Abah Anom Suryalaya | Kisah-Kisah Teladan

 


Pendiri Pesantren Inabah, Suryalaya

adalah nama asli Abah Anom. Beliau lahir pada 1 Januari 1915 di Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia merupakan putra kelima dari —yang lebih dikenal dengan sebutan Abah Sepuh—pendiri . Pesantren ini dikenal sebagai pusat pengajaran tasawuf yang secara khusus mengajarkan Thariqat Qadiriyyah Naqsabandiyah (TQN).

Sejak kecil, Abah Anom telah menunjukkan kecintaan yang besar terhadap ilmu. Pada usia delapan tahun, beliau memasuki sekolah dasar (Vervolg School) di Ciamis. Lima tahun kemudian, ia melanjutkan pendidikan ke madrasah tsanawiyah di kota yang sama. Setelah menyelesaikan pendidikan formal tersebut, beliau memperdalam ilmu agama Islam dengan belajar di berbagai pesantren di Jawa Barat.

Beberapa pesantren yang pernah menjadi tempat beliau menuntut ilmu antara lain Pesantren Cicariang dan Pesantren Jambudwipa di Cianjur, tempat beliau mempelajari ilmu-ilmu alat dan ushuluddin. Di Pesantren Cireungas, beliau juga mempelajari ilmu bela diri (silat). Minatnya terhadap silat semakin diperdalam di Pesantren Citengah yang dipimpin oleh Haji Djunaedi, seorang ulama yang dikenal sebagai ahli ilmu alat, jago silat, dan ahli hikmah.

Kegigihan dalam menuntut ilmu membuat Abah Anom telah menguasai berbagai cabang ilmu keislaman pada usia relatif muda, sekitar 18 tahun. Ketertarikannya yang mendalam terhadap dunia pesantren mendorong ayahnya untuk mengajarkan dzikir Thariqat Qadiriyyah Naqsabandiyah kepadanya. Sejak saat itu, beliau dipercaya menjadi wakil talqin ayahnya di usia yang masih muda. Dari sinilah ia mulai dikenal luas dengan sebutan “Abah Anom”.

Pada tahun 1950, beliau resmi menjadi mursyid (pembimbing spiritual) TQN di Pesantren Suryalaya. Masa itu merupakan periode yang penuh gejolak, terutama karena konflik bersenjata antara DI/TII dan TNI di berbagai wilayah. Dalam situasi genting tersebut, Abah Anom tetap meneguhkan peran tasawuf sebagai jalan pembinaan umat.

Beliau pernah menegaskan bahwa tasawuf bukanlah ajaran yang terpisah dari Islam. Menurutnya, tasawuf justru mengembalikan umat kepada kemurnian ajaran Islam pada masa-masa tertentu. Tasawuf yang beliau pahami bukanlah tasawuf yang mengabaikan syariat demi mengutamakan rasa (dzauq). Sebaliknya, beliau menekankan bahwa seorang sufi dan pengamal tarekat tidak boleh meninggalkan ilmu syariat atau fiqih. Bahkan, menurutnya, syariat adalah jalan menuju ma’rifat.

Sebagaimana lazimnya seorang sufi, Abah Anom tidak menyukai popularitas. Beliau sulit diwawancarai wartawan karena tidak ingin dikenal luas. Namun, beliau juga bukan sosok yang mengasingkan diri dari masyarakat. Ia hadir di tengah kehidupan umat, aktif dalam berbagai bidang, mulai dari pertanian hingga persoalan keamanan.

Pada era 1950–1960-an, kondisi ekonomi rakyat sangat memprihatinkan. Abah Anom tampil sebagai pelopor pemberdayaan ekonomi umat. Ia membangun sistem irigasi untuk pertanian, mendirikan kincir angin sebagai pembangkit listrik, serta menggagas program swasembada beras di Jawa Barat guna mengantisipasi krisis pangan. Aktivitas tersebut bahkan menarik perhatian Menteri Kesejahteraan Rakyat Suprayogi dan Jenderal A. H. Nasution untuk berkunjung ke Pesantren Suryalaya.

Dalam masa perang kemerdekaan, beliau bersama Brigjen Akil turut memulihkan keamanan wilayahnya. Ketika pemberontakan PKI meletus pada 1965, beliau bersama para santri melakukan perlawanan. Namun yang menarik, setelah situasi mereda, beliau menggagas program rehabilitasi ruhani bagi mantan anggota PKI. Dari sinilah muncul gagasan besar yang kelak dikenal sebagai “Inabah”.

Atas kiprahnya, beliau menerima berbagai penghargaan dari Jawatan Rohani Islam Kodam VI Siliwangi, Gubernur Jawa Barat, dan berbagai instansi lainnya.

Di bidang pendidikan, Abah Anom mendirikan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah pada tahun 1977, serta Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah pada tahun 1986. Kiprah beliau yang menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan berakar dari pemahamannya tentang zuhud.

Menurut Abah Anom, zuhud bukanlah meninggalkan dunia secara total. Beliau mendefinisikan zuhud sebagai qasr al-’amal—pendek angan-angan, tidak banyak berkhayal, dan bersikap realistis. Jadi, zuhud bukan berarti berpakaian compang-camping atau hidup serba kekurangan.

Beliau merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah An-Nur ayat 37:

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan dari mendirikan shalat, dan dari membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.”

(QS. An-Nur: 37)

Menurut beliau, orang yang zuhud adalah orang yang mampu mengendalikan harta sehingga harta menjadi pelayannya, sementara dirinya tetap berkhidmat kepada Allah semata. Sebagaimana nasihat :

“Dudukkanlah dirimu bersama kehidupan duniawi, sedangkan kalbumu bersama kehidupan akhirat, dan rasamu bersama Rabbmu.”


Inabah: Rehabilitasi Ruhani Berbasis Tasawuf

Mengentaskan manusia dari limbah kenistaan bukanlah perkara mudah. Abah Anom memiliki landasan teoritis yang kuat dalam merumuskan metode penyembuhan ruhani. Semua itu tercermin dalam nama pesantren rehabilitasi yang beliau dirikan: Inabah.

Inabah bukan sekadar nama, melainkan konsep spiritual dalam tasawuf. Dalam istilah maqamat (tingkatan ruhani), inabah berarti kembali kepada Allah dengan penuh kesadaran dan penyesalan.

Beliau menjelaskan bahwa salah satu hasil dari muraqabah (kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi) adalah inabah, yakni kembali dari maksiat menuju ketaatan karena merasa malu “melihat” Allah.

Dalam teori inabah, untuk menanamkan iman dalam qalbu, tidak ada cara lain kecuali dengan dzikir laa ilaaha illallah, yang dalam TQN disebut talqin. Dzikir menjadi “pedang” untuk melawan musuh dalam diri manusia—hawa nafsu dan bisikan setan.

Orang-orang yang dirawat di Inabah dipandang sebagai orang yang sakit secara ruhani—terjebak dalam kebingungan, kesedihan, dan kelalaian. Karena itu, obat utama mereka adalah dzikrullah.

Shalat merupakan bentuk dzikir tertinggi. Namun menurut pandangan Abah Anom, sebagian pasien belum mampu melaksanakan shalat karena masih dalam keadaan mabuk (sukara). Maka langkah awal adalah menyadarkan mereka melalui mandi junub dan wudhu. Air dipandang sebagai simbol pembersihan, khususnya terhadap sifat amarah (ghadab) yang diibaratkan berasal dari api.

Metode dzikir, shalat, wudhu, dan mandi junub dipadukan dalam sistem pembinaan Inabah. Hingga kini, metode tersebut terbukti efektif membantu para pecandu narkoba dan penderita gangguan kejiwaan untuk kembali ke kehidupan yang lebih baik.

Cabang Inabah tidak hanya ada di Indonesia, tetapi juga berdiri di Singapura dan Malaysia. Selain itu, banyak tamu dari Afrika, Eropa, dan Amerika yang datang untuk mempelajari metode tersebut.


Wafatnya Abah Anom

wafat pada 5 September 2011 dalam usia 96 tahun. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam, khususnya para pengamal Thariqat Qadiriyyah Naqsabandiyah.

Warisan beliau bukan hanya lembaga pendidikan dan pesantren, tetapi juga metode pembinaan ruhani yang memadukan syariat dan hakikat secara seimbang.


Sumber:

  1. Suara Hidayatullah, 1999
  2. Muslim Delft – “Abah Anom: Sufi yang Tak Menyendiri”
    http://muslimdelft.nl/titian_ilmu/biografi/abah_anom_sufi_yang_tak_menyendiri.php

Semoga kisah teladan Abah Anom ini menjadi inspirasi bagi kita untuk menapaki jalan ilmu, amal, dan dzikir dengan seimbang antara dunia dan akhirat.

Syeikh Haji Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari (1122–1227 H)

 


Syeikh Haji Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari adalah salah seorang ulama besar Nusantara yang sangat berpengaruh dalam penyebaran Islam bermazhab Syafi’i di Kalimantan. Beliau lahir di Kampung Lok Gabang, Martapura, Kalimantan Selatan, pada tanggal 13 Safar 1122 H (sekitar 1710 M), dan wafat pada tanggal 6 Syawal 1227 H (sekitar 1812 M) dalam usia kurang lebih 105 tahun. Usia yang panjang tersebut diisi dengan perjuangan ilmu, dakwah, dan pembinaan umat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. , Al-Mujadilah: 11)

Ayat ini seakan menjadi gambaran kemuliaan para ulama seperti Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, yang kehidupannya diabdikan sepenuhnya untuk ilmu dan agama.


Perjalanan Menuntut Ilmu ke Tanah Suci

Pada tahun 1152 H (sekitar 1739 M), dalam usia kurang lebih 30 tahun, beliau berangkat menunaikan ibadah haji ke Makkah al-Mukarramah. Keberangkatan tersebut bukan semata-mata untuk menunaikan rukun Islam kelima, tetapi juga dengan niat yang kuat untuk menuntut ilmu agama.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”
(HR. Ibnu Majah)

Beliau bermukim di Makkah selama kurang lebih 30 tahun dan di Madinah selama 5 tahun. Selama 35 tahun itu, beliau mendalami berbagai cabang ilmu agama, terutama:

  • Ilmu Usuluddin (Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah)
  • Ilmu Fiqih Mazhab Imam Syafi’i
  • Ilmu Tasawuf
  • Ilmu Tafsir dan Hadits

Di antara guru-guru beliau yang terkenal adalah:

  1. Syeikh Athaillah di Makkah.
  2. Syeikh Muhammad al-Kurdi di Madinah.
  3. Syeikh Abdul Karim as-Samman di Madinah.
  4. Dan sejumlah ulama besar lainnya di Haramain.

Lingkungan keilmuan di Makkah dan Madinah pada masa itu memang menjadi pusat studi Islam dunia. Di sanalah berkumpul para penuntut ilmu dari berbagai negeri, termasuk dari Nusantara.


Sahabat Seperjuangan di Tanah Suci

Ketika belajar di Makkah, beliau memiliki beberapa sahabat seperjuangan yang kelak juga menjadi ulama besar, di antaranya:

  1. , pengarang kitab Hidayatus Salikin dan Sairus Salikin.
  2. Syeikh H. Abdurrahman al-Mashri di Jakarta.
  3. Syeikh Abdul Wahab al-Bugisi dari Sulawesi Selatan.

Mereka semua dikenal sebagai ulama besar dalam Mazhab Syafi’i dan menjadi penyebar ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah di daerah masing-masing.


Kembali ke Tanah Banjar dan Menjadi Mufti

Pada bulan Ramadhan tahun 1186 H (sekitar 1772 M), setelah puluhan tahun menuntut ilmu, beliau kembali ke tanah kelahirannya. Ketika itu usia beliau telah mencapai sekitar 65 tahun. Setibanya di Martapura, beliau diangkat menjadi Mufti Kerajaan Banjar.

Sebagai Mufti, beliau berperan besar dalam:

  • Membina kehidupan beragama masyarakat.
  • Menegakkan hukum-hukum fiqih Mazhab Syafi’i.
  • Menguatkan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah.
  • Menata sistem peradilan Islam di Kerajaan Banjar.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah tokoh sentral penyebaran dan pengokohan Mazhab Syafi’i di seluruh Kalimantan. Hampir seluruh masyarakat Muslim Kalimantan pada masa itu menganut Mazhab Imam Syafi’i, rahimahullah.

Sebagaimana firman Allah:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…”
(QS. , An-Nahl: 125)

Dengan hikmah, kesabaran, dan keluasan ilmunya, beliau membimbing masyarakat menuju pemahaman Islam yang lurus.


Karya-Karya Ilmiah

Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dikenal sebagai ulama produktif. Di antara karya-karya beliau yang terkenal adalah:

  1. Sabilal Muhtadin (ditulis tahun 1193–1195 H) – kitab fiqih Mazhab Syafi’i yang sangat monumental dan menjadi rujukan utama di Kalimantan dan sekitarnya.
  2. Tuhfatur Raghibin (ditulis tahun 1180 H).
  3. Al-Qaulul Mukhtashar (ditulis tahun 1196 H).
  4. Kitab Ushuluddin.
  5. Kitab Tasawuf.
  6. Kitab Nikah.
  7. Kitab Faraidh.
  8. Hasyiyah Fathul Jawad.

Selain itu, beliau juga menulis satu mushaf Al-Qur’an dengan tulisan tangan beliau sendiri. Mushaf tersebut hingga kini masih terpelihara dengan baik sebagai peninggalan berharga.

Karya-karya beliau menunjukkan keluasan ilmu dan kedalaman pemahaman dalam berbagai bidang syariat.


Keturunan yang Menjadi Ulama

Keberkahan ilmu beliau tidak berhenti pada dirinya. Banyak dari zurriyat (anak dan cucu) beliau yang menjadi ulama besar, mufti, qadhi, dan pemimpin agama yang tetap berpegang teguh pada Mazhab Syafi’i.

Di antara mereka adalah:

  1. H. Jamaluddin (anak kandung), Mufti, penulis kitab Perukunan Jamaluddin.
  2. H. Yusein (anak kandung), penulis Hidayatul Mutafakkirin.
  3. H. Fathimah binti Arsyad (anak kandung), penulis Perukunan Besar (tanpa mencantumkan namanya).
  4. H. Abu Sa’ud, Qadhi.
  5. H. Abu Naim, Qadhi.
  6. H. Ahmad, Mufti.
  7. H. Syahabuddin, Mufti.
  8. H.M. Thaib, Qadhi.
  9. H. As’ad, Mufti.
  10. H. Jamaluddin II, Mufti.
  11. , Mufti Kerajaan Indragiri Sapat (Riau), pengarang Risalah Amal Ma’rifat, Asrarus Salah, Syair Qiyamat, dan Sejarah Arsyadiyah.
  12. H.M. Thaib bin Mas’ud bin H. Abu Sa’ud, ulama Kedah (Malaysia), pengarang Miftahul Jannah.
  13. H. Thohah Qadhi Qudhat, pembina Madrasah “Sulamul ‘Ulum” Dalam Pagar Martapura.
  14. H.M. Ali Junaedi, Qadhi.
  15. Guru H. Zainal Ilmi.
  16. H. Ahmad Zainal Aqli, Imam Tentara.
  17. H.M. Nawawi, Mufti.
  18. Dan banyak lagi lainnya.

Semua yang tersebut di atas adalah zurriyat Syeikh Arsyad yang telah berpulang ke rahmatullah dan dikenal sebagai penegak Mazhab Syafi’i serta faham Ahlussunnah wal Jama’ah di wilayah masing-masing.


Penutup

Sebagaimana telah disebutkan, Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dan keturunannya adalah penegak Mazhab Syafi’i dan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya di Kalimantan. Perjuangan beliau dalam bidang ilmu, dakwah, dan pendidikan telah memberi pengaruh besar yang terasa hingga sekarang.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada beliau, keluarga beliau, para guru dan muridnya, serta kepada kita semua yang berusaha mengikuti jejak para ulama. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.


Sumber:

  1. KH. Siradjuddin Abbas, Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’i, Pustaka Tarbiyah, 1994.
  2. https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Arsyad_al-Banjari
  3. https://banjarmasin.tribunnews.com (artikel sejarah ulama Banjar)
Sholahuddin Al Ayyubi (532-583) H


Pada masa pemerintahan (13–23 H / 634–644 M), kota suci —yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai Baitul Maqdis atau Al-Quds—berhasil dikuasai oleh kaum Muslimin melalui penyerahan secara damai. Sayyidina Umar sendiri datang ke kota tersebut untuk menerima penyerahan kunci kota atas permintaan dan persetujuan Uskup Agung . Peristiwa ini menjadi salah satu contoh gemilang dalam sejarah Islam tentang bagaimana sebuah kota suci ditaklukkan tanpa pertumpahan darah besar dan tetap menjamin keselamatan penduduknya.

Penyerahan itu kemudian dikenal dalam sejarah sebagai “Perjanjian Umar” (Al-‘Uhda al-‘Umariyyah), yang menjamin keamanan jiwa, harta, gereja, dan kebebasan beragama bagi penduduk Kristian. Prinsip ini selaras dengan firman Allah SWT:

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam)…” (QS. Al-Baqarah: 256)

Dan juga firman-Nya:

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama…” (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Berabad-abad lamanya kota suci itu berada di bawah pentadbiran Islam. Penduduknya bebas memeluk agama masing-masing serta melaksanakan ajaran dan ibadah mereka tanpa gangguan. Orang-orang Kristian dari berbagai negeri di Eropah juga bebas datang untuk berziarah dan melaksanakan upacara keagamaan mereka.

Namun dalam perkembangannya, rombongan jemaah dari Eropah datang dalam jumlah besar dengan membawa obor dan pedang, menyerupai pasukan tentera. Sebahagian dari mereka memperagakan pedang diiringi gendang dan seruling serta dikawal pasukan bersenjata lengkap. Selama masa pemerintahan Islam sebelum Seljuk, upacara seperti ini masih dibiarkan atas dasar toleransi agama.

Setelah kota tersebut berada di bawah kekuasaan Kerajaan Seljuk sekitar tahun 1070 M, upacara seperti itu dilarang dengan alasan keselamatan. Keadaan memang semakin memburuk, bahkan pada tahun 1064 M disebutkan bahawa seorang Uskup memimpin rombongan sekitar 7,000 orang yang terdiri daripada bangsawan dan pahlawan, dan terjadi bentrokan dengan penduduk Muslim Arab dan Turki. Larangan tersebut bukanlah bentuk penindasan agama, melainkan langkah menjaga keamanan dan ketertiban.

Namun tindakan ini disalahertikan oleh sebagian pemimpin agama di Eropah. Mereka menuduh bahawa umat Islam telah mengganggu kebebasan beragama dan menyerukan agar Tanah Suci “dibebaskan.” Seorang rahib yang terkenal lantang ialah . Ia berkeliling Eropah dengan pakaian sederhana, berkaki ayam, memikul salib besar, dan berpidato di gereja-gereja serta pasar-pasar, membangkitkan emosi umat Kristian dengan kisah-kisah tentang penodaan makam Nabi Isa a.s. dan penderitaan jemaah Kristian.

Hasutan ini mendapat dukungan dari yang pada Konsili Clermont tahun 1095 M menyerukan Perang Suci (Crusade). Ia menjanjikan pengampunan dosa bagi siapa saja yang ikut berperang. Mereka yang berangkat diperintahkan mengenakan tanda salib pada pakaian mereka, sehingga perang ini dikenal sebagai Perang Salib (Crusades).

Gelombang pertama yang dikenal sebagai “People’s Crusade” dipimpin oleh Peter the Hermit dengan puluhan ribu pengikut. Dalam perjalanan melalui Hongaria dan Bulgaria, terjadi perampasan dan kekacauan sehingga banyak dari mereka terbunuh sebelum mencapai Asia Kecil. Ketika pasukan ini memasuki wilayah Anatolia, mereka dihancurkan oleh pasukan Seljuk di bawah pimpinan .

Gelombang berikutnya dipimpin para bangsawan seperti , , dan . Mereka berkumpul di Konstantinopel dan kemudian menyerbu wilayah Islam.

Akhirnya, pada 15 Julai 1099 M, Baitul Maqdis jatuh ke tangan pasukan Salib. Terjadilah pembantaian besar-besaran terhadap kaum Muslimin, Yahudi, bahkan Kristian Timur yang tidak berpihak pada mereka. Sejarawan Perancis dan pemikir mencatat kedahsyatan tragedi itu, termasuk genangan darah di sekitar Masjid Umar dan Masjid Al-Aqsa.

Jatuhnya Baitul Maqdis mengejutkan dunia Islam. Perpecahan internal menjadi sebab utama kelemahan. Maka bangkitlah tokoh-tokoh seperti dan puteranya untuk menyatukan kekuatan Islam.

Dari keluarga inilah kelak lahir seorang tokoh agung: (Shalahuddin Al-Ayyubi), lahir di Tikrit tahun 1137/1138 M. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga pejuang dan dididik dengan ilmu agama serta ketenteraan. Bersama pamannya , ia berperan penting di Mesir, hingga akhirnya mengakhiri kekuasaan Daulah Fatimiyah dan mengembalikan khutbah kepada Khalifah Abbasiyah di Baghdad pada tahun 1171 M.

Setelah menyatukan Mesir dan Syam, Shalahuddin menubuhkan Dinasti Ayyubiyah. Ia mempersiapkan kekuatan menghadapi tentera Salib yang sering melanggar perjanjian, termasuk tindakan provokatif yang menyerang kafilah Muslim dan menghina Nabi Muhammad SAW.

Konflik memuncak dalam Perang Hittin (1187 M), di mana Shalahuddin meraih kemenangan besar. Ribuan tentera Salib ditawan. Raynald dihukum mati atas pengkhianatan dan penghinaan terhadap Nabi.

Setelah itu, Shalahuddin mengepung Jerusalem. Setelah rundingan panjang dan ancaman kehancuran kota, akhirnya kota diserahkan secara damai pada 27 Rajab 583 H / 1187 M. Kaum Kristian diberi kesempatan menebus diri dengan bayaran tertentu, dan banyak yang dibebaskan dengan belas kasihan. Peristiwa ini bertepatan dengan tarikh Isra’ Mi’raj, menambah makna simbolik kemenangan tersebut.

Berbeda dengan penaklukan tahun 1099, kali ini tidak terjadi pembantaian. Shalahuddin menunjukkan akhlak Islam yang luhur, sebagaimana firman Allah:

“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, kerana adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Kejatuhan Jerusalem ke tangan Muslim kembali memicu Perang Salib Ketiga, yang melibatkan raja-raja Eropah. Namun Shalahuddin mampu mempertahankan kota suci hingga wafatnya tahun 1193 M di Damaskus.

Ketika wafat, ia hanya meninggalkan 1 dinar dan 36 dirham—tanpa istana, tanpa tanah luas—meski memimpin wilayah besar dari Mesir hingga Syam. Hidupnya sederhana, tekun solat berjamaah, cinta Al-Qur’an dan Hadis, zuhud dan wara’. Ia menjadi simbol kepemimpinan Islam yang adil dan berakhlak.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Demikianlah kisah perjuangan Shalahuddin Al-Ayyubi dalam membebaskan Baitul Maqdis—sebuah pelajaran tentang persatuan, keadilan, keteguhan iman, dan akhlak mulia dalam kemenangan.

Sumber rujukan:

  1. http://www.darulnuman.com/mkisah/kisah019.html
  2. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
  3. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Shalahuddin Al-Ayyubi wa Juhuduhu fi Qadhiyah al-Quds

Semoga Allah merahmati Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengambil ibrah dari sejarah. Aamiin.

Nabi Ishaq AS

 


Nabi Ishaq adalah putra Nabi Ibrahim dari istrinya, Sarah. Sedangkan Nabi Ismail adalah putra Nabi Ibrahim dari Hajar, seorang dayang yang diterimanya sebagai hadiah dari Raja Namrud.

Tentang Nabi Ishaq tidak banyak dikisahkan dalam Al-Qur’an, kecuali dalam beberapa ayat. Di antaranya adalah ayat 69–74 dari Surah Hud, sebagai berikut:

“Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira. Mereka mengucapkan, ‘Selamat.’ Ibrahim menjawab, ‘Selamatlah.’ Maka tidak lama kemudian Ibrahim menjamukan daging anak sapi yang dipanggang.

  1. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, ‘Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus untuk kaum Luth.’

  2. Dan istrinya berdiri di sampingnya lalu tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira akan (kelahiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya’qub.

  3. Istrinya berkata, ‘Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua dan suamiku pun dalam keadaan sudah tua? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang aneh.’

  4. Para malaikat itu berkata, ‘Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya dicurahkan atas kamu, wahai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.’

  5. Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth.”
    (Hud: 69–74)

Selain ayat-ayat di atas yang membawa berita akan lahirnya Nabi Ishaq dari kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia—yang menurut sebagian riwayat usia Sarah pada waktu itu telah mencapai sembilan puluh tahun—terdapat pula beberapa ayat yang menetapkan kenabiannya.

Di antaranya adalah ayat 49 Surah Maryam sebagai berikut:

“Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya’qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi.”

Demikian pula ayat 112–113 Surah Ash-Shaffat:

“112. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.

  1. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya dengan nyata.”

Catatan Tambahan
Diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim wafat pada usia 175 tahun, Nabi Ismail pada usia 137 tahun, dan Nabi Ishaq pada usia 180 tahun.

Sumber: http://www.dzikir.org/b_ceri09.html

25 Nabi dan Rasul dalam Islam: Kisah, Mukjizat, dan Pelajaran Hidup yang Menguatkan Iman

 


Bismillahirrahmanirrahim.

Saat saya menulis artikel ini, hati saya benar-benar ingin menghadirkan kembali kisah-kisah para nabi dan rasul bukan sekadar sebagai cerita sejarah, tetapi sebagai cermin kehidupan kita hari ini. Kita hidup di zaman yang serba cepat, penuh ujian, penuh distraksi. Namun jika kita kembali membaca kisah para utusan Allah, kita akan sadar bahwa ujian mereka jauh lebih berat, tetapi iman mereka jauh lebih kokoh.

Di dalam , Allah banyak sekali menceritakan tentang para nabi dan rasul. Bukan tanpa alasan. Kisah mereka adalah penguat hati, peneguh iman, dan pelajaran hidup yang tidak akan pernah lekang oleh waktu.

Dalam artikel ini, saya akan mengajak Anda mengenal kembali 25 nabi dan rasul yang wajib kita imani dalam Islam, memahami perbedaan nabi dan rasul, mengetahui mukjizat mereka, serta mengambil hikmah yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Pengertian Nabi dan Rasul

Sebelum kita masuk ke kisah satu per satu, mari kita pahami dulu apa itu nabi dan rasul.

Secara sederhana:

  • Nabi adalah manusia pilihan Allah yang menerima wahyu untuk dirinya sendiri dan untuk disampaikan kepada kaumnya.
  • Rasul adalah nabi yang mendapat wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan risalah kepada umat yang sering kali menentangnya.

Semua rasul adalah nabi, tetapi tidak semua nabi adalah rasul.

Salah satu rasul terakhir dan penutup para nabi adalah , yang membawa risalah Islam sebagai penyempurna ajaran sebelumnya.


Urutan 25 Nabi dan Rasul yang Wajib Kita Imani

Berikut adalah 25 nabi dan rasul yang disebutkan dalam Al-Qur’an:


Kisah Singkat dan Pelajaran dari Setiap Nabi

1. Nabi Adam – Awal Kehidupan Manusia

Nabi Adam adalah manusia pertama yang Allah ciptakan. Dari beliau, seluruh umat manusia berasal. Kisahnya mengajarkan tentang taubat. Ketika melakukan kesalahan, beliau langsung memohon ampun kepada Allah.

Pelajaran yang saya ambil: manusia tidak luput dari salah, tetapi yang membedakan adalah seberapa cepat kita kembali kepada Allah.


2. Nabi Nuh – Dakwah Tanpa Lelah

Nabi Nuh berdakwah ratusan tahun, namun hanya sedikit yang beriman. Beliau tetap sabar meski dihina dan diejek.

Mukjizatnya adalah bahtera besar yang menyelamatkan orang beriman dari banjir besar.

Pelajaran: hasil bukan urusan kita, tugas kita hanya berusaha dan bersabar.


3. Nabi Ibrahim – Tauhid dan Pengorbanan

Nabi Ibrahim dikenal sebagai bapak para nabi. Beliau diuji dengan dibakar hidup-hidup, diperintahkan meninggalkan keluarga, bahkan menyembelih putranya.

Namun beliau selalu taat.

Pelajaran terbesar: iman sejati lahir dari ketaatan total kepada Allah.


4. Nabi Yusuf – Sabar dalam Ujian

Dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, difitnah dan dipenjara. Namun akhirnya menjadi penguasa Mesir.

Kisah Nabi Yusuf mengajarkan bahwa kesabaran tidak pernah mengkhianati hasil.


5. Nabi Ayyub – Sabar dalam Penyakit

Beliau diuji dengan sakit bertahun-tahun, kehilangan harta dan keluarga.

Namun tidak pernah mengeluh.

Pelajaran: sabar bukan berarti tidak merasa sakit, tetapi tetap percaya kepada Allah dalam keadaan sulit.


6. Nabi Musa – Keberanian Melawan Kezaliman

Nabi Musa menghadapi Fir’aun, penguasa zalim yang mengaku sebagai tuhan.

Dengan izin Allah, tongkatnya berubah menjadi ular dan laut terbelah.

Pelajaran: kebenaran pasti menang, walau harus melewati perjuangan panjang.


7. Nabi Sulaiman – Kekuasaan dan Syukur

Beliau diberi kerajaan besar, bisa berbicara dengan hewan, mengendalikan angin dan jin.

Namun tetap rendah hati dan bersyukur.

Pelajaran: kekuasaan tanpa syukur hanya akan membawa kehancuran.


8. Nabi Yunus – Kesalahan dan Taubat

Nabi Yunus pernah meninggalkan kaumnya sebelum mendapat izin Allah, lalu ditelan ikan besar.

Dalam perut ikan, beliau berdoa dengan penuh penyesalan.

Pelajaran: jangan pernah putus asa dari rahmat Allah.


9. Nabi Isa – Mukjizat Luar Biasa

Nabi Isa diberi mukjizat bisa menyembuhkan orang buta, menghidupkan orang mati dengan izin Allah.

Beliau berdakwah dengan kelembutan dan kasih sayang.

Pelajaran: dakwah harus disertai akhlak yang mulia.


10. Nabi Muhammad – Teladan Sepanjang Zaman

Beliau adalah penutup para nabi. Diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Akhlaknya begitu mulia. Sabar saat dihina, tetap memaafkan saat berkuasa.

Pelajaran terbesar yang selalu saya renungkan: kekuatan sejati ada pada akhlak.


Mengapa Kisah Nabi dan Rasul Penting untuk Kita?

Kadang kita merasa ujian hidup terlalu berat. Masalah ekonomi, keluarga, pekerjaan, kesehatan. Namun jika kita membaca kisah para nabi, kita akan sadar:

  • Ujian bukan tanda Allah tidak sayang.
  • Kesulitan bukan akhir segalanya.
  • Sabar selalu berbuah manis.
  • Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Kisah para nabi bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah peta kehidupan.


Hikmah Besar dari 25 Nabi dan Rasul

  1. Tauhid adalah fondasi utama.
  2. Sabar adalah kunci keselamatan.
  3. Syukur menjaga nikmat.
  4. Taubat membuka pintu harapan.
  5. Dakwah butuh keteguhan hati.
  6. Akhlak lebih kuat dari kekuasaan.

Penutup

Menulis tentang nabi dan rasul membuat saya sadar bahwa hidup ini hanyalah perjalanan singkat. Yang terpenting bukan seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, tetapi seberapa kuat iman yang kita jaga.

Semoga dengan membaca kisah 25 nabi dan rasul ini, hati kita menjadi lebih lembut, iman kita semakin kuat, dan langkah kita semakin dekat kepada Allah.

Jika artikel ini bermanfaat, semoga menjadi amal jariyah bagi saya dan Anda yang membacanya.

Wallahu a’lam bishawab.

Hudzaifah Ibnul Yaman

 


Penduduk kota Madinah berduyun-duyun keluar untuk menyambut kedatangan wali negeri mereka yang baru, yang diangkat dan dipilih oleh Amirul Mu’minin, radhiyallahu ‘anhu. Mereka pergi menyambutnya karena telah lama hati mereka rindu untuk bertemu dengan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia ini, yang telah banyak mereka dengar tentang keshalihan dan ketakwaannya, serta jasa-jasanya dalam membebaskan tanah Irak.

Ketika mereka sedang menunggu rombongan yang akan datang, tiba-tiba muncullah di hadapan mereka seorang laki-laki dengan wajah berseri-seri. Ia mengendarai seekor keledai yang beralaskan kain usang. Kedua kakinya teruntai ke bawah, kedua tangannya memegang roti dan garam, sementara mulutnya sedang mengunyah.

Tatkala ia berada di tengah-tengah orang banyak dan mereka mengetahui bahwa orang itu tidak lain adalah radhiyallahu ‘anhu, mereka pun bingung dan hampir-hampir tak percaya. Namun, apa yang perlu diherankan? Corak kepemimpinan seperti apa yang mereka nantikan sebagai pilihan Umar radhiyallahu ‘anhu? Hal itu dapat dipahami, karena baik pada masa kerajaan Persia yang terkenal itu maupun sebelumnya, belum pernah dikenal corak pemimpin semulia dan sesederhana ini.

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu meneruskan perjalanan, sementara orang-orang berkerumun mengelilinginya. Ketika ia melihat mereka menatapnya seakan menunggu amanat, diperhatikannya wajah-wajah mereka, lalu ia berkata, “Jauhilah oleh kalian tempat-tempat fitnah!”

Mereka bertanya, “Di manakah tempat-tempat fitnah itu, wahai Abu Abdillah?”

Ia menjawab, “Pintu-pintu rumah para pembesar. Seseorang masuk menemui mereka, lalu membenarkan ucapan palsu mereka dan memuji perbuatan baik yang tidak pernah mereka lakukan.”

Suatu pernyataan yang luar biasa dan sangat menakjubkan. Dari ucapan wali negeri yang baru ini, orang-orang segera menyimpulkan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih dibencinya di dunia ini selain kemunafikan. Pernyataan itu sekaligus merupakan gambaran paling tepat tentang kepribadiannya dan sistem pemerintahan yang akan ditempuhnya.

Hudzaifah ibnu Yaman radhiyallahu ‘anhu memasuki kehidupan dengan bekal tabiat yang istimewa. Di antara cirinya ialah sikap anti kemunafikan dan kemampuannya melihat jejak serta gejalanya, walaupun tersembunyi jauh sekalipun.

Sejak ia bersama saudaranya, Shafwan, menemani ayahnya menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka memeluk Islam, wataknya semakin terang dan cemerlang. Ia menganut Islam dengan teguh dan suci, lurus serta gagah berani. Ia memandang sifat pengecut, bohong, dan munafik sebagai sifat yang rendah dan hina.

Ia terdidik di tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hati yang terbuka laksana cahaya subuh. Tidak ada persoalan hidup yang tersembunyi baginya. Ia seorang yang benar dan jujur, mencintai orang-orang yang teguh membela kebenaran, dan membenci orang-orang yang berbelit-belit serta bermuka dua.

Bakatnya tumbuh subur dalam pangkuan Islam, di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan di tengah para sahabat perintis. Ia menjadi ahli dalam membaca tabiat dan air muka seseorang. Dalam sekejap, ia dapat menebak isi hati dan menyelidiki rahasia yang tersembunyi.

Kemampuannya diakui hingga Amirul Mu’minin Umar radhiyallahu ‘anhu yang dikenal cerdas dan penuh inspirasi sering mengandalkan pendapat Hudzaifah serta ketajaman pandangannya dalam mengenali tokoh-tokoh.

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkesimpulan bahwa dalam kehidupan ini kebaikan adalah sesuatu yang jelas dan gamblang bagi orang yang benar-benar menginginkannya. Sebaliknya, keburukan adalah sesuatu yang samar dan gelap. Karena itu, orang bijak hendaknya mempelajari sumber-sumber kejahatan dan kemungkinan-kemungkinannya.

Ia pernah berkata, “Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan, sedangkan aku menanyakan tentang kejahatan, karena takut terjerumus ke dalamnya.”

Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam kejahiliahan dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?”

Beliau menjawab, “Ada.”

“Apakah setelah keburukan itu ada kebaikan lagi?”

“Ada, tetapi di dalamnya terdapat kekaburan.”

“Apa kekaburannya?”

“Suatu kaum mengikuti sunnah yang bukan sunnahku dan petunjuk yang bukan petunjukku. Engkau akan mengenal mereka.”

“Apakah setelah itu ada keburukan lagi?”

“Ada, para penyeru di pintu-pintu neraka. Siapa yang mengikuti mereka akan dilemparkan ke dalamnya.”

“Jika aku mendapati keadaan demikian, apa yang harus kulakukan?”

“Ikutilah jamaah kaum Muslimin dan pemimpin mereka.”

“Bagaimana jika mereka tidak memiliki jamaah dan pemimpin?”

“Tinggalkan semua golongan itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon hingga ajal menjemputmu.”

Demikianlah Hudzaifah menjalani hidup dengan mata terbuka dan hati waspada terhadap sumber-sumber fitnah. Ia menganalisis kehidupan, mengkaji pribadi manusia, dan meraba situasi dengan tajam.

Ia juga berkata, “Hati itu ada empat macam: hati yang tertutup, itulah hati orang kafir; hati yang bermuka dua, itulah hati orang munafik; hati yang bersih dan di dalamnya ada pelita yang menyala, itulah hati orang beriman; dan hati yang di dalamnya terdapat iman dan kemunafikan sekaligus. Iman itu laksana tanaman yang disirami air jernih, sedangkan kemunafikan seperti bisul yang disirami darah dan nanah. Mana yang lebih kuat, itulah yang akan menang.”

Dalam Perang Uhud, ia menyaksikan ayahnya gugur karena kekeliruan pasukan Muslim yang menyangkanya musyrik. Ia berteriak, “Ayahku! Itu ayahku!” Namun takdir Allah telah berlaku. Ketika kaum Muslimin mengetahui peristiwa itu, mereka sangat berduka. Hudzaifah justru berkata, “Semoga Allah mengampuni kalian. Dia sebaik-baik Penyayang.” Bahkan ia menolak diyat dan menyerahkannya kepada kaum Muslimin.

Pada Perang Khandaq, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memilihnya untuk menyusup ke perkemahan musuh di malam yang gelap dan penuh badai. Dengan keberanian dan kecerdikannya, ia berhasil mengetahui keadaan musuh dan kembali membawa kabar gembira.

Dalam penaklukan Irak dan pertempuran besar Nahawand melawan Persia, Hudzaifah menunjukkan kepahlawanan luar biasa. Ketika panglima Nu’man bin Muqarrin gugur, ia segera mengambil panji dan memimpin pasukan hingga Allah menganugerahkan kemenangan kepada kaum Muslimin.

Ia juga turut memilih lokasi kota Kufah ketika kaum Muslimin meninggalkan Madain. Dengan pengamatannya, dipilihlah tempat yang kemudian berkembang menjadi kota yang makmur.

Menjelang wafatnya pada tahun 36 Hijriah, ia meminta kain kafan sederhana. Ketika melihat kain yang dibawakan agak mewah, ia berkata, “Ini tidak cocok bagiku. Cukuplah dua helai kain putih. Tidak lama lagi aku akan berada dalam kubur.”

Menjelang akhir hayatnya ia berkata lirih, “Selamat datang, wahai maut. Kekasih datang di saat rindu.”

Demikianlah wafatnya seorang sahabat mulia, seorang pejuang hikmah dan medan laga, yang hidupnya dipenuhi ketakwaan dan kewaspadaan terhadap fitnah.

Hafshah binti Umar bin Khaththab

 


Beliau adalah Hafshah binti Umar, putri dari Umar bin Khaththab, seorang sahabat agung yang melalui perantaranya Islam memiliki wibawa dan kekuatan. Hafshah adalah seorang wanita muda yang berparas cantik, bertakwa, dan disegani.

Pada mulanya, beliau dinikahi oleh seorang sahabat mulia bernama Khunais bin Khudzafah bin Qais As-Sahmi Al-Quraisy. Ia termasuk sahabat yang berhijrah dua kali, ikut serta dalam Perang Badar dan Perang Uhud. Namun setelah itu, ia wafat di negeri hijrah akibat sakit yang dideritanya sepulang dari Perang Uhud. Ia meninggalkan seorang istri muda yang bertakwa, yakni Hafshah, yang ketika itu masih berusia 18 tahun.

Umar bin Khaththab sangat gelisah melihat putrinya menjanda dalam usia muda. Ia juga masih merasakan kesedihan atas wafatnya menantu yang merupakan seorang muhajir dan mujahid. Setiap kali memasuki rumah dan melihat putrinya dalam keadaan berduka, kesedihannya semakin terasa. Setelah berpikir panjang, Umar berkesimpulan untuk mencarikan suami bagi putrinya agar ia kembali mendapatkan kebahagiaan yang sempat ia rasakan selama kurang lebih enam bulan pernikahannya.

Pilihan Umar pertama kali jatuh kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, orang yang paling dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umar berharap, dengan sifat tenggang rasa dan kelembutannya, Abu Bakar dapat membimbing Hafshah yang mewarisi watak ayahnya: bersemangat tinggi dan tegas. Umar pun menemui Abu Bakar dan menceritakan keadaan putrinya, lalu menawarkannya untuk menikahi Hafshah. Namun Abu Bakar tidak memberikan jawaban. Umar pun berpaling dengan perasaan kecewa.

Kemudian Umar mendatangi Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, yang saat itu baru saja ditinggal wafat istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah. Umar menawarkan Hafshah kepadanya, tetapi Utsman menjawab bahwa ia belum ingin menikah saat itu. Kesedihan Umar pun semakin bertambah.

Akhirnya Umar menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengadukan keadaan tersebut. Rasulullah tersenyum dan bersabda:

“Hafshah akan dinikahi oleh orang yang lebih baik daripada Abu Bakar dan Utsman. Dan Utsman akan menikahi wanita yang lebih baik daripada Hafshah.”

Wajah Umar pun berseri-seri mendengar kabar tersebut. Ternyata yang dimaksud adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang akan menikahi Hafshah, dan Utsman akan menikahi Ummu Kultsum binti Rasulullah. Pernikahan Nabi dengan Hafshah terjadi pada bulan Sya’ban tahun ketiga Hijriah, sedangkan Utsman menikahi Ummu Kultsum pada bulan Jumadil Akhir tahun yang sama.

Setelah menikah, Hafshah bergabung dengan istri-istri Rasulullah dan menjadi salah satu Ummahatul Mukminin. Saat itu di rumah tangga Nabi telah ada Saudah dan Aisyah. Sebagaimana lumrahnya dalam rumah tangga, muncul rasa cemburu. Hafshah berusaha mendekati dan bersikap lembut kepada Aisyah, mengikuti pesan ayahnya yang mengingatkannya agar bersikap rendah hati.

Pernah terjadi peristiwa ketika Hafshah dan Aisyah membuat Rasulullah kurang berkenan, hingga turun firman Allah dalam Surah At-Tahrim ayat 4 yang menegur keduanya agar bertaubat.

Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah pernah menceraikan Hafshah satu kali karena suatu sebab, namun kemudian beliau merujuknya kembali atas perintah Jibril ‘alaihissalam yang mengatakan bahwa Hafshah adalah wanita yang rajin berpuasa, rajin shalat, dan akan menjadi istri beliau di surga.

Hafshah pernah merasa bersalah karena menyebarkan rahasia Rasulullah, tetapi beliau akhirnya tenang setelah dimaafkan. Sejak itu, beliau hidup harmonis bersama Nabi hingga wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah Rasulullah wafat dan kepemimpinan dipegang oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, Hafshah termasuk di antara Ummahatul Mukminin yang dipercaya untuk menyimpan mushaf Al-Qur’an yang pertama kali dihimpun. Amanah besar ini menunjukkan kedudukan dan kepercayaannya di tengah kaum Muslimin.

Hafshah menjalani sisa hidupnya sebagai ahli ibadah, rajin berpuasa dan shalat. Ia dikenal sebagai wanita yang menjaga Al-Qur’an, mukjizat yang kekal dan sumber hukum umat Islam.

Ketika ayahnya, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, mendekati ajal setelah ditikam oleh Abu Lu’lu’ah pada bulan Dzulhijjah tahun 23 Hijriah, Hafshah menjadi salah satu putri yang menerima wasiat darinya.

Hafshah radhiyallahu ‘anha wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu. Semoga Allah meridhai beliau, seorang wanita yang disebut oleh Jibril sebagai wanita yang rajin berpuasa dan shalat, serta istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga.