Kepada Syaikh Ahmad aku berikan surat Noura untuk beliau baca. Jamaah shalat Subuh sudah banyak yang pulang, kecuali beberapa kakek-kakek yang beri’tikaf dan membaca Al-Qur’an menunggu sampai waktu dhuha tiba.


Aku diajak Syaikh Ahmad masuk ke dalam kamar imam. Aku memohon kepada beliau untuk memperlakukan gadis itu dengan lebih baik dan bijak. Aku memohon agar gadis itu jangan dicela atas apa yang ditulis dan dilakukannya. Gadis itu memang sedikit berbohong ketika mengatakan surat itu hanya ucapan terima kasih semata. Gadis itu perlu dikokohkan semangat hidupnya dan diyakinkan bahwa ia tidak akan mendapatkan perlakuan buruk lagi. Ia akan aman di Mesir.


Syaikh Ahmad membaca surat itu dan menitikkan air mata.


“Akan aku minta kepada Ummu Aiman untuk mencurahkan perhatian yang lebih padanya. Dia memang memerlukan rasa aman dan kasih sayang yang selama ini hilang. Dan dia sepertinya belum merasa yakin akan mendapatkannya di sini.”


Syaikh Ahmad berjanji akan menyelesaikan masalah Noura sebaik-baiknya dan meminta diriku agar tidak terganggu serta tetap berkonsentrasi pada tesis. Surat Noura itu pun aku serahkan sepenuhnya kepada beliau. Aku tidak ingin menyimpannya. Setelah itu aku pulang.


Sampai di rumah aku membaca Al-Qur’an satu halaman. Aku ingin memejamkan mata setengah jam saja. Aku berpesan kepada Saiful agar membangunkanku sampai benar-benar bangun pada pukul setengah tujuh.


Pukul setengah tujuh aku dibangunkan. Kerikil di mata belum sepenuhnya hilang. Aku mandi. Sarapan belum jadi. Aku mempersiapkan segala sesuatu untuk pergi: jawaban untuk Alicia, proposal tesis, dan disket berisi naskah terjemahan.


Karena perjalanan panjang, aku harus berangkat pagi.


Di metro aku tidak mendapat tempat duduk. Metro penuh oleh orang-orang yang berangkat kerja. Turun di Tahrir aku langsung mencari Eltramco menuju Hayyu Sabe. Tujuanku adalah @lfenia, warnet yang dikelola teman-teman mahasiswa dari Indonesia.


Pukul delapan aku sampai di sana dan bertemu Furqon, penjaga warnet yang sudah seperti saudara sendiri.


Furqon memelukku.


“Pucat sekali sampean, Mas. Begadang ya?”


Aku mengangguk.


Furqon mempersilakan aku memilih sendiri tempat yang kuinginkan. Hanya ada tiga orang yang sedang berlayar di dunia maya. Aku memilih komputer yang paling dekat dari tempatku berdiri.


Aku membuka Yahoo Mail, mengirim naskah terjemahan dengan lampiran, membuka beberapa pesan di milis Mutarjim, Qahwaji, dan Indonesia Cinta Damai. Aku juga melihat berita dari Ahram, Time, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka, dan Islam Online.


Satu jam aku berada di @lfenia.


Furqon menyuguhkan segelas teh Arousa—teh paling merakyat di Mesir. Jika dibuat kental dan diminum selagi hangat, sruput demi sruputnya mampu meringankan kepala yang berat dan menyegarkan pikiran.


Dari @lfenia aku langsung naik bus 926 menuju kampus Al-Azhar di Maydan Husein. Aku menyerahkan proposal tesis kepada bagian Syuun Thullab Dirasat Ulya Fakultas Ushuluddin.


Aku merasa akan terlambat sampai di National Library. Aku menghubungi Aisha untuk memberitahukan posisiku dan meminta mereka menunggu jika aku terlambat.


Benar saja, aku terlambat sepuluh menit.


Aku meminta maaf dan mengeluarkan jawaban atas pertanyaan Alicia yang telah kujilid.


“Semua pertanyaan tentang perempuan dalam Islam saya jawab dalam empat puluh halaman. Pertanyaan lainnya saya jawab dengan menerjemahkan buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Abdul Wadud Shalabi.”


Alicia dan Aisha berdecak kaget sekaligus gembira atas keseriusanku.


Aku menjelaskan bahwa yang sebenarnya menerjemahkan buku Prof. Shalabi ke dalam bahasa Inggris adalah orang lain. Peranku hanya membaca ulang, mengoreksi, menerjemahkan hadis, dan melengkapi terjemahan Al-Qur’an yang ditinggalkan Maria. Korektor akhir semuanya adalah Syaikh Ahmad Taqiyyuddin.


Kami berdiskusi selama dua setengah jam.


Saat diskusi berlangsung aku mulai merasakan tubuh meriang. Kepalaku berat, tetapi aku menahannya.


Alicia meminta data diri dan alamat lengkapku. Dua hari lagi ia berencana kembali ke Amerika. Aisha berkata suatu saat nanti ia ingin berdiskusi lagi denganku.


Kami pun berpisah.


Di luar gedung, terik panas benar-benar menggila. Aku naik metro. Sampai di Maadi pukul setengah tiga. Aku belum shalat, sehingga aku turun untuk shalat di masjid di luar stasiun.


Perjalanan kulanjutkan.


Ubun-ubun kepalaku terasa sangat nyeri. Di Tura El-Esmen badai panas bergulung menebar debu ke dalam metro. Sangat tidak nyaman.


Turun di Hadayek Helwan aku merasa tidak kuat berjalan menuju apartemen. Aku memanggil taksi.


Kepalaku nyeri sekali. Tubuh terasa remuk. Aku baru sadar bahwa sejak pagi aku belum sarapan.


Sampai di halaman apartemen aku sempat melihat jam tangan. Pukul tiga lewat lima belas menit.


Kepalaku seperti ditusuk tombak berkarat. Sangat sakit.


Begitu membuka pintu rumah aku merasa tidak kuat melangkahkan kaki. Kepala terasa seperti dihantam palu godam. Mataku menangkap kilatan cahaya putih, lalu semuanya gelap.



---


Dalam keremangan aku melihat cahaya. Perlahan aku membuka mata. Langit-langit berwarna putih. Bukan langit-langit kamarku yang biru muda.


Kepalaku masih berat.


“Alhamdulillah. Kau sudah tersadar, Mas,” suara Saiful serak.


“Aku... di mana?” lidahku terasa kelu.


“Di rumah sakit, Mas.”


“Kenapa?”


“Sudah, istirahat dulu. Jangan memikirkan apa-apa.”


Kepalaku kembali terasa nyeri. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi. Perjalanan melelahkan, panas, perut kosong, lalu pingsan di pintu rumah.


“Jam berapa?” tanyaku.


“Setengah tiga malam.”


Aku teringat belum shalat Ashar, Maghrib, dan Isya. Aku mencoba bangkit, tetapi tubuh terasa lumpuh. Kepalaku tiba-tiba sangat sakit.


“Aduh! Astaghfirullah!”


Semuanya kembali gelap.



---


Dalam kegelapan aku mendengar suara Syaikh Utsman Abdul Fattah.


“Fahri, baca surat Al-Anbiya.”


Aku membaca.


“Teruskan surat Al-Hajj dengan qiraah Imam Warasy.”


Aku membaca hingga selesai.


Lalu semuanya gelap kembali.


Aku mendengar Syaikh Utsman membaca surat Al-Furqan dengan qiraah Imam Hamzah. Pada ayat enam puluh lima beliau menangis tersedu-sedu. Aku ikut menangis dan melanjutkan bacaan itu.


Kemudian beliau memintaku membaca surat Asy-Syu’ara.


Saat membaca sampai ayat seratus delapan puluh empat, aku mendengar isak tangis sayup-sayup. Ada sentuhan lembut di pipiku.


Aku membuka mata.


“Fahri, kau sudah sadar,” suara perempuan lembut.


Aku melihat wajah putih bersih.


“Maria?”


“Ya, aku Maria.”


Matanya berkaca-kaca.


“Kau menangis?”


“Kau membuatku menangis, Fahri. Kau mengigau membaca ayat-ayat suci. Wajahmu pucat dan air matamu terus mengalir.”


Aku melihat infus di tangan kiriku.


Kepalaku kembali terasa sakit.


Dokter datang, memeriksa, lalu menyuntikkan obat melalui infus.


“Ini untuk meredakan rasa sakit. Kau akan cepat sembuh,” katanya.


Tak lama kemudian Saiful datang.


Ia menjelaskan semuanya: bagaimana aku pingsan, bagaimana Maria memanggil ibunya—Madame Nahed—dokter di Rumah Sakit Maadi, dan bagaimana mereka membawaku ke rumah sakit.


Setelah mendengar cerita itu aku memakluminya.



---


Ketika sadar kembali, di sekelilingku sudah ada banyak teman: Mishbah, Mas Khalid, Kang Kaji, Junaedi, Sofwan, Iswan, Khalil, Bimo, dan Chakim.


Mereka memelukku satu per satu.


“Syafakallah syifaan ‘ajilan, syifaan la yughadiru ba’dahu saqaman.”


Semoga Allah menyembuhkanmu dengan kesembuhan yang sempurna.


Aku meneteskan air mata.


Aku meminta agar sakitku ini tidak diberitahukan kepada keluarga di Indonesia.


Saat ingin buang air kecil, Mas Khalid membantuku dengan pispot. Setelah itu aku bertayamum dan shalat dengan isyarat karena tubuhku tak bisa digerakkan.


Teman-teman menemaniku sampai waktu besuk habis.


Malamnya aku kembali terlelap dalam kegelapan.



---


Dalam mimpi aku bertemu seorang lelaki kurus dengan wajah bercahaya.


Ia memperkenalkan dirinya:


“Abdullah bin Mas’ud.”


Aku terkejut.


Sahabat Nabi yang agung itu memelukku dan berkata, “Syafakallah.”


Beliau memintaku membaca surat Al-Baqarah. Aku membacanya dengan penuh kebahagiaan. Sesekali beliau membetulkan bacaanku.


Setelah selesai, beliau mencium keningku.


Aku bertanya kepadanya tentang mushaf Utsmani.


Beliau tersenyum dan berkata:


“Yang tidak mengakui mushaf Utsmani adalah orang-orang munafik dan orang-orang yang memusuhi agama Allah. Apa yang ada di dalam mushaf Utsmani dari Al-Fatihah sampai An-Naas adalah wahyu Allah yang utuh dan terjaga. Tidak berkurang dan tidak bertambah satu huruf pun. Allah sendiri yang menjaga Al-Qur’an sampai hari kiamat.”


Beliau tersenyum lagi.


Aku ingin ikut bersamanya, tetapi beliau tidak mengizinkan.


Aku hanya sempat menitipkan salam dan kerinduan kepada Rasulullah.


Sahabat Nabi itu kemudian pergi perlahan.


Semakin jauh.


Semakin kecil.


Hingga akhirnya hilang.


Mataku basah oleh air mata.

Previous Post
Next Post

post written by: