda yang shalih, bukan pemuda yang kaya.

Sekarang pulanglah. Pikirkan dengan matang. Jika kau mantap dengan jawabanmu siap menikah atau tidak, secepatnya datanglah kau menemuiku.

Jika kau mantap, maka akan aku pertemukan kau dengan walinya dahulu. Jika tidak, maka aku akan mencarikan yang lain.”

Kata-kata Syaikh Utsman yang berwibawa itu merasuk dan mendesir hebat dalam jiwaku.

Sampai di rumah hatiku masih terasa bergetar atas pertanyaan sakral yang diajukan Syaikh Utsman. Jiwaku masih terasa berdesir.

Apa yang beliau tawarkan bukan sembarang tawaran. Yang beliau tawarkan adalah sebaik-baik rezeki bagi seorang pemuda.

Adakah rezeki lebih agung dari seorang gadis shalihah yang jika dipandang menyejukkan jiwa bagi seorang pemuda?

Aku belum bisa mempercayai apa yang aku alami hari ini.

Baru saja target dan peta hidup dibuat, tawaran untuk menikah datang sedemikian cepat.

Siap… atau tidak?

Aku harus minta penerang dari Allah Swt.

Siapa Malaikat Itu?

 


Wajah itu Nurul. Ya, Nurul. Ketika aku terbangun dari ketidaksadaran, aku melihatnya tidak jauh dari kakiku bersama teman-temannya. Kulihat sekilas wajahnya sendu. Ada juga ketua dan pengurus PPMI, Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia. Saiful duduk di dekat kepalaku. Ia paling dekat denganku. Tangannya mengusap pipiku yang basah.


“Alhamdulillah, Mas Fahri sadar.” Aku mendengar mereka memuji Allah.


“Sabar Mas ya? Insya Allah segera sembuh,” lirih Saiful dengan mata berkaca-kaca.


“Aku sakit apa katanya, Saif?”


“Dokter belum menjelaskannya, Mas.”


Zaimul Abrar, Ketua PPMI, mendekat, mendoakan, dan atas nama seluruh mahasiswa ikut merasa sedih atas sakit yang menimpaku. Lalu gantian Nurul mewakili teman-temannya. Ketika dekat denganku, ia menatap dengan penuh iba dan sorot mata yang aku tidak tahu maknanya. Kedua matanya berkaca-kaca dan sendu.


“Cepat sembuh Kak. Cepat selesaikan masternya dan cepat mengabdi di tanah air tercinta,” katanya terbata-bata.


Aku mendengarnya dengan sesekali memejamkan mata.


“Mas, kami pamit. Kami sudah lama di sini. Syafakallah!” ucap Zaim.


“Kami juga minta diri Kak,” ikut Nurul.


Mereka pun pulang. Aku merasa wujudku benar-benar ada dan berarti. Aku merasa diperhatikan, disayang, dan dicintai semua orang.


Dua menit setelah mereka keluar, Syaikh Ahmad datang bersama Ummu Aiman. Syaikh Ahmad berusaha tersenyum padaku. Beliau memelukku pelan sambil mendoakan kesembuhanku. Ia tahu aku sakit dari Mishbah yang ketika shalat subuh mengabarkan padanya. Syaikh Ahmad memberikan sedikit tadzkirah yang membesarkan hatiku dan menguatkan jiwaku.


“Pintu-pintu surga terbuka lebar untuk orang yang sabar menerima ujian dari Allah.”


Syaikh Ahmad tidak lama berada di sisiku. Tak lebih dari seperempat jam. Setelah itu beliau pamit. Beliau membawa dua kilo anggur yang sangat segar.



---


Menjelang maghrib Dokter Ramzi Shakir memberi tahu setelah melihat hasil foto rontgen kepalaku bahwa aku harus dioperasi. Ada gumpalan darah beku yang harus dikeluarkan. Rencananya operasi besok pagi pukul delapan. Aku diminta untuk puasa malam ini. Aku mungkin akan tinggal di rumah sakit sekitar satu bulan lamanya.


Aku menitikkan air mata.


Saiful dan Mishbah menghibur, meskipun kulihat mereka berdua juga menitikkan air mata.


Menjelang Isya, Syaikh Utsman Abdul Fattah benar-benar datang bersama beberapa teman Mesir yang mengaji qiraah sab’ah pada beliau. Syaikh Utsman mengusap kepalaku, persis seperti ayahku mengusap kepalaku. Beliau tersenyum padaku.


Beliau meminta kepada semuanya untuk keluar sebentar. Beliau ingin berbicara hanya berdua denganku. Saiful, Mishbah, dan teman-teman Mesir keluar meninggalkan kami.


Syaikh Utsman duduk di kursi dekat dadaku.


Sambil mengelus rambut kepalaku beliau berkata,


“Anakku, ceritakan padaku apa yang dilakukan sahabat Nabi yang mulia, Abdullah bin Mas’ud padamu?”


Aku kaget bukan main. Bagaimana Syaikh Utsman tahu kalau aku bertemu sahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud dalam pingsanku?


“Tadi malam jam tiga saat aku tidur setelah tahajud aku didatangi Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu. Aku hanya sempat bersalaman saja. Beliau bilang akan menjengukmu sebelum aku menjengukmu.”


Syaikh Utsman seperti mengerti keherananku. Beliau menjelaskan bagaimana beliau tahu aku kedatangan Abdullah bin Mas’ud.


“Bagaimana Syaikh bisa yakin aku benar-benar didatangi Abdullah bin Mas’ud?” tanyaku dengan suara serak untuk lebih meyakinkan diriku.


“Seperti keyakinan Rasulullah ketika bermimpi akan berhaji dan membuka kota Makkah.”


Jawaban singkat Syaikh Utsman menyadarkan diriku akan kekuatan mimpi orang-orang saleh yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Untung aku sudah membaca dan menelaah kitab Ar-Ruh yang ditulis oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Ulama besar itu membahas masalah ruh dengan tuntas disertai dalil-dalil yang kuat. Bahwa ruh orang yang telah wafat bisa bertemu dengan ruh orang yang masih hidup atas izin dan kekuasaan Allah.


Syaikh Utsman masih menunggu jawabanku.


“Anakku, apa yang kau dapat dari Abdullah bin Mas’ud yang mendatangimu? Ceritakanlah pelan-pelan, aku ingin tahu.”


Aku lalu menceritakan semuanya.


Syaikh Utsman menitikkan air mata dan berkata,


“Allah yubarik fik ya bunayya.”


Beliau berpesan agar aku tidak menceritakan mimpi ini kepada siapa pun kecuali orang yang bisa dipercaya. Mimpi seperti ini tidak semua orang suka mendengarnya, dan tidak semua orang mempercayainya.


Syaikh Utsman lalu mengeluarkan botol kecil dari saku jubahnya.


“Ini aku bawakan air zamzam. Tidak banyak, namun semoga bermanfaat. Minumlah dengan terlebih dahulu membaca shalawat nabi dan berdoa meminta kesembuhan dan ilmu yang bermanfaat.”


Aku belum bisa menggerakkan tanganku. Syaikh Utsman sendiri yang meminumkan air zamzam itu ke mulutku.


Beliau berpesan agar aku memperbanyak istighfar dan shalawat, mengikuti semua petunjuk dokter, serta minum obat dengan teratur.


Aku juga menceritakan semua kecemasanku tentang operasi di kepalaku. Beliau menenangkan diriku dan meminta agar besok pagi meminta dokter melakukan rontgen ulang.


Jika memang harus dioperasi, maka harus dijalani.


Beliau mencium keningku seperti seorang kakek mencium cucunya.



---


Pagi hari aku merasa badanku lebih enak. Kepalaku lebih ringan.


Jam enam pagi aku meminta Mishbah memberi tahu dokter bahwa aku ingin dirontgen ulang. Aku tidak akan menandatangani surat kesediaan operasi sebelum hasil rontgen diperiksa kembali.


Dokter Ramzi memenuhi permintaanku.


Aku dibawa ke ruang rontgen. Kepalaku difoto dalam tiga posisi. Setelah itu aku dibawa kembali ke kamar.


Pukul setengah sembilan Dokter Ramzi datang dengan wajah cerah.


Beliau berkata,


“Entah ini mukjizat atau apa, gumpalan darah beku di bawah tempurung kepalanya itu telah tiada.”


Aku diminta mencoba menggerakkan tanganku. Meskipun sangat pelan, aku bisa.


“Tak perlu operasi. Kau akan sembuh seperti sedia kala.”


Aku mengucapkan syukur berkali-kali kepada Allah atas anugerah ini.


Sejak itu keadaanku semakin membaik. Hari kelima aku sudah bisa bangkit dari tempat tidur. Hari kesembilan aku sudah bisa ke toilet sendiri. Hari kesebelas aku sudah bisa berjalan-jalan ke taman.


Ketika hendak pulang dari rumah sakit, Saiful mengurus administrasi.


Ia kembali dengan wajah heran.


“Mas, biayanya semua sudah dilunasi seseorang.”


“Siapa yang melunasinya?”


“Pihak rumah sakit tidak mau menyebutkan namanya.”


Aku mencoba menanyakan kepada Tuan Boutros dan keluarganya, namun mereka mengatakan bukan mereka yang membayar.


“Semoga Allah membalas dia dengan pahala yang tiada hentinya,” lirihku.



---


Sejak pulang dari rumah sakit, aku sering memikirkan siapa sebenarnya orang yang melunasi seluruh biaya perawatanku.


Teman-teman mencoba menebak.


Ada yang menduga Syaikh Utsman. Ada yang menduga Syaikh Ahmad. Ada pula yang menduga pihak KBRI.


Namun entah mengapa, mata hatiku berkata bahwa orang itu bukan mereka.


Orang itu adalah seseorang yang berhati ikhlas, mengenalku, sangat perhatian padaku, namun aku tidak tahu siapa dia.


Aku hanya bisa berdoa agar suatu hari Allah membuka rahasia itu.


Agar aku tahu siapa sebenarnya malaikat yang telah menolongku.

Dijenguk Sahabat Nabi


Kepada Syaikh Ahmad aku berikan surat Noura untuk beliau baca. Jamaah shalat Subuh sudah banyak yang pulang, kecuali beberapa kakek-kakek yang beri’tikaf dan membaca Al-Qur’an menunggu sampai waktu dhuha tiba.


Aku diajak Syaikh Ahmad masuk ke dalam kamar imam. Aku memohon kepada beliau untuk memperlakukan gadis itu dengan lebih baik dan bijak. Aku memohon agar gadis itu jangan dicela atas apa yang ditulis dan dilakukannya. Gadis itu memang sedikit berbohong ketika mengatakan surat itu hanya ucapan terima kasih semata. Gadis itu perlu dikokohkan semangat hidupnya dan diyakinkan bahwa ia tidak akan mendapatkan perlakuan buruk lagi. Ia akan aman di Mesir.


Syaikh Ahmad membaca surat itu dan menitikkan air mata.


“Akan aku minta kepada Ummu Aiman untuk mencurahkan perhatian yang lebih padanya. Dia memang memerlukan rasa aman dan kasih sayang yang selama ini hilang. Dan dia sepertinya belum merasa yakin akan mendapatkannya di sini.”


Syaikh Ahmad berjanji akan menyelesaikan masalah Noura sebaik-baiknya dan meminta diriku agar tidak terganggu serta tetap berkonsentrasi pada tesis. Surat Noura itu pun aku serahkan sepenuhnya kepada beliau. Aku tidak ingin menyimpannya. Setelah itu aku pulang.


Sampai di rumah aku membaca Al-Qur’an satu halaman. Aku ingin memejamkan mata setengah jam saja. Aku berpesan kepada Saiful agar membangunkanku sampai benar-benar bangun pada pukul setengah tujuh.


Pukul setengah tujuh aku dibangunkan. Kerikil di mata belum sepenuhnya hilang. Aku mandi. Sarapan belum jadi. Aku mempersiapkan segala sesuatu untuk pergi: jawaban untuk Alicia, proposal tesis, dan disket berisi naskah terjemahan.


Karena perjalanan panjang, aku harus berangkat pagi.


Di metro aku tidak mendapat tempat duduk. Metro penuh oleh orang-orang yang berangkat kerja. Turun di Tahrir aku langsung mencari Eltramco menuju Hayyu Sabe. Tujuanku adalah @lfenia, warnet yang dikelola teman-teman mahasiswa dari Indonesia.


Pukul delapan aku sampai di sana dan bertemu Furqon, penjaga warnet yang sudah seperti saudara sendiri.


Furqon memelukku.


“Pucat sekali sampean, Mas. Begadang ya?”


Aku mengangguk.


Furqon mempersilakan aku memilih sendiri tempat yang kuinginkan. Hanya ada tiga orang yang sedang berlayar di dunia maya. Aku memilih komputer yang paling dekat dari tempatku berdiri.


Aku membuka Yahoo Mail, mengirim naskah terjemahan dengan lampiran, membuka beberapa pesan di milis Mutarjim, Qahwaji, dan Indonesia Cinta Damai. Aku juga melihat berita dari Ahram, Time, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka, dan Islam Online.


Satu jam aku berada di @lfenia.


Furqon menyuguhkan segelas teh Arousa—teh paling merakyat di Mesir. Jika dibuat kental dan diminum selagi hangat, sruput demi sruputnya mampu meringankan kepala yang berat dan menyegarkan pikiran.


Dari @lfenia aku langsung naik bus 926 menuju kampus Al-Azhar di Maydan Husein. Aku menyerahkan proposal tesis kepada bagian Syuun Thullab Dirasat Ulya Fakultas Ushuluddin.


Aku merasa akan terlambat sampai di National Library. Aku menghubungi Aisha untuk memberitahukan posisiku dan meminta mereka menunggu jika aku terlambat.


Benar saja, aku terlambat sepuluh menit.


Aku meminta maaf dan mengeluarkan jawaban atas pertanyaan Alicia yang telah kujilid.


“Semua pertanyaan tentang perempuan dalam Islam saya jawab dalam empat puluh halaman. Pertanyaan lainnya saya jawab dengan menerjemahkan buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Abdul Wadud Shalabi.”


Alicia dan Aisha berdecak kaget sekaligus gembira atas keseriusanku.


Aku menjelaskan bahwa yang sebenarnya menerjemahkan buku Prof. Shalabi ke dalam bahasa Inggris adalah orang lain. Peranku hanya membaca ulang, mengoreksi, menerjemahkan hadis, dan melengkapi terjemahan Al-Qur’an yang ditinggalkan Maria. Korektor akhir semuanya adalah Syaikh Ahmad Taqiyyuddin.


Kami berdiskusi selama dua setengah jam.


Saat diskusi berlangsung aku mulai merasakan tubuh meriang. Kepalaku berat, tetapi aku menahannya.


Alicia meminta data diri dan alamat lengkapku. Dua hari lagi ia berencana kembali ke Amerika. Aisha berkata suatu saat nanti ia ingin berdiskusi lagi denganku.


Kami pun berpisah.


Di luar gedung, terik panas benar-benar menggila. Aku naik metro. Sampai di Maadi pukul setengah tiga. Aku belum shalat, sehingga aku turun untuk shalat di masjid di luar stasiun.


Perjalanan kulanjutkan.


Ubun-ubun kepalaku terasa sangat nyeri. Di Tura El-Esmen badai panas bergulung menebar debu ke dalam metro. Sangat tidak nyaman.


Turun di Hadayek Helwan aku merasa tidak kuat berjalan menuju apartemen. Aku memanggil taksi.


Kepalaku nyeri sekali. Tubuh terasa remuk. Aku baru sadar bahwa sejak pagi aku belum sarapan.


Sampai di halaman apartemen aku sempat melihat jam tangan. Pukul tiga lewat lima belas menit.


Kepalaku seperti ditusuk tombak berkarat. Sangat sakit.


Begitu membuka pintu rumah aku merasa tidak kuat melangkahkan kaki. Kepala terasa seperti dihantam palu godam. Mataku menangkap kilatan cahaya putih, lalu semuanya gelap.



---


Dalam keremangan aku melihat cahaya. Perlahan aku membuka mata. Langit-langit berwarna putih. Bukan langit-langit kamarku yang biru muda.


Kepalaku masih berat.


“Alhamdulillah. Kau sudah tersadar, Mas,” suara Saiful serak.


“Aku... di mana?” lidahku terasa kelu.


“Di rumah sakit, Mas.”


“Kenapa?”


“Sudah, istirahat dulu. Jangan memikirkan apa-apa.”


Kepalaku kembali terasa nyeri. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi. Perjalanan melelahkan, panas, perut kosong, lalu pingsan di pintu rumah.


“Jam berapa?” tanyaku.


“Setengah tiga malam.”


Aku teringat belum shalat Ashar, Maghrib, dan Isya. Aku mencoba bangkit, tetapi tubuh terasa lumpuh. Kepalaku tiba-tiba sangat sakit.


“Aduh! Astaghfirullah!”


Semuanya kembali gelap.



---


Dalam kegelapan aku mendengar suara Syaikh Utsman Abdul Fattah.


“Fahri, baca surat Al-Anbiya.”


Aku membaca.


“Teruskan surat Al-Hajj dengan qiraah Imam Warasy.”


Aku membaca hingga selesai.


Lalu semuanya gelap kembali.


Aku mendengar Syaikh Utsman membaca surat Al-Furqan dengan qiraah Imam Hamzah. Pada ayat enam puluh lima beliau menangis tersedu-sedu. Aku ikut menangis dan melanjutkan bacaan itu.


Kemudian beliau memintaku membaca surat Asy-Syu’ara.


Saat membaca sampai ayat seratus delapan puluh empat, aku mendengar isak tangis sayup-sayup. Ada sentuhan lembut di pipiku.


Aku membuka mata.


“Fahri, kau sudah sadar,” suara perempuan lembut.


Aku melihat wajah putih bersih.


“Maria?”


“Ya, aku Maria.”


Matanya berkaca-kaca.


“Kau menangis?”


“Kau membuatku menangis, Fahri. Kau mengigau membaca ayat-ayat suci. Wajahmu pucat dan air matamu terus mengalir.”


Aku melihat infus di tangan kiriku.


Kepalaku kembali terasa sakit.


Dokter datang, memeriksa, lalu menyuntikkan obat melalui infus.


“Ini untuk meredakan rasa sakit. Kau akan cepat sembuh,” katanya.


Tak lama kemudian Saiful datang.


Ia menjelaskan semuanya: bagaimana aku pingsan, bagaimana Maria memanggil ibunya—Madame Nahed—dokter di Rumah Sakit Maadi, dan bagaimana mereka membawaku ke rumah sakit.


Setelah mendengar cerita itu aku memakluminya.



---


Ketika sadar kembali, di sekelilingku sudah ada banyak teman: Mishbah, Mas Khalid, Kang Kaji, Junaedi, Sofwan, Iswan, Khalil, Bimo, dan Chakim.


Mereka memelukku satu per satu.


“Syafakallah syifaan ‘ajilan, syifaan la yughadiru ba’dahu saqaman.”


Semoga Allah menyembuhkanmu dengan kesembuhan yang sempurna.


Aku meneteskan air mata.


Aku meminta agar sakitku ini tidak diberitahukan kepada keluarga di Indonesia.


Saat ingin buang air kecil, Mas Khalid membantuku dengan pispot. Setelah itu aku bertayamum dan shalat dengan isyarat karena tubuhku tak bisa digerakkan.


Teman-teman menemaniku sampai waktu besuk habis.


Malamnya aku kembali terlelap dalam kegelapan.



---


Dalam mimpi aku bertemu seorang lelaki kurus dengan wajah bercahaya.


Ia memperkenalkan dirinya:


“Abdullah bin Mas’ud.”


Aku terkejut.


Sahabat Nabi yang agung itu memelukku dan berkata, “Syafakallah.”


Beliau memintaku membaca surat Al-Baqarah. Aku membacanya dengan penuh kebahagiaan. Sesekali beliau membetulkan bacaanku.


Setelah selesai, beliau mencium keningku.


Aku bertanya kepadanya tentang mushaf Utsmani.


Beliau tersenyum dan berkata:


“Yang tidak mengakui mushaf Utsmani adalah orang-orang munafik dan orang-orang yang memusuhi agama Allah. Apa yang ada di dalam mushaf Utsmani dari Al-Fatihah sampai An-Naas adalah wahyu Allah yang utuh dan terjaga. Tidak berkurang dan tidak bertambah satu huruf pun. Allah sendiri yang menjaga Al-Qur’an sampai hari kiamat.”


Beliau tersenyum lagi.


Aku ingin ikut bersamanya, tetapi beliau tidak mengizinkan.


Aku hanya sempat menitipkan salam dan kerinduan kepada Rasulullah.


Sahabat Nabi itu kemudian pergi perlahan.


Semakin jauh.


Semakin kecil.


Hingga akhirnya hilang.


Mataku basah oleh air mata.

Sepucuk Surat Cinta

 


Ini malam Sabtu. Besok pagi aku harus pergi: memasukkan proposal tesis ke kampus, menemui Alicia dan Aisha di National Library, serta mengirimkan naskah terjemahan ke redaksi sebuah penerbit di Jakarta melalui email. Perjalanan yang tampaknya akan cukup melelahkan.

Semua telah siap, kecuali naskah terjemahan. Naskah itu belum selesai diedit. Aku ingin besok pagi semuanya berjalan sesuai rencana. Sekali melakukan perjalanan, banyak urusan dapat diselesaikan.

Malam ini, mau tidak mau, aku harus sedikit keras pada diriku sendiri. Aku harus bekerja dengan sabar mengedit hasil terjemahanku sampai benar-benar matang.

Untuk persiapan lembur ini, aku telah menyiapkan “doping” andalan: madu murni, susu kambing murni yang dibelikan oleh Hamdi dari para penggembala kambing yang biasa lewat di Wadi Hof, dan telur ayam kampung. Agar suasana terasa segar, aku membuka jendela dan pintu kamar lebar-lebar.

Pelan-pelan kusetel nasyid Athfal Filistin. Semangat bocah-bocah kecil Palestina yang membara, dengan celoteh mereka yang menggemaskan saat menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan intifadhah, membuat diriku bersemangat dan tidak mengantuk.

Aku sudah meminta izin kepada teman-teman untuk memutar nasyid ini sampai tengah malam. Aku meminta mereka menutup pintu kamar masing-masing agar tidak terganggu tidurnya.

Ternyata mereka malah asyik meminjam film Ashabul Kahfi dari seorang teman di Nasr City dan menontonnya di kamar Rudi. Mereka memerlukan waktu sekitar enam belas jam untuk menonton film yang dibuat oleh Iran dan Lebanon itu.

Film Ashabul Kahfi memang diputar bersambung oleh stasiun TV Lebanon selama bulan Ramadhan tahun sebelumnya. Hanya orang yang memiliki parabola yang bisa menontonnya.

Malam ini mereka menyediakan waktu khusus untuk menontonnya. Aku sendiri belum pernah menontonnya. Sebenarnya sangat ingin, tetapi apakah semua keinginan harus dipenuhi?

Menurut komentar teman-teman yang sudah menontonnya, film itu luar biasa indah, mampu menambah keimanan dan memperhalus jiwa. Semoga lain kali ada kesempatan untuk menontonnya.

Malam ini adalah malam kerja.

Sementara teman-teman seakan terbang ke zaman Ashabul Kahfi dan berdialog dengan pemuda-pemuda pilihan itu, aku justru berlayar di lautan kata-kata yang disusun Ibnu Qayyim.

Aku harus membaca dengan teliti dan mengedit tulisan sebanyak 357 halaman.

Menjelang tengah malam aku kelelahan. Aku beristirahat dengan melakukan shalat. Ketika sujud, kepala terasa nyaman. Darah mengalir ke kepala dan saraf-saraf terasa lebih segar.

Kudengar teman-teman bertasbih kagum atas apa yang mereka lihat di film itu.

Aku melemaskan otot-otot dengan menelentangkan badan di atas kasur, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Setelah itu aku bangkit hendak meneruskan pekerjaan.

Tanpa sengaja aku melihat sepucuk surat permintaan untuk mengisi pelatihan terjemah dari sebuah kelompok studi. Aku pun teringat sepucuk surat dari Noura yang masih berada di saku baju koko yang tergantung di dalam lemari.

Aku belum membacanya.

Segera kuambil surat itu dan kubaca.


Kepada
Fahri bin Abdillah,
seorang mahasiswa dari Indonesia yang lembut hatinya dan berbudi mulia

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Kepadamu kukirimkan salam terindah, salam sejahtera para penghuni surga. Salam yang harumnya melebihi kesturi, sejuknya melebihi embun pagi, hangatnya sehangat sinar mentari waktu dhuha.

Salam suci sesuci air telaga Kautsar yang jika direguk akan menghilangkan dahaga selama-lamanya. Salam penghormatan, kasih, dan cinta yang tiada pernah pudar dalam segala musim dan peristiwa.

Wahai orang yang lembut hatinya,
entah dari mana aku harus memulai menyusun kata-kata untuk mengungkapkan segala sedu sedan dan perasaan yang ada di dalam dada.

Saat kau membaca suratku ini, anggaplah aku berada di hadapanmu, menangis sambil mencium telapak kakimu sebagai ungkapan terima kasihku yang tiada taranya.

Wahai orang yang lembut hatinya,
sejak aku kehilangan rasa aman dan kasih sayang serta merasa sendirian tanpa siapa-siapa selain Allah di dalam dada, kaulah orang pertama yang datang memberikan simpatimu dan kasih sayangmu.

Aku tahu kau telah menitikkan air mata untukku ketika orang-orang lain tidak menitikkan air mata untukku.

Wahai orang yang lembut hatinya,
ketika orang-orang di sekitarku nyaris kehilangan kepekaan mereka dan masa bodoh dengan apa yang menimpa diriku karena mereka diselimuti rasa bosan dan jengkel atas kejadian yang sering berulang menimpaku, kau tidak kehilangan rasa pedulimu.

Aku tidak memintamu untuk mengakui hal itu, karena orang yang ikhlas tidak akan pernah mau mengingat kebajikan yang telah dilakukannya. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang saat ini kurasakan dalam relung jiwa.

Wahai orang yang lembut hatinya,
malam itu aku mengira aku akan menjadi gelandangan dan tidak memiliki siapa-siapa. Aku nyaris putus asa. Aku hampir saja mengetuk pintu neraka dan menjual kehormatanku karena tidak kuat lagi menahan derita.

Ketika setan hampir membalikkan keteguhan imanku, datanglah Maria menghiburku dengan kelembutan hatinya. Ia datang bagaikan malaikat Jibril yang menurunkan hujan pada ladang-ladang yang sedang sekarat menanti kematian.

Di kamar Maria aku terharu akan ketulusan dan keberaniannya. Aku ingin mencium telapak kakinya atas elusan lembut tangannya di punggungku yang sakit.

Namun apa yang terjadi, Fahri?

Maria malah menangis dan memelukku erat. Ia dengan jujur menceritakan semuanya. Ia sebenarnya tidak berani turun malam itu. Ia bahkan menutup kedua telinganya dari keributan yang ditimbulkan oleh ayahku yang kejam.

Tetapi kemudian datang permintaanmu melalui SMS agar Maria turun menyeka air mata dukaku.

Maria menolak. Kau terus memaksanya.

Kau berkata:
"Kumohon, turunlah dan usaplah air matanya. Aku menangis jika ada perempuan menangis. Aku tidak tahan. Kumohon. Andaikan aku halal baginya, tentu aku akan turun mengusap air matanya dan membawanya jauh dari linangan air mata selama-lamanya."

Maria tetap menolak.

Ia berkata:
"Untuk yang ini jangan paksa aku, Fahri. Aku tidak bisa."

Namun kemudian, dengan menyebut nama Isa Al-Masih, kau memohon lagi:
"Kumohon, demi rasa cintamu pada Al-Masih."

Akhirnya Maria turun, dan kau mengawasi dari jendela.

Aku mengetahui semuanya karena Maria menceritakannya kepadaku. Ia bahkan menunjukkan semua pesanmu yang masih tersimpan di teleponnya.

Maria tidak mau aku mencium kakinya. Menurutnya, yang pantas kucium kakinya dan kubasahi dengan air mata haruku adalah engkau.

Sejak itu aku tidak lagi merasa sendirian. Aku merasa ada seseorang yang menyayangiku. Aku tidak lagi sendiri di muka bumi ini.

Wahai orang yang lembut hatinya,
anggaplah saat ini aku sedang mencium kedua telapak kakimu dengan air mata haruku.

Jika kau berkenan dan Tuhan mengizinkan, aku ingin menjadi abdi dan budakmu dengan penuh cinta. Menjadi abdi bagi orang saleh yang takut kepada Allah tidak jauh rasanya dengan menjadi putri di istana raja. Orang saleh selalu memanusiakan manusia dan tidak akan menzaliminya.

Saat ini aku masih dirundung kecemasan dan ketakutan jika ayahku mencariku dan akhirnya menemukanku. Aku takut dijadikan santapan serigala.

Wahai orang yang lembut hatinya,
sebenarnya aku merasa tidak pantas menuliskan semua ini. Namun rasa hormat dan cintaku padamu yang semakin besar di dalam dada memaksaku menuliskannya.

Aku merasa tidak pantas mencintaimu, tetapi apa yang dapat dilakukan oleh makhluk dhaif seperti diriku?

Wahai orang yang lembut hatinya,
keinginanku sekarang hanyalah satu: aku ingin halal bagimu.

Islam memang telah menghapus perbudakan, tetapi demi rasa cintaku yang begitu dalam kepadamu, aku ingin menjadi budakmu yang halal bagimu. Budak yang bisa kau seka air matanya, kau belai rambutnya, dan kau kecup keningnya.

Aku tidak berani berharap lebih dari itu.

Sangat tidak pantas bagi gadis miskin dan hina seperti diriku berharap menjadi istrimu. Namun aku merasa dengan itu aku akan menemukan hidup baru, jauh dari cambukan, makian, kecemasan, ketakutan, dan kehinaan.

Yang terlintas di benakku hanyalah meninggalkan Mesir.

Aku sangat mencintai Mesir, tanah kelahiranku. Tetapi aku merasa tidak bisa hidup tenang dalam satu bumi dengan orang-orang yang sangat membenciku dan selalu menginginkan kesengsaraan serta kehancuran diriku.

Walaupun saat ini aku berada di tempat yang aman di tengah keluarga Syaikh Ahmad, jauh dari ayah dan dua kakakku yang kejam, aku masih merasa bahaya selalu mengintai.

Kau tentu tahu, di Mesir ini angin dan tembok pun bisa berbicara.

Wahai orang yang lembut hatinya,
apakah aku salah menuliskan semua ini?

Semua yang saat ini bergolak di dalam dada dan jiwa. Sudah lama aku menanggung nestapa. Hatiku selalu kelam oleh penderitaan. Aku merasa kau datang membawa seberkas cahaya kasih sayang.

Belum pernah aku merasakan cinta kepada seseorang sekuat cintaku padamu.

Aku tidak ingin mengganggumu dengan kata-kata yang mungkin terasa nista dalam surat ini. Jika ada yang bernuansa dosa, semoga Allah mengampuninya.

Aku siap jika harus terbakar oleh api cinta yang dahulu membakar Laila dan Majnun. Biarlah aku menjadi Laila yang mati karena kobaran cintanya. Namun aku tidak berharap kau menjadi Majnun.

Kau orang baik. Orang baik selalu disertai Allah.

Doakan Allah mengampuni diriku.

Maafkan atas kelancanganku.

Wassalamu’alaikum.

Yang dirundung nestapa,
Noura


Tak terasa mataku basah.

Bukan karena ini pertama kalinya aku menerima surat cinta dari seorang gadis. Bukan pula karena kata-kata Noura yang mengungkapkan perasaannya kepadaku.

Aku menangis karena selama ini Noura ternyata menderita tekanan batin yang luar biasa. Ia hidup dalam ketakutan, merasa tidak memiliki tempat yang aman, seakan berada dalam kegelapan panjang tanpa cahaya kasih sayang dari keluarganya.

Tekanan psikis yang ia alami ternyata jauh lebih berat daripada siksaan fisik yang pernah ia terima.

Maka ketika sedikit saja cahaya simpati masuk ke dalam hatinya, ia menganggap cahaya itu sebagai segalanya. Ia memegangnya erat-erat dan takut kehilangannya.

Aku menyeka air mata, melipat surat itu, lalu memasukkannya kembali ke dalam amplopnya.

Setelah shalat subuh, aku harus menyampaikan hal ini kepada Syaikh Ahmad. Gadis itu perlu terus diberi semangat hidup dan dikuatkan ruhaninya. Ia perlu diyakinkan bahwa ia akan mendapatkan rasa aman dan kasih sayang selama berada di tengah orang-orang beriman.

Aku mengambil air wudhu untuk menenangkan hati dan pikiran. Aku harus kembali menyelesaikan pekerjaan.

Ketika azan subuh berkumandang, seluruh terjemahan telah selesai kuedit. Naskah itu langsung kupecah menjadi empat file dan kumasukkan ke dalam disket.

Mataku terasa berat dan perih, seolah ada kerikil mengganjal di sana. Aku belum memejamkan mata sama sekali.

Aku bangkit dan mengajak teman-teman turun ke masjid.

Gadis Mesir Itu Bernama Maria

 


Tengah hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala langit, seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir menguapkan bau neraka. Hembusan angin Sahara disertai debu yang bergulung-gulung menambah panas udara semakin tinggi dari detik ke detik. Penduduknya banyak yang berlindung dalam flat yang ada di apartemen-apartemen berbentuk kubus, dengan pintu, jendela, dan tirai tertutup rapat.

Memang, istirahat di dalam flat sambil menghidupkan pendingin ruangan jauh lebih nyaman daripada berjalan keluar rumah, meski sekadar untuk shalat berjamaah di masjid. Panggilan azan zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran di seantero kota hanya mampu menggugah dan menggerakkan hati mereka yang benar-benar tebal imannya. Mereka yang memiliki tekad beribadah sesempurna mungkin dalam segala musim dan cuaca, seperti karang yang tegak berdiri dalam deburan ombak, terpaan badai, dan sengatan matahari. Ia tetap teguh berdiri seperti yang dititahkan Tuhan sambil bertasbih tak kenal kesah. Atau seperti matahari yang telah jutaan tahun membakar tubuhnya untuk memberikan penerangan ke bumi dan seantero mayapada. Ia tiada pernah mengeluh, tiada pernah mengerang sedetik pun menjalankan titah Tuhan.

Awal-awal Agustus memang puncak musim panas. Dalam kondisi sangat tidak nyaman seperti ini, aku sendiri sebenarnya sangat malas keluar. Ramalan cuaca mengumumkan: empat puluh satu derajat celcius. Apa tidak gila!? Mahasiswa Asia Tenggara yang tidak tahan panas biasanya sudah mimisan, hidungnya mengeluarkan darah. Teman satu flat yang langganan mimisan di puncak musim panas adalah Saiful. Tiga hari ini, memasuki pukul sebelas siang sampai pukul tujuh petang, darah selalu merembes dari hidungnya. Padahal ia tidak keluar flat sama sekali. Ia hanya diam di dalam kamarnya sambil terus menyalakan kipas angin. Sesekali ia kungkum, mendinginkan badan di kamar mandi.

Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen (rasa malas melakukan sesuatu), aku bersiap untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi pada Syaikh Utsman Abdul Fattah. Pada ulama besar ini aku belajar qiraah sab’ah dan ushul tafsir. Beliau adalah murid Syaikh Mahmoud Khushari, ulama legendaris yang mendapat julukan Syaikhul Maqari’ wal Huffadh fi Mashr atau Guru Besarnya Para Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an di Mesir.

Jadwalku mengaji pada Syaikh yang terkenal sangat disiplin itu seminggu dua kali, setiap Ahad dan Rabu. Beliau selalu datang tepat waktu. Tak kenal kata absen. Tak kenal cuaca dan musim. Selama tidak sakit dan tidak ada uzur yang teramat penting, beliau pasti datang. Sangat tidak enak jika aku absen hanya karena alasan panasnya suhu udara. Sebab beliau tidak sembarang menerima murid untuk talaqqi qiraah sab’ah.

Siapa saja yang ingin belajar qiraah sab’ah terlebih dahulu akan beliau uji hafalan Al-Qur’an tiga puluh juz dengan qiraah bebas. Boleh Imam Warasy, boleh Imam Hafsh, atau lainnya. Tahun ini beliau hanya menerima sepuluh orang murid. Aku termasuk sepuluh orang yang beruntung itu.

Lebih beruntung lagi, beliau sangat mengenalku. Itu karena sejak tahun pertama kuliah aku sudah menyetorkan hafalan Al-Qur’an pada beliau di serambi Masjid Al-Azhar. Selain itu, di antara sepuluh orang yang terpilih ternyata hanya diriku seorang yang bukan orang Mesir. Aku satu-satunya orang asing, sekaligus satu-satunya yang dari Indonesia.

Tak heran jika beliau menganakemaskan diriku. Dan teman-teman dari Mesir tidak ada yang merasa iri dalam masalah ini. Mereka semua simpati padaku. Itulah sebabnya, jika aku absen pasti akan langsung ditelepon oleh Syaikh Utsman dan teman-teman. Mereka akan bertanya kenapa tidak datang, apa sakit, apa ada halangan, dan lain sebagainya.

Maka aku harus tetap berusaha datang selama masih mampu menempuh perjalanan sampai ke Shubra, meskipun panas membara dan badai debu bergulung-gulung di luar sana. Meskipun jarak yang ditempuh sekitar lima puluh kilometer lebih.

Kuambil mushaf tercinta. Kucium penuh takzim, lalu kumasukkan ke dalam saku depan tas cangklong hijau tua. Meskipun butut, ini adalah tas bersejarah yang setia menemani diriku menuntut ilmu sejak di Madrasah Aliyah sampai saat ini, saat menempuh S2 di universitas tertua di dunia, di delta Nil ini.

Aku mengambil satu botol kecil berisi air putih dari kulkas. Kumasukkan ke dalam plastik hitam lalu kumasukkan dalam tas. Aku selalu membiasakan diri membawa air putih jika bepergian. Selain sangat berguna, juga merupakan salah satu bentuk penghematan yang sangat terasa.

Apalagi selama menempuh perjalanan jauh dari Hadayek Helwan sampai Shubra El-Khaima dengan metro, tidak akan ada yang menjual minuman.

Aku sedikit ragu mau membuka pintu. Hatiku ketar-ketir. Angin Sahara terdengar mendesau-desau, keras dan kacau. Tak bisa dibayangkan betapa kacaunya di luar sana. Panas disertai gulungan debu yang berterbangan. Suasana yang jauh dari nyaman.

Namun niat harus dibulatkan.

Bismillah tawakkaltu ‘ala Allah.

Pelan-pelan kubuka pintu apartemen.

Wuss!

Angin Sahara menampar mukaku dengan kasar. Debu bergumpal-gumpal bercampur pasir menari-nari di mana-mana. Kututup kembali pintu apartemen. Rasanya aku melupakan sesuatu.

“Mas Fahri, udaranya terlalu panas. Cuacanya buruk. Apa tidak sebaiknya istirahat saja di rumah?” saran Saiful yang baru keluar dari kamar mandi. Darah yang merembes dari hidungnya telah ia bersihkan.

“Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Aku sangat tidak enak pada Syaikh Utsman jika tidak datang. Beliau saja yang sudah berumur tujuh puluh lima tahun selalu datang, tepat waktu lagi. Tak kenal cuaca panas atau dingin,” tukasku.

“Allah yubarik fik, Mas,” ujarnya serak sambil mengusap hidungnya dengan sapu tangan.

“Wa iyyakum,” balasku sambil memakai kaca mata hitam dan topi.

“Sudah bawa air putih, Mas?”

Aku mengangguk.

“Saif, Rudi minta dibangunkan pukul setengah dua. Terus tolong bilang sama dia untuk beli gula dan minyak goreng. Hari ini dia yang piket belanja. Oh ya, nanti sore yang piket masak Hamdi.”

“Insya Allah, Mas.”

Aku melangkah ke pintu.

“Saif, jangan lupa pesanku tadi!”

“Insya Allah.”

Di luar sana angin terdengar mendesau-desau.

Aku membuka pintu, melangkah keluar, lalu menuruni tangga satu per satu. Flat kami ada di tingkat tiga. Gedung apartemen ini hanya enam tingkat dan tidak punya lift.

Sampai di halaman apartemen, jilatan panas matahari seakan menembus topi hitam dan kopiah putih yang menempel di kepalaku. Seandainya tidak memakai kaca mata hitam, sinarnya yang benderang akan terasa perih menyilaukan mata.

Kulangkahkan kaki ke jalan.

“Psst… psst… Fahri!”

Kuhentikan langkah. Telingaku menangkap ada suara memanggil dari atas. Kupicingkan mataku mencari asal suara.

Di tingkat empat.

Seorang gadis Mesir berwajah bersih membuka jendela kamarnya sambil tersenyum. Matanya yang bening menatapku penuh binar.

“Hei Fahri, panas-panas begini keluar, mau ke mana?”

“Shubra.”

“Talaqqi Al-Qur’an ya?”

Aku mengangguk.

“Pulangnya kapan?”

“Jam lima, insya Allah.”

“Bisa nitip?”

“Nitip apa?”

“Belikan disket. Dua. Aku malas sekali keluar.”

“Baik, insya Allah.”

Aku membalikkan badan dan melangkah.

“Fahri, istanna suwayya!”

“Ada apa lagi?”

“Uangnya.”

“Sudah, nanti saja.”

“Syukran Fahri.”

“Afwan.”

Aku cepat-cepat melangkah menuju masjid.

Gadis Mesir itu bernama Maria. Ia juga senang dipanggil Maryam. Dua nama yang menurutnya sama saja.

Ia puteri sulung Tuan Boutros Rafael Girgis, berasal dari keluarga besar Kristen Koptik yang sangat taat. Flat mereka berada tepat di atas flat kami.

Maria gadis yang unik.

Ia seorang Kristen Koptik, namun ia suka pada Al-Qur’an. Ia bahkan hafal beberapa surat Al-Qur’an, di antaranya Surat Maryam.

Ia pernah melantunkan surat Maryam di dalam metro ketika kami tidak sengaja bertemu. Dari Mahattah Anwar Sadat sampai Tura El-Esmen aku menyimak bacaannya. Nyaris tidak ada satu huruf pun yang ia lupa.

Maria adalah gadis yang sangat cerdas. Nilai ujian akhirnya terbaik kedua tingkat nasional Mesir. Ia kuliah di Fakultas Komunikasi Universitas Cairo dan selalu meraih predikat mumtaz atau cumlaude.

Ia pernah ditawari menjadi reporter koran besar, tetapi menolak dan memilih menjadi penulis bebas.

Yang paling aneh, menurut pengakuannya sendiri ia sangat suka mendengar suara azan. Namun ia tetap rajin pergi ke gereja.

Pakainnya sopan, longgar, dan tertutup. Ia jarang tertawa keras. Lebih sering tersenyum.

Ia mengagumi Al-Qur’an, tetapi tidak pernah mengaku sebagai muslimah.

Bagiku, Maria tetaplah misteri.

Di dunia ini memang banyak sekali rahasia Tuhan yang tidak dapat dimengerti manusia. Termasuk soal hidayah.

Hanya Allah yang berhak memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Panggilan iqamah terdengar bersahut-sahutan.

Aku mempercepat langkah.

Tiga puluh meter di depan berdiri Masjid Al-Fath Al-Islami. Begitu masuk masjid, hembusan udara sejuk dari lima AC menyambut ramah.

Alhamdulillah.

Puluhan orang sudah berjajar rapi dalam shaf shalat berjamaah.

Kuletakkan topi dan tas cangklong di bawah tiang dekat tempatku berdiri di shaf kedua.

Kedamaian menjalari seluruh saraf dan jiwa ketika aku mengangkat takbir.

Udara sejuk mengusap keringat yang tadi mengalir deras.

Aku merasa tenteram dalam kasih sayang Tuhan Yang Maha Penyayang.

Dia terasa begitu dekat. Lebih dekat dari urat leher. Lebih dekat dari jantung yang berdetak.

Abah Anom Suryalaya | Kisah-Kisah Teladan

 


Pendiri Pesantren Inabah, Suryalaya

adalah nama asli Abah Anom. Beliau lahir pada 1 Januari 1915 di Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia merupakan putra kelima dari —yang lebih dikenal dengan sebutan Abah Sepuh—pendiri . Pesantren ini dikenal sebagai pusat pengajaran tasawuf yang secara khusus mengajarkan Thariqat Qadiriyyah Naqsabandiyah (TQN).

Sejak kecil, Abah Anom telah menunjukkan kecintaan yang besar terhadap ilmu. Pada usia delapan tahun, beliau memasuki sekolah dasar (Vervolg School) di Ciamis. Lima tahun kemudian, ia melanjutkan pendidikan ke madrasah tsanawiyah di kota yang sama. Setelah menyelesaikan pendidikan formal tersebut, beliau memperdalam ilmu agama Islam dengan belajar di berbagai pesantren di Jawa Barat.

Beberapa pesantren yang pernah menjadi tempat beliau menuntut ilmu antara lain Pesantren Cicariang dan Pesantren Jambudwipa di Cianjur, tempat beliau mempelajari ilmu-ilmu alat dan ushuluddin. Di Pesantren Cireungas, beliau juga mempelajari ilmu bela diri (silat). Minatnya terhadap silat semakin diperdalam di Pesantren Citengah yang dipimpin oleh Haji Djunaedi, seorang ulama yang dikenal sebagai ahli ilmu alat, jago silat, dan ahli hikmah.

Kegigihan dalam menuntut ilmu membuat Abah Anom telah menguasai berbagai cabang ilmu keislaman pada usia relatif muda, sekitar 18 tahun. Ketertarikannya yang mendalam terhadap dunia pesantren mendorong ayahnya untuk mengajarkan dzikir Thariqat Qadiriyyah Naqsabandiyah kepadanya. Sejak saat itu, beliau dipercaya menjadi wakil talqin ayahnya di usia yang masih muda. Dari sinilah ia mulai dikenal luas dengan sebutan “Abah Anom”.

Pada tahun 1950, beliau resmi menjadi mursyid (pembimbing spiritual) TQN di Pesantren Suryalaya. Masa itu merupakan periode yang penuh gejolak, terutama karena konflik bersenjata antara DI/TII dan TNI di berbagai wilayah. Dalam situasi genting tersebut, Abah Anom tetap meneguhkan peran tasawuf sebagai jalan pembinaan umat.

Beliau pernah menegaskan bahwa tasawuf bukanlah ajaran yang terpisah dari Islam. Menurutnya, tasawuf justru mengembalikan umat kepada kemurnian ajaran Islam pada masa-masa tertentu. Tasawuf yang beliau pahami bukanlah tasawuf yang mengabaikan syariat demi mengutamakan rasa (dzauq). Sebaliknya, beliau menekankan bahwa seorang sufi dan pengamal tarekat tidak boleh meninggalkan ilmu syariat atau fiqih. Bahkan, menurutnya, syariat adalah jalan menuju ma’rifat.

Sebagaimana lazimnya seorang sufi, Abah Anom tidak menyukai popularitas. Beliau sulit diwawancarai wartawan karena tidak ingin dikenal luas. Namun, beliau juga bukan sosok yang mengasingkan diri dari masyarakat. Ia hadir di tengah kehidupan umat, aktif dalam berbagai bidang, mulai dari pertanian hingga persoalan keamanan.

Pada era 1950–1960-an, kondisi ekonomi rakyat sangat memprihatinkan. Abah Anom tampil sebagai pelopor pemberdayaan ekonomi umat. Ia membangun sistem irigasi untuk pertanian, mendirikan kincir angin sebagai pembangkit listrik, serta menggagas program swasembada beras di Jawa Barat guna mengantisipasi krisis pangan. Aktivitas tersebut bahkan menarik perhatian Menteri Kesejahteraan Rakyat Suprayogi dan Jenderal A. H. Nasution untuk berkunjung ke Pesantren Suryalaya.

Dalam masa perang kemerdekaan, beliau bersama Brigjen Akil turut memulihkan keamanan wilayahnya. Ketika pemberontakan PKI meletus pada 1965, beliau bersama para santri melakukan perlawanan. Namun yang menarik, setelah situasi mereda, beliau menggagas program rehabilitasi ruhani bagi mantan anggota PKI. Dari sinilah muncul gagasan besar yang kelak dikenal sebagai “Inabah”.

Atas kiprahnya, beliau menerima berbagai penghargaan dari Jawatan Rohani Islam Kodam VI Siliwangi, Gubernur Jawa Barat, dan berbagai instansi lainnya.

Di bidang pendidikan, Abah Anom mendirikan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah pada tahun 1977, serta Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah pada tahun 1986. Kiprah beliau yang menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan berakar dari pemahamannya tentang zuhud.

Menurut Abah Anom, zuhud bukanlah meninggalkan dunia secara total. Beliau mendefinisikan zuhud sebagai qasr al-’amal—pendek angan-angan, tidak banyak berkhayal, dan bersikap realistis. Jadi, zuhud bukan berarti berpakaian compang-camping atau hidup serba kekurangan.

Beliau merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah An-Nur ayat 37:

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan dari mendirikan shalat, dan dari membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.”

(QS. An-Nur: 37)

Menurut beliau, orang yang zuhud adalah orang yang mampu mengendalikan harta sehingga harta menjadi pelayannya, sementara dirinya tetap berkhidmat kepada Allah semata. Sebagaimana nasihat :

“Dudukkanlah dirimu bersama kehidupan duniawi, sedangkan kalbumu bersama kehidupan akhirat, dan rasamu bersama Rabbmu.”


Inabah: Rehabilitasi Ruhani Berbasis Tasawuf

Mengentaskan manusia dari limbah kenistaan bukanlah perkara mudah. Abah Anom memiliki landasan teoritis yang kuat dalam merumuskan metode penyembuhan ruhani. Semua itu tercermin dalam nama pesantren rehabilitasi yang beliau dirikan: Inabah.

Inabah bukan sekadar nama, melainkan konsep spiritual dalam tasawuf. Dalam istilah maqamat (tingkatan ruhani), inabah berarti kembali kepada Allah dengan penuh kesadaran dan penyesalan.

Beliau menjelaskan bahwa salah satu hasil dari muraqabah (kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi) adalah inabah, yakni kembali dari maksiat menuju ketaatan karena merasa malu “melihat” Allah.

Dalam teori inabah, untuk menanamkan iman dalam qalbu, tidak ada cara lain kecuali dengan dzikir laa ilaaha illallah, yang dalam TQN disebut talqin. Dzikir menjadi “pedang” untuk melawan musuh dalam diri manusia—hawa nafsu dan bisikan setan.

Orang-orang yang dirawat di Inabah dipandang sebagai orang yang sakit secara ruhani—terjebak dalam kebingungan, kesedihan, dan kelalaian. Karena itu, obat utama mereka adalah dzikrullah.

Shalat merupakan bentuk dzikir tertinggi. Namun menurut pandangan Abah Anom, sebagian pasien belum mampu melaksanakan shalat karena masih dalam keadaan mabuk (sukara). Maka langkah awal adalah menyadarkan mereka melalui mandi junub dan wudhu. Air dipandang sebagai simbol pembersihan, khususnya terhadap sifat amarah (ghadab) yang diibaratkan berasal dari api.

Metode dzikir, shalat, wudhu, dan mandi junub dipadukan dalam sistem pembinaan Inabah. Hingga kini, metode tersebut terbukti efektif membantu para pecandu narkoba dan penderita gangguan kejiwaan untuk kembali ke kehidupan yang lebih baik.

Cabang Inabah tidak hanya ada di Indonesia, tetapi juga berdiri di Singapura dan Malaysia. Selain itu, banyak tamu dari Afrika, Eropa, dan Amerika yang datang untuk mempelajari metode tersebut.


Wafatnya Abah Anom

wafat pada 5 September 2011 dalam usia 96 tahun. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam, khususnya para pengamal Thariqat Qadiriyyah Naqsabandiyah.

Warisan beliau bukan hanya lembaga pendidikan dan pesantren, tetapi juga metode pembinaan ruhani yang memadukan syariat dan hakikat secara seimbang.


Sumber:

  1. Suara Hidayatullah, 1999
  2. Muslim Delft – “Abah Anom: Sufi yang Tak Menyendiri”
    http://muslimdelft.nl/titian_ilmu/biografi/abah_anom_sufi_yang_tak_menyendiri.php

Semoga kisah teladan Abah Anom ini menjadi inspirasi bagi kita untuk menapaki jalan ilmu, amal, dan dzikir dengan seimbang antara dunia dan akhirat.

Syeikh Haji Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari (1122–1227 H)

 


Syeikh Haji Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari adalah salah seorang ulama besar Nusantara yang sangat berpengaruh dalam penyebaran Islam bermazhab Syafi’i di Kalimantan. Beliau lahir di Kampung Lok Gabang, Martapura, Kalimantan Selatan, pada tanggal 13 Safar 1122 H (sekitar 1710 M), dan wafat pada tanggal 6 Syawal 1227 H (sekitar 1812 M) dalam usia kurang lebih 105 tahun. Usia yang panjang tersebut diisi dengan perjuangan ilmu, dakwah, dan pembinaan umat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. , Al-Mujadilah: 11)

Ayat ini seakan menjadi gambaran kemuliaan para ulama seperti Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, yang kehidupannya diabdikan sepenuhnya untuk ilmu dan agama.


Perjalanan Menuntut Ilmu ke Tanah Suci

Pada tahun 1152 H (sekitar 1739 M), dalam usia kurang lebih 30 tahun, beliau berangkat menunaikan ibadah haji ke Makkah al-Mukarramah. Keberangkatan tersebut bukan semata-mata untuk menunaikan rukun Islam kelima, tetapi juga dengan niat yang kuat untuk menuntut ilmu agama.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”
(HR. Ibnu Majah)

Beliau bermukim di Makkah selama kurang lebih 30 tahun dan di Madinah selama 5 tahun. Selama 35 tahun itu, beliau mendalami berbagai cabang ilmu agama, terutama:

  • Ilmu Usuluddin (Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah)
  • Ilmu Fiqih Mazhab Imam Syafi’i
  • Ilmu Tasawuf
  • Ilmu Tafsir dan Hadits

Di antara guru-guru beliau yang terkenal adalah:

  1. Syeikh Athaillah di Makkah.
  2. Syeikh Muhammad al-Kurdi di Madinah.
  3. Syeikh Abdul Karim as-Samman di Madinah.
  4. Dan sejumlah ulama besar lainnya di Haramain.

Lingkungan keilmuan di Makkah dan Madinah pada masa itu memang menjadi pusat studi Islam dunia. Di sanalah berkumpul para penuntut ilmu dari berbagai negeri, termasuk dari Nusantara.


Sahabat Seperjuangan di Tanah Suci

Ketika belajar di Makkah, beliau memiliki beberapa sahabat seperjuangan yang kelak juga menjadi ulama besar, di antaranya:

  1. , pengarang kitab Hidayatus Salikin dan Sairus Salikin.
  2. Syeikh H. Abdurrahman al-Mashri di Jakarta.
  3. Syeikh Abdul Wahab al-Bugisi dari Sulawesi Selatan.

Mereka semua dikenal sebagai ulama besar dalam Mazhab Syafi’i dan menjadi penyebar ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah di daerah masing-masing.


Kembali ke Tanah Banjar dan Menjadi Mufti

Pada bulan Ramadhan tahun 1186 H (sekitar 1772 M), setelah puluhan tahun menuntut ilmu, beliau kembali ke tanah kelahirannya. Ketika itu usia beliau telah mencapai sekitar 65 tahun. Setibanya di Martapura, beliau diangkat menjadi Mufti Kerajaan Banjar.

Sebagai Mufti, beliau berperan besar dalam:

  • Membina kehidupan beragama masyarakat.
  • Menegakkan hukum-hukum fiqih Mazhab Syafi’i.
  • Menguatkan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah.
  • Menata sistem peradilan Islam di Kerajaan Banjar.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah tokoh sentral penyebaran dan pengokohan Mazhab Syafi’i di seluruh Kalimantan. Hampir seluruh masyarakat Muslim Kalimantan pada masa itu menganut Mazhab Imam Syafi’i, rahimahullah.

Sebagaimana firman Allah:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…”
(QS. , An-Nahl: 125)

Dengan hikmah, kesabaran, dan keluasan ilmunya, beliau membimbing masyarakat menuju pemahaman Islam yang lurus.


Karya-Karya Ilmiah

Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dikenal sebagai ulama produktif. Di antara karya-karya beliau yang terkenal adalah:

  1. Sabilal Muhtadin (ditulis tahun 1193–1195 H) – kitab fiqih Mazhab Syafi’i yang sangat monumental dan menjadi rujukan utama di Kalimantan dan sekitarnya.
  2. Tuhfatur Raghibin (ditulis tahun 1180 H).
  3. Al-Qaulul Mukhtashar (ditulis tahun 1196 H).
  4. Kitab Ushuluddin.
  5. Kitab Tasawuf.
  6. Kitab Nikah.
  7. Kitab Faraidh.
  8. Hasyiyah Fathul Jawad.

Selain itu, beliau juga menulis satu mushaf Al-Qur’an dengan tulisan tangan beliau sendiri. Mushaf tersebut hingga kini masih terpelihara dengan baik sebagai peninggalan berharga.

Karya-karya beliau menunjukkan keluasan ilmu dan kedalaman pemahaman dalam berbagai bidang syariat.


Keturunan yang Menjadi Ulama

Keberkahan ilmu beliau tidak berhenti pada dirinya. Banyak dari zurriyat (anak dan cucu) beliau yang menjadi ulama besar, mufti, qadhi, dan pemimpin agama yang tetap berpegang teguh pada Mazhab Syafi’i.

Di antara mereka adalah:

  1. H. Jamaluddin (anak kandung), Mufti, penulis kitab Perukunan Jamaluddin.
  2. H. Yusein (anak kandung), penulis Hidayatul Mutafakkirin.
  3. H. Fathimah binti Arsyad (anak kandung), penulis Perukunan Besar (tanpa mencantumkan namanya).
  4. H. Abu Sa’ud, Qadhi.
  5. H. Abu Naim, Qadhi.
  6. H. Ahmad, Mufti.
  7. H. Syahabuddin, Mufti.
  8. H.M. Thaib, Qadhi.
  9. H. As’ad, Mufti.
  10. H. Jamaluddin II, Mufti.
  11. , Mufti Kerajaan Indragiri Sapat (Riau), pengarang Risalah Amal Ma’rifat, Asrarus Salah, Syair Qiyamat, dan Sejarah Arsyadiyah.
  12. H.M. Thaib bin Mas’ud bin H. Abu Sa’ud, ulama Kedah (Malaysia), pengarang Miftahul Jannah.
  13. H. Thohah Qadhi Qudhat, pembina Madrasah “Sulamul ‘Ulum” Dalam Pagar Martapura.
  14. H.M. Ali Junaedi, Qadhi.
  15. Guru H. Zainal Ilmi.
  16. H. Ahmad Zainal Aqli, Imam Tentara.
  17. H.M. Nawawi, Mufti.
  18. Dan banyak lagi lainnya.

Semua yang tersebut di atas adalah zurriyat Syeikh Arsyad yang telah berpulang ke rahmatullah dan dikenal sebagai penegak Mazhab Syafi’i serta faham Ahlussunnah wal Jama’ah di wilayah masing-masing.


Penutup

Sebagaimana telah disebutkan, Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dan keturunannya adalah penegak Mazhab Syafi’i dan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya di Kalimantan. Perjuangan beliau dalam bidang ilmu, dakwah, dan pendidikan telah memberi pengaruh besar yang terasa hingga sekarang.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada beliau, keluarga beliau, para guru dan muridnya, serta kepada kita semua yang berusaha mengikuti jejak para ulama. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.


Sumber:

  1. KH. Siradjuddin Abbas, Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’i, Pustaka Tarbiyah, 1994.
  2. https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Arsyad_al-Banjari
  3. https://banjarmasin.tribunnews.com (artikel sejarah ulama Banjar)