Ini malam Sabtu. Besok pagi aku harus pergi: memasukkan proposal tesis ke kampus, menemui Alicia dan Aisha di National Library, serta mengirimkan naskah terjemahan ke redaksi sebuah penerbit di Jakarta melalui email. Perjalanan yang tampaknya akan cukup melelahkan.

Semua telah siap, kecuali naskah terjemahan. Naskah itu belum selesai diedit. Aku ingin besok pagi semuanya berjalan sesuai rencana. Sekali melakukan perjalanan, banyak urusan dapat diselesaikan.

Malam ini, mau tidak mau, aku harus sedikit keras pada diriku sendiri. Aku harus bekerja dengan sabar mengedit hasil terjemahanku sampai benar-benar matang.

Untuk persiapan lembur ini, aku telah menyiapkan “doping” andalan: madu murni, susu kambing murni yang dibelikan oleh Hamdi dari para penggembala kambing yang biasa lewat di Wadi Hof, dan telur ayam kampung. Agar suasana terasa segar, aku membuka jendela dan pintu kamar lebar-lebar.

Pelan-pelan kusetel nasyid Athfal Filistin. Semangat bocah-bocah kecil Palestina yang membara, dengan celoteh mereka yang menggemaskan saat menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan intifadhah, membuat diriku bersemangat dan tidak mengantuk.

Aku sudah meminta izin kepada teman-teman untuk memutar nasyid ini sampai tengah malam. Aku meminta mereka menutup pintu kamar masing-masing agar tidak terganggu tidurnya.

Ternyata mereka malah asyik meminjam film Ashabul Kahfi dari seorang teman di Nasr City dan menontonnya di kamar Rudi. Mereka memerlukan waktu sekitar enam belas jam untuk menonton film yang dibuat oleh Iran dan Lebanon itu.

Film Ashabul Kahfi memang diputar bersambung oleh stasiun TV Lebanon selama bulan Ramadhan tahun sebelumnya. Hanya orang yang memiliki parabola yang bisa menontonnya.

Malam ini mereka menyediakan waktu khusus untuk menontonnya. Aku sendiri belum pernah menontonnya. Sebenarnya sangat ingin, tetapi apakah semua keinginan harus dipenuhi?

Menurut komentar teman-teman yang sudah menontonnya, film itu luar biasa indah, mampu menambah keimanan dan memperhalus jiwa. Semoga lain kali ada kesempatan untuk menontonnya.

Malam ini adalah malam kerja.

Sementara teman-teman seakan terbang ke zaman Ashabul Kahfi dan berdialog dengan pemuda-pemuda pilihan itu, aku justru berlayar di lautan kata-kata yang disusun Ibnu Qayyim.

Aku harus membaca dengan teliti dan mengedit tulisan sebanyak 357 halaman.

Menjelang tengah malam aku kelelahan. Aku beristirahat dengan melakukan shalat. Ketika sujud, kepala terasa nyaman. Darah mengalir ke kepala dan saraf-saraf terasa lebih segar.

Kudengar teman-teman bertasbih kagum atas apa yang mereka lihat di film itu.

Aku melemaskan otot-otot dengan menelentangkan badan di atas kasur, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Setelah itu aku bangkit hendak meneruskan pekerjaan.

Tanpa sengaja aku melihat sepucuk surat permintaan untuk mengisi pelatihan terjemah dari sebuah kelompok studi. Aku pun teringat sepucuk surat dari Noura yang masih berada di saku baju koko yang tergantung di dalam lemari.

Aku belum membacanya.

Segera kuambil surat itu dan kubaca.


Kepada
Fahri bin Abdillah,
seorang mahasiswa dari Indonesia yang lembut hatinya dan berbudi mulia

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Kepadamu kukirimkan salam terindah, salam sejahtera para penghuni surga. Salam yang harumnya melebihi kesturi, sejuknya melebihi embun pagi, hangatnya sehangat sinar mentari waktu dhuha.

Salam suci sesuci air telaga Kautsar yang jika direguk akan menghilangkan dahaga selama-lamanya. Salam penghormatan, kasih, dan cinta yang tiada pernah pudar dalam segala musim dan peristiwa.

Wahai orang yang lembut hatinya,
entah dari mana aku harus memulai menyusun kata-kata untuk mengungkapkan segala sedu sedan dan perasaan yang ada di dalam dada.

Saat kau membaca suratku ini, anggaplah aku berada di hadapanmu, menangis sambil mencium telapak kakimu sebagai ungkapan terima kasihku yang tiada taranya.

Wahai orang yang lembut hatinya,
sejak aku kehilangan rasa aman dan kasih sayang serta merasa sendirian tanpa siapa-siapa selain Allah di dalam dada, kaulah orang pertama yang datang memberikan simpatimu dan kasih sayangmu.

Aku tahu kau telah menitikkan air mata untukku ketika orang-orang lain tidak menitikkan air mata untukku.

Wahai orang yang lembut hatinya,
ketika orang-orang di sekitarku nyaris kehilangan kepekaan mereka dan masa bodoh dengan apa yang menimpa diriku karena mereka diselimuti rasa bosan dan jengkel atas kejadian yang sering berulang menimpaku, kau tidak kehilangan rasa pedulimu.

Aku tidak memintamu untuk mengakui hal itu, karena orang yang ikhlas tidak akan pernah mau mengingat kebajikan yang telah dilakukannya. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang saat ini kurasakan dalam relung jiwa.

Wahai orang yang lembut hatinya,
malam itu aku mengira aku akan menjadi gelandangan dan tidak memiliki siapa-siapa. Aku nyaris putus asa. Aku hampir saja mengetuk pintu neraka dan menjual kehormatanku karena tidak kuat lagi menahan derita.

Ketika setan hampir membalikkan keteguhan imanku, datanglah Maria menghiburku dengan kelembutan hatinya. Ia datang bagaikan malaikat Jibril yang menurunkan hujan pada ladang-ladang yang sedang sekarat menanti kematian.

Di kamar Maria aku terharu akan ketulusan dan keberaniannya. Aku ingin mencium telapak kakinya atas elusan lembut tangannya di punggungku yang sakit.

Namun apa yang terjadi, Fahri?

Maria malah menangis dan memelukku erat. Ia dengan jujur menceritakan semuanya. Ia sebenarnya tidak berani turun malam itu. Ia bahkan menutup kedua telinganya dari keributan yang ditimbulkan oleh ayahku yang kejam.

Tetapi kemudian datang permintaanmu melalui SMS agar Maria turun menyeka air mata dukaku.

Maria menolak. Kau terus memaksanya.

Kau berkata:
"Kumohon, turunlah dan usaplah air matanya. Aku menangis jika ada perempuan menangis. Aku tidak tahan. Kumohon. Andaikan aku halal baginya, tentu aku akan turun mengusap air matanya dan membawanya jauh dari linangan air mata selama-lamanya."

Maria tetap menolak.

Ia berkata:
"Untuk yang ini jangan paksa aku, Fahri. Aku tidak bisa."

Namun kemudian, dengan menyebut nama Isa Al-Masih, kau memohon lagi:
"Kumohon, demi rasa cintamu pada Al-Masih."

Akhirnya Maria turun, dan kau mengawasi dari jendela.

Aku mengetahui semuanya karena Maria menceritakannya kepadaku. Ia bahkan menunjukkan semua pesanmu yang masih tersimpan di teleponnya.

Maria tidak mau aku mencium kakinya. Menurutnya, yang pantas kucium kakinya dan kubasahi dengan air mata haruku adalah engkau.

Sejak itu aku tidak lagi merasa sendirian. Aku merasa ada seseorang yang menyayangiku. Aku tidak lagi sendiri di muka bumi ini.

Wahai orang yang lembut hatinya,
anggaplah saat ini aku sedang mencium kedua telapak kakimu dengan air mata haruku.

Jika kau berkenan dan Tuhan mengizinkan, aku ingin menjadi abdi dan budakmu dengan penuh cinta. Menjadi abdi bagi orang saleh yang takut kepada Allah tidak jauh rasanya dengan menjadi putri di istana raja. Orang saleh selalu memanusiakan manusia dan tidak akan menzaliminya.

Saat ini aku masih dirundung kecemasan dan ketakutan jika ayahku mencariku dan akhirnya menemukanku. Aku takut dijadikan santapan serigala.

Wahai orang yang lembut hatinya,
sebenarnya aku merasa tidak pantas menuliskan semua ini. Namun rasa hormat dan cintaku padamu yang semakin besar di dalam dada memaksaku menuliskannya.

Aku merasa tidak pantas mencintaimu, tetapi apa yang dapat dilakukan oleh makhluk dhaif seperti diriku?

Wahai orang yang lembut hatinya,
keinginanku sekarang hanyalah satu: aku ingin halal bagimu.

Islam memang telah menghapus perbudakan, tetapi demi rasa cintaku yang begitu dalam kepadamu, aku ingin menjadi budakmu yang halal bagimu. Budak yang bisa kau seka air matanya, kau belai rambutnya, dan kau kecup keningnya.

Aku tidak berani berharap lebih dari itu.

Sangat tidak pantas bagi gadis miskin dan hina seperti diriku berharap menjadi istrimu. Namun aku merasa dengan itu aku akan menemukan hidup baru, jauh dari cambukan, makian, kecemasan, ketakutan, dan kehinaan.

Yang terlintas di benakku hanyalah meninggalkan Mesir.

Aku sangat mencintai Mesir, tanah kelahiranku. Tetapi aku merasa tidak bisa hidup tenang dalam satu bumi dengan orang-orang yang sangat membenciku dan selalu menginginkan kesengsaraan serta kehancuran diriku.

Walaupun saat ini aku berada di tempat yang aman di tengah keluarga Syaikh Ahmad, jauh dari ayah dan dua kakakku yang kejam, aku masih merasa bahaya selalu mengintai.

Kau tentu tahu, di Mesir ini angin dan tembok pun bisa berbicara.

Wahai orang yang lembut hatinya,
apakah aku salah menuliskan semua ini?

Semua yang saat ini bergolak di dalam dada dan jiwa. Sudah lama aku menanggung nestapa. Hatiku selalu kelam oleh penderitaan. Aku merasa kau datang membawa seberkas cahaya kasih sayang.

Belum pernah aku merasakan cinta kepada seseorang sekuat cintaku padamu.

Aku tidak ingin mengganggumu dengan kata-kata yang mungkin terasa nista dalam surat ini. Jika ada yang bernuansa dosa, semoga Allah mengampuninya.

Aku siap jika harus terbakar oleh api cinta yang dahulu membakar Laila dan Majnun. Biarlah aku menjadi Laila yang mati karena kobaran cintanya. Namun aku tidak berharap kau menjadi Majnun.

Kau orang baik. Orang baik selalu disertai Allah.

Doakan Allah mengampuni diriku.

Maafkan atas kelancanganku.

Wassalamu’alaikum.

Yang dirundung nestapa,
Noura


Tak terasa mataku basah.

Bukan karena ini pertama kalinya aku menerima surat cinta dari seorang gadis. Bukan pula karena kata-kata Noura yang mengungkapkan perasaannya kepadaku.

Aku menangis karena selama ini Noura ternyata menderita tekanan batin yang luar biasa. Ia hidup dalam ketakutan, merasa tidak memiliki tempat yang aman, seakan berada dalam kegelapan panjang tanpa cahaya kasih sayang dari keluarganya.

Tekanan psikis yang ia alami ternyata jauh lebih berat daripada siksaan fisik yang pernah ia terima.

Maka ketika sedikit saja cahaya simpati masuk ke dalam hatinya, ia menganggap cahaya itu sebagai segalanya. Ia memegangnya erat-erat dan takut kehilangannya.

Aku menyeka air mata, melipat surat itu, lalu memasukkannya kembali ke dalam amplopnya.

Setelah shalat subuh, aku harus menyampaikan hal ini kepada Syaikh Ahmad. Gadis itu perlu terus diberi semangat hidup dan dikuatkan ruhaninya. Ia perlu diyakinkan bahwa ia akan mendapatkan rasa aman dan kasih sayang selama berada di tengah orang-orang beriman.

Aku mengambil air wudhu untuk menenangkan hati dan pikiran. Aku harus kembali menyelesaikan pekerjaan.

Ketika azan subuh berkumandang, seluruh terjemahan telah selesai kuedit. Naskah itu langsung kupecah menjadi empat file dan kumasukkan ke dalam disket.

Mataku terasa berat dan perih, seolah ada kerikil mengganjal di sana. Aku belum memejamkan mata sama sekali.

Aku bangkit dan mengajak teman-teman turun ke masjid.

Previous Post
Next Post

post written by: