Sholahuddin Al Ayyubi (532-583) H



Pada masa pemerintahan (13–23 H / 634–644 M), kota suci —yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai Baitul Maqdis atau Al-Quds—berhasil dikuasai oleh kaum Muslimin melalui penyerahan secara damai. Sayyidina Umar sendiri datang ke kota tersebut untuk menerima penyerahan kunci kota atas permintaan dan persetujuan Uskup Agung . Peristiwa ini menjadi salah satu contoh gemilang dalam sejarah Islam tentang bagaimana sebuah kota suci ditaklukkan tanpa pertumpahan darah besar dan tetap menjamin keselamatan penduduknya.

Penyerahan itu kemudian dikenal dalam sejarah sebagai “Perjanjian Umar” (Al-‘Uhda al-‘Umariyyah), yang menjamin keamanan jiwa, harta, gereja, dan kebebasan beragama bagi penduduk Kristian. Prinsip ini selaras dengan firman Allah SWT:

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam)…” (QS. Al-Baqarah: 256)

Dan juga firman-Nya:

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama…” (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Berabad-abad lamanya kota suci itu berada di bawah pentadbiran Islam. Penduduknya bebas memeluk agama masing-masing serta melaksanakan ajaran dan ibadah mereka tanpa gangguan. Orang-orang Kristian dari berbagai negeri di Eropah juga bebas datang untuk berziarah dan melaksanakan upacara keagamaan mereka.

Namun dalam perkembangannya, rombongan jemaah dari Eropah datang dalam jumlah besar dengan membawa obor dan pedang, menyerupai pasukan tentera. Sebahagian dari mereka memperagakan pedang diiringi gendang dan seruling serta dikawal pasukan bersenjata lengkap. Selama masa pemerintahan Islam sebelum Seljuk, upacara seperti ini masih dibiarkan atas dasar toleransi agama.

Setelah kota tersebut berada di bawah kekuasaan Kerajaan Seljuk sekitar tahun 1070 M, upacara seperti itu dilarang dengan alasan keselamatan. Keadaan memang semakin memburuk, bahkan pada tahun 1064 M disebutkan bahawa seorang Uskup memimpin rombongan sekitar 7,000 orang yang terdiri daripada bangsawan dan pahlawan, dan terjadi bentrokan dengan penduduk Muslim Arab dan Turki. Larangan tersebut bukanlah bentuk penindasan agama, melainkan langkah menjaga keamanan dan ketertiban.

Namun tindakan ini disalahertikan oleh sebagian pemimpin agama di Eropah. Mereka menuduh bahawa umat Islam telah mengganggu kebebasan beragama dan menyerukan agar Tanah Suci “dibebaskan.” Seorang rahib yang terkenal lantang ialah . Ia berkeliling Eropah dengan pakaian sederhana, berkaki ayam, memikul salib besar, dan berpidato di gereja-gereja serta pasar-pasar, membangkitkan emosi umat Kristian dengan kisah-kisah tentang penodaan makam Nabi Isa a.s. dan penderitaan jemaah Kristian.

Hasutan ini mendapat dukungan dari yang pada Konsili Clermont tahun 1095 M menyerukan Perang Suci (Crusade). Ia menjanjikan pengampunan dosa bagi siapa saja yang ikut berperang. Mereka yang berangkat diperintahkan mengenakan tanda salib pada pakaian mereka, sehingga perang ini dikenal sebagai Perang Salib (Crusades).

Gelombang pertama yang dikenal sebagai “People’s Crusade” dipimpin oleh Peter the Hermit dengan puluhan ribu pengikut. Dalam perjalanan melalui Hongaria dan Bulgaria, terjadi perampasan dan kekacauan sehingga banyak dari mereka terbunuh sebelum mencapai Asia Kecil. Ketika pasukan ini memasuki wilayah Anatolia, mereka dihancurkan oleh pasukan Seljuk di bawah pimpinan .

Gelombang berikutnya dipimpin para bangsawan seperti , , dan . Mereka berkumpul di Konstantinopel dan kemudian menyerbu wilayah Islam.

Akhirnya, pada 15 Julai 1099 M, Baitul Maqdis jatuh ke tangan pasukan Salib. Terjadilah pembantaian besar-besaran terhadap kaum Muslimin, Yahudi, bahkan Kristian Timur yang tidak berpihak pada mereka. Sejarawan Perancis dan pemikir mencatat kedahsyatan tragedi itu, termasuk genangan darah di sekitar Masjid Umar dan Masjid Al-Aqsa.

Jatuhnya Baitul Maqdis mengejutkan dunia Islam. Perpecahan internal menjadi sebab utama kelemahan. Maka bangkitlah tokoh-tokoh seperti dan puteranya untuk menyatukan kekuatan Islam.

Dari keluarga inilah kelak lahir seorang tokoh agung: (Shalahuddin Al-Ayyubi), lahir di Tikrit tahun 1137/1138 M. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga pejuang dan dididik dengan ilmu agama serta ketenteraan. Bersama pamannya , ia berperan penting di Mesir, hingga akhirnya mengakhiri kekuasaan Daulah Fatimiyah dan mengembalikan khutbah kepada Khalifah Abbasiyah di Baghdad pada tahun 1171 M.

Setelah menyatukan Mesir dan Syam, Shalahuddin menubuhkan Dinasti Ayyubiyah. Ia mempersiapkan kekuatan menghadapi tentera Salib yang sering melanggar perjanjian, termasuk tindakan provokatif yang menyerang kafilah Muslim dan menghina Nabi Muhammad SAW.

Konflik memuncak dalam Perang Hittin (1187 M), di mana Shalahuddin meraih kemenangan besar. Ribuan tentera Salib ditawan. Raynald dihukum mati atas pengkhianatan dan penghinaan terhadap Nabi.

Setelah itu, Shalahuddin mengepung Jerusalem. Setelah rundingan panjang dan ancaman kehancuran kota, akhirnya kota diserahkan secara damai pada 27 Rajab 583 H / 1187 M. Kaum Kristian diberi kesempatan menebus diri dengan bayaran tertentu, dan banyak yang dibebaskan dengan belas kasihan. Peristiwa ini bertepatan dengan tarikh Isra’ Mi’raj, menambah makna simbolik kemenangan tersebut.

Berbeda dengan penaklukan tahun 1099, kali ini tidak terjadi pembantaian. Shalahuddin menunjukkan akhlak Islam yang luhur, sebagaimana firman Allah:

“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, kerana adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Kejatuhan Jerusalem ke tangan Muslim kembali memicu Perang Salib Ketiga, yang melibatkan raja-raja Eropah. Namun Shalahuddin mampu mempertahankan kota suci hingga wafatnya tahun 1193 M di Damaskus.

Ketika wafat, ia hanya meninggalkan 1 dinar dan 36 dirham—tanpa istana, tanpa tanah luas—meski memimpin wilayah besar dari Mesir hingga Syam. Hidupnya sederhana, tekun solat berjamaah, cinta Al-Qur’an dan Hadis, zuhud dan wara’. Ia menjadi simbol kepemimpinan Islam yang adil dan berakhlak.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Demikianlah kisah perjuangan Shalahuddin Al-Ayyubi dalam membebaskan Baitul Maqdis—sebuah pelajaran tentang persatuan, keadilan, keteguhan iman, dan akhlak mulia dalam kemenangan.

Sumber rujukan:

  1. http://www.darulnuman.com/mkisah/kisah019.html
  2. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
  3. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Shalahuddin Al-Ayyubi wa Juhuduhu fi Qadhiyah al-Quds

Semoga Allah merahmati Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengambil ibrah dari sejarah. Aamiin.

Latest
Next Post

post written by: