Jam 00:00:00

Nabi Isa AS

 


Maryam di Mihrab

Matahari tampak akan tenggelam, angin pun bertiup sepoi-sepoi di sekitar pepohonan. Harum semerbak mulai memenuhi mihrab Maryam. Bau itu menembus jendela mihrab dan mengepakkan sayapnya di sekeliling gadis perawan yang khusyuk dalam salat tanpa seorang pun mendengar suaranya. Maryam merasa bahwa udara dipenuhi dengan bau harum yang mengagumkan. Ia kembali melakukan salatnya dengan khusyuk dan mengungkapkan syukur kepada Allah SWT.

Seekor burung hinggap di jendela mihrab. Ia mengangkat paruhnya ke atas dan mengarahkannya ke matahari serta mengepakkan kedua sayapnya lalu ia terjun ke air dan mandi di dalamnya. Kemudian ia terbang ringan di sekitarnya. Maryam ingat bahwa beliau lupa untuk menyirami pohon mawar yang tumbuh secara tiba-tiba di tengah dua batu yang tumbuh di luar masjid. Maryam menyelesaikan salatnya lalu ia keluar dari mihrab dan menuju pohon. Belum selesai beliau siap-siap untuk keluar sehingga para malaikat memanggilnya:

“Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (QS. Ali ‘Imran: 42)

Maryam berhenti dan tampak wajahnya yang pucat dan semakin bertambah pucat. Mihrab itu dipenuhi dengan kalimat-kalimat para malaikat yang memancarkan cahaya. Maryam merasa bahwa pada hari-hari terakhir terdapat perubahan pada suasana ruhaninya dan fisiknya. Di tempat itu tidak terdapat cermin sehingga ia tidak dapat melihat perubahan itu. Tetapi ia merasa bahwa darah, kekuatan dan masa mudanya mulai meninggalkan tempatnya dan digantikan dengan kesucian dan kekuatan yang lebih banyak.

Beliau menyadari bahwa ia sedang gugup. Beliau merasakan kelemahan manusiawi dan adanya kekuatan yang luar biasa. Setiap kali tubuhnya merasakan kelemahan, maka bertambahlah kekuatan dalam ruhnya. Perasaan yang demikian ini justru membangkitkan kerendahan hatinya. Maryam mengetahui bahwa ia akan memikul tanggung jawab besar.

“Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).’” (QS. Ali ‘Imran: 42)

Dengan kalimat-kalimat yang sederhana ini Maryam memahami bahwa Allah SWT telah memilihnya dan menyucikannya serta menjadikannya penghulu para wanita dunia. Beliau adalah wanita terbesar di dunia. Para malaikat kembali berkata kepada Maryam:

“Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (QS. Ali ‘Imran: 43)

Perintah tersebut ditetapkan setelah adanya berita gembira agar beliau meningkatkan kekhusukannya, sujudnya, dan rukuknya kepada Allah SWT. Maryam lupa terhadap pohon mawar dan beliau kembali salat. Maryam merasakan bahwa sesuatu yang besar akan terjadi padanya. Beliau merasakan hal itu sejak beberapa hari, tetapi perasaan itu semakin menguat saat ini.

Matahari meninggalkan tempat tidurnya sementara malam telah bangkit sedangkan bulan duduk di atas singgasananya di langit dan di sekelilingnya terdapat awan-awan yang indah dan putih. Kemudian datanglah pertengahan malam dan Maryam masih sibuk dalam salatnya. Beliau menyelesaikan salatnya dan teringat pohon mawar itu lalu beliau membawa air di suatu bejana dan pergi untuk menyiramnya.

Pertemuan Maryam dengan Malaikat Jibril

Pohon mawar itu tumbuh di antara dua batu di tempat yang tidak jauh dari masjid yang hanya ditempuh beberapa langkah darinya. Tempat itu jauh dari jangkauan manusia sehingga tak seorang pun mendekatinya. Tempat itu sudah dijadikan tempat yang khusus bagi Maryam untuk melakukan salat di dalamnya atau beribadah. Maryam mendekati pohon mawar itu dan menyiramnya lalu beliau meletakkan bejana. Kemudian ia memikirkan pohon mawar itu di mana tangkainya semakin panjang pada dua malam yang dilaluinya.

Tiba-tiba Maryam mendengar suara derap kaki yang mengguncang bumi. Beliau tidak mendengar suara kaki yang berjalan, tetapi beliau mendengar suara kaki yang menetap di atas batu serta pasir. Maryam merasakan ketakutan. Ia merasakan bahwa ia tidak sendirian. Ia menoleh ke sebelahnya namun ia tidak mendapati sesuatu pun.

Kemudian kedua matanya mulai berputar-putar dan memperhatikan suatu cahaya yang berdiri di sana. Maryam gemetar ketakutan dan menundukkan kepalanya. Maryam berkata dalam dirinya, siapa gerangan orang yang berdiri di sana.

Maryam memandang kepada wajah orang asing itu dan menyebabkan ia gelisah. Wajah orang itu sangat aneh, di mana dahinya bercahaya lebih daripada cahaya bulan. Meskipun kedua matanya memancarkan kemuliaan dan kebesaran tetapi wajah orang itu justru menggambarkan kerendahan hati yang mengagumkan.

Pandangan pertama yang dilihat oleh Maryam kepada orang itu mengisyaratkan bahwa orang itu memiliki kemuliaan yang diperoleh orang yang menyembah Allah SWT selama jutaan tahun.

Maryam bertanya kepada dirinya, siapa gerangan orang ini?

Kemudian seakan-akan orang asing itu membaca pikiran Maryam dan berkata:

“Salam kepadamu wahai Maryam.”

Maryam dibuat terkejut mendengar adanya suara manusia di depannya. Maryam berkata sebelum menjawab salamnya:

“Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.” (QS. Maryam: 18)

Maryam berlindung di bawah lindungan Allah SWT dan ia bertanya kepadanya, “Apakah engkau manusia yang mengenal Allah SWT dan bertakwa kepada-Nya?”

Kemudian orang itu tersenyum dan berkata:

“Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” (QS. Maryam: 19)

Orang asing itu belum selesai menyampaikan kalimatnya sehingga tempat itu dipenuhi cahaya yang menakjubkan yang tidak menyerupai cahaya matahari, cahaya bulan, cahaya lampu, cahaya lilin bahkan cahaya api. Di sana terdapat cahaya yang sangat jernih.

Kemudian terngianglah di kepala Maryam kalimat: “Aku adalah seorang utusan Tuhanmu.”

Kalau begitu dia adalah penghulu para malaikat, Ruhul Amin (Jibril) yang telah berubah wujud menjadi manusia.

Maryam mengangkat kepalanya dengan gemetar menahan luapan cinta. Jibril berdiri di depannya dalam bentuk manusia. Maryam memperhatikan kejernihan dahinya dan kesucian wajahnya. Benar apa yang diduganya bahwa Jibril memiliki kemuliaan yang diperoleh orang yang menyembah Allah SWT selama jutaan tahun.

Kemudian Maryam mengingat kembali kalimat-kalimat yang diucapkan Jibril. Malaikat itu telah mengatakan bahwa ia adalah utusan Tuhannya, dan ia telah datang untuk memberi Maryam seorang anak laki-laki yang suci.

Maryam ingat bahwa dirinya adalah seorang perawan yang belum tersentuh oleh seorang pun. Ia belum menikah dan belum dilamar oleh seseorang pun, maka bagaimana ia melahirkan anak tanpa melalui pernikahan.

Pikiran-pikiran ini berputar-putar di kepala Maryam lalu ia berkata kepada Jibril:

“Maryam berkata: Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” (QS. Maryam: 20)

Jibril berkata:

“Demikianlah Tuhanmu berfirman: ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.’” (QS. Maryam: 21)

Maryam menerima kalimat-kalimat Jibril. Tidakkah Jibril berkata kepadanya bahwa ini adalah perintah Allah SWT dan segala sesuatu yang diperintahkan-Nya pasti akan terlaksana.

Kemudian mengapa ia harus heran ketika melahirkan tanpa disentuh oleh seorang manusia pun. Bukankah Allah SWT menciptakan Nabi Adam tanpa seorang ayah dan seorang ibu? Sebelum diciptakannya Nabi Adam tidak ada pria dan wanita.

Hawa diciptakan dari Nabi Adam dan ia pun diciptakan dari laki-laki tanpa perempuan.

Biasanya manusia diciptakan melalui pasangan laki-laki dan perempuan; biasanya ia memiliki ayah dan ibu. Tetapi mukjizat terjadi ketika Allah SWT menginginkannya untuk terjadi.

Kemudian Jibril meneruskan pembicaraannya:

“Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan dengan kalimat dari-Nya, namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah. Dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh.” (QS. Ali ‘Imran: 45-46)

Keheranan Maryam semakin bertambah. Betapa tidak, sebelum mengandung anak itu di perutnya ia telah mengetahui namanya.

Bahkan ia mengetahui bahwa anaknya itu akan berbicara dengan manusia saat ia masih kecil.

Sebelum Maryam menggerakkan lisannya untuk melontarkan pertanyaan lain, Jibril mengangkat tangannya dan mengerahkan udara ke arah Maryam. Kemudian datanglah hembusan udara yang bercahaya yang belum pernah dilihat sebelumnya oleh Maryam.

Lalu cahaya tersebut masuk ke jasad Maryam dan memenuhinya.

Tak sempat Maryam melontarkan pertanyaan yang lain, Jibril yang suci telah pergi tanpa meninggalkan suara.

Udara yang dingin telah bergerak dan Maryam pun tampak menggigil. Maryam segera kembali ke mihrabnya. Ia menutup pintu mihrab dan ia tenggelam dalam salat yang khusyuk dan ia pun menangis.

Maryam merasakan kegembiraan, kebingungan, kegoncangan serta kedamaian yang dalam.

Kini Maryam tidak lagi sendirian.

Sejak Jibril meninggalkannya ia merasakan bahwa ia tidak lagi sendirian.

Ia menggerakkan tangannya yang dipenuhi dengan cahaya kemudian cahaya ini berubah di dalam perutnya menjadi anak.

Seorang anak yang akan menjadi kalimat Allah SWT dan ruh-Nya yang diletakkan pada Maryam.

Ketika anak itu besar ia akan menjadi seorang rasul dan nabi yang ajarannya dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang.


Kehamilan Maryam dan Tanda-Tanda dari Allah

Maryam pada malam itu tidur dengan nyenyak dan ia bangun di waktu Subuh. Belum lama ia membuka kedua matanya sehingga ia dibuat terkejut ketika melihat mihrab dipenuhi dengan buah-buahan yang sebenarnya tidak lagi musim. Maryam heran melihat hal itu. Ia mulai mengingat apa yang telah terjadi padanya kemarin, yaitu bagaimana kejadian saat menyiram pohon mawar, bagaimana pertemuannya dengan malaikat Jibril, bagaimana Allah SWT meniupkan kalimat-Nya padanya, bagaimana ia kembali ke mihrab, dan bagaimana tidurnya yang nyenyak.

Maryam berkata kepada dirinya sambil melihat buah-buahan yang banyak: Apakah aku akan memakan sendirian buah-buahan ini.

Kemudian ada suara dalam dirinya yang berkata: “Engkau tidak lagi sendirian wahai Maryam. Kini engkau bersama Isa. Engkau harus makan dengan baik.”

Dan Maryam mulai makan.

Lalu berlalulah hari demi hari. Kandungan Maryam berbeda dengan kandungan umumnya wanita. Ia tidak merasakan sakit dan tidak merasa berat; ia tidak merasakan sesuatu telah bertambah padanya dan perutnya tidak membuncit seperti umumnya wanita.

Alhasil, kehamilan yang dialaminya dipenuhi dengan nikmat yang baik.

Datanglah bulan yang kesembilan.

Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa Maryam tidak mengandung Isa selama sembilan bulan, tetapi ia melahirkannya secara langsung sebagai mukjizat.

Kelahiran Nabi Isa

Pada suatu hari Maryam keluar ke suatu tempat yang jauh. Ia merasa bahwa sesuatu akan terjadi hari itu. Tetapi ia tidak mengetahui hakikat sesuatu itu.

Kakinya membimbingnya untuk menuju tempat yang dipenuhi dengan pohon kurma.

Tempat itu tidak biasa dikunjungi oleh seseorang pun karena saking jauhnya; tempat yang tidak diketahui oleh seseorang pun kecuali Maryam.

Tak seorang pun mengetahui bahwa Maryam sedang hamil dan ia akan melahirkan. Mihrab yang menjadi tempat ibadahnya selalu tertutup. Orang-orang mengetahui bahwa Maryam sedang sibuk beribadah dan tidak ada seorang pun yang mendekatinya.

Maryam duduk beristirahat di bawah pohon kurma yang besar dan tinggi.

Maryam mulai merasakan sakit pada dirinya dan rasa sakit tersebut semakin terasa.

Akhirnya Maryam melahirkan.

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia bersandar pada pangkal pohon kurma, ia berkata: ‘Aduhai alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan.’” (QS. Maryam: 23)

Rasa sakit saat melahirkan anak yang dialami wanita suci ini menimbulkan penderitaan-penderitaan lain yang segera menantinya.

Bagaimana manusia akan menyambut anaknya ini?

Apa yang mereka katakan tentangnya?

Bukankah mereka mengetahui bahwa ia adalah wanita yang masih perawan?

Bagaimana seorang gadis perawan bisa melahirkan?

Apakah manusia akan membenarkan Maryam yang melahirkan anak itu tanpa ada seseorang pun yang menyentuhnya?

Kemudian pandangan-pandangan keraguan mulai menyelimutinya.

Maryam berpikir bagaimana reaksi manusia kepadanya dan bagaimana perkataan mereka terhadapnya sehingga hatinya dipenuhi dengan kesedihan.

Belum lama Maryam membayangkan dan meminta agar ia dimatikan dan dilupakan, tiba-tiba anak yang baru lahir itu memanggilnya:

“Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makanlah, minumlah dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.’” (QS. Maryam: 24–26)

Maryam melihat al-Masih yang tampan wajahnya.

Wajahnya tidak kemerah-merahan dan rambutnya tidak keriting seperti anak-anak yang lahir di saat itu, tetapi ia berkulit lembut dan putih.

Anak itu diselimuti dengan kesucian dan kasih sayang.

Anak itu berbicara kepada Maryam agar ia menghilangkan kesedihannya dan meminta padanya agar menggoyangkan batang pohon kurma supaya jatuh darinya sebagian buahnya yang lezat dan Maryam dapat memakan dan meminum darinya sehingga hatinya pun penuh dengan kedamaian serta kegembiraan dan tidak berpikir tentang sesuatu pun.

Jika Maryam melihat atau menemui manusia, maka hendaklah ia berkata kepada mereka bahwa ia bernazar kepada Allah SWT untuk berpuasa dan tidak berbicara kepada seseorang pun.

Maryam melihat al-Masih dengan penuh kecintaan.

Anak itu baru dilahirkan beberapa saat tetapi ia langsung memikul tanggung jawab ibunya di atas pundaknya.

Selanjutnya ia akan memikul penderitaan orang-orang fakir.

Maryam melihat bahwa wajah anak itu menyiratkan tanda yang sangat aneh.

Yaitu tanda yang mengisyaratkan bahwa ia datang ke dunia bukan untuk mengambil darinya sesuatu tetapi untuk memberinya segala sesuatu.

Maryam mengulurkan tangannya ke pohon kurma yang besar.

Belum lama ia menyentuh batangnya hingga jatuhlah darinya buah kurma yang masih muda dan lezat.

Maryam makan dan minum kemudian ia memangku anaknya dengan penuh kasih sayang.

Saat itu Maryam merasakan kegoncangan yang hebat.

Silih berganti ketenangan dan kegelisahan menghampirinya.

Segala pikirannya tertuju pada satu hal yaitu Isa.

Ia bertanya-tanya dalam dirinya:

Bagaimana orang-orang Yahudi akan menyambutnya?

Apa yang akan mereka katakan tentangnya?

Apa yang akan mereka katakan terhadap Maryam?

Apakah para pendeta dan para pembesar Yahudi percaya bahwa Maryam melahirkan seorang anak tanpa disentuh oleh seseorang pun?

Bukankah mereka terbiasa hidup dengan suasana pencurian dan penipuan?

Apakah seseorang di antara mereka akan percaya — padahal ia jauh dari langit — bahwa langit telah memberinya seorang anak?

Maryam Kembali kepada Kaumnya

Akhirnya masa pengasingan Maryam telah berakhir dan Maryam harus kembali ke kaumnya.

Maryam kembali dan waktu menunjukkan Ashar.

Pasar besar yang terletak di jalan yang dilalui Maryam menuju masjid dipenuhi dengan manusia.

Mereka sibuk dengan jual beli.

Mereka duduk berbincang-bincang sambil minum anggur.

Belum lama Maryam melewati pasar itu sehingga manusia melihatnya membawa seorang anak kecil yang didekapnya.

Salah seorang bertanya:

“Bukankah ini Maryam yang masih perawan? Lalu anak siapa yang dibawanya itu?”

Seorang yang mabuk berkata:

“Itu adalah anaknya.”

Mari kita dengar cerita apa yang akan disampaikannya.

Akhirnya orang-orang Yahudi mulai mengepung Maryam dengan berbagai macam pertanyaan:

“Anak siapa ini wahai Maryam?”

“Mengapa engkau tidak mengembalikannya?”

“Apakah itu memang anakmu?”

“Bagaimana engkau datang dengan membawa seorang anak sedangkan engkau adalah gadis yang masih perawan?”

“Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” (QS. Maryam: 28)

Maryam dituduh melakukan pelacuran.

Mereka menyerang Maryam tanpa terlebih dahulu mendengarkan sanggahannya atau mengadakan penelitian atau membuktikan bahwa perkataan mereka memang benar.

Maryam dicerca sana sini dan ia diingatkan bahwa bukankah ia seseorang yang tumbuh dari rumah yang baik dan bukanlah ibunya seorang pelacur.

Lalu mengapa semua ini terjadi padanya?

Menghadapi semua tuduhan itu Maryam tampak tenang dan tetap menunjukkan kebaikannya.

Wajahnya dipenuhi dengan cahaya keyakinan.

Ketika pertanyaan semakin menjadi-jadi dan keadaan semakin sulit maka Maryam menyerahkan segalanya kepada Allah SWT.

Ia menunjuk ke arah anaknya dengan tangannya.

Maryam menunjuk Isa.

Orang-orang yang ada di situ tampak kebingungan.

Mereka memahami bahwa Maryam berpuasa dari berbicara dan meminta kepada mereka agar bertanya kepada anak itu.

Para pembesar Yahudi bertanya:

“Bagaimana mereka akan melontarkan pertanyaan kepada seorang anak kecil yang baru lahir beberapa hari?”

Apakah anak itu akan berbicara di buaian?

Mereka berkata kepada Maryam:

“Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” (QS. Maryam: 29)

Berkata Isa:

“Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku mendirikan salat dan menunaikan zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam: 30–33)

Belum sampai Isa menuntaskan pembicaraannya sehingga wajah-wajah para pendeta dari kalangan Yahudi dan para uskup tampak pucat.

Mereka menyaksikan mukjizat terjadi di depan mereka secara langsung.

Anak kecil itu berbicara di buaian.

Anak kecil yang datang tanpa seorang ayah.

Anak kecil yang mengatakan bahwa Allah SWT telah memberinya al-Kitab dan menjadikannya seorang nabi.

Ini berarti bahwa kekuasaan mereka sebentar lagi akan hancur.

Setiap orang dari mereka akan menjadi tidak berarti ketika anak kecil itu dewasa.

Tak seorang pun di antara mereka yang dapat menjual pengampunan kepada manusia atau menghakimi mereka melalui pernyataan bahwa ia adalah wakil dari langit yang turun di bumi.

Atau pernyataan bahwa hanya dia yang mengetahui syariat.

Para pendeta Yahudi merasa akan terjadi suatu tragedi kepribadian yang akan datang kepada mereka dengan kelahiran anak kecil ini.

Kedatangan al-Masih berarti mengembalikan manusia kepada penyembahan semata-mata kepada Allah SWT.

Ini berarti menghapus agama Yahudi yang sekarang mereka yakini.

Reaksi Para Pendeta Yahudi

Perbedaan antara ajaran-ajaran Musa dan tindakan-tindakan orang-orang Yahudi menyerupai perbedaan antara bintang-bintang di langit dan lumpur-lumpur di jalan. Para pendeta Yahudi menyembunyikan kisah kelahiran Isa dan bagaimana ia berbicara di masa buaian. Mereka justru menuduh Maryam yang masih perawan dengan kebohongan yang besar. Mereka menuduh Maryam melakukan pelacuran, padahal mereka menyaksikan sendiri mukjizat pembicaraan anaknya di masa buaian.

Mula-mula cerita tentang itu mereka sembunyikan untuk beberapa saat. Meskipun demikian, berita tentang kelahiran Isa sampai ke Hakim Romawi, yaitu Heradus. Ia memimpin orang-orang Palestina dan orang-orang Yahudi dengan kekuatan pedang. Ia menakut-nakuti mereka dengan menumpahkan darah serta banyaknya mata-mata yang dimilikinya.

Pada suatu hari ia duduk di istananya dan meminum anggur. Lalu ia mendengar berita yang samar tentang kelahiran seseorang anak tanpa ayah; seorang anak yang dikatakan mampu berbicara saat ia masih di buaian, lalu ia menyampaikan pembicaraan yang menjurus pada ancaman terhadap kekuasaan Romawi.

Kemudian bergetarlah kursi yang ada di bawah tubuh Heradus. Ia memerintahkan untuk diadakan suatu pertemuan mendadak yang dihadiri oleh para pengawalnya dan para mata-matanya.

Pertemuan itu pun terlaksana.

Heradus duduk dengan wajahnya yang hitam mengkilat lalu ia memutarkan pandangannya ke arah mata-matanya dan bertanya:

“Bagaimana berita anak kecil yang berbicara di buaiannya?”

Salah seorang kepala mata-mata berkata:

“Tampak bahwa masalahnya tidak benar. Kami telah mendengar isu-isu sekitar anak kecil yang mereka katakan bahwa ia membuat mukjizat dengan berbicara saat ia masih belia. Lalu saya mengutus anak buahku untuk mencari kebenaran berita itu, tetapi mereka tidak menemukannya. Jelas bagi kami bahwa berita itu dilebih-lebihkan.”

Kemudian salah satu anggota mata-mata raja berkata:

“Aku telah mendapatkan bukti yang terpercaya bahwa tiga orang dari orang-orang Majusi datang di balik suatu bintang yang mereka lihat menyala di suatu langit dan bintang tersebut mengisyaratkan kelahiran anak kecil yang membawa mukjizat, yaitu anak kecil yang akan menyelamatkan kaumnya.”

Hakim berkata:

“Bagaimana ia dapat menyelamatkan kaumnya dan kaum siapa yang diselamatkannya?”

Salah seorang mata-mata berkata:

“Anak buahku tidak mengetahuinya karena orang-orang pandai dari Majusi itu pergi dan tak seorang pun menemukan mereka.”

Hakim berkata:

“Bagaimana mereka dapat pergi dan bersembunyi lalu bagaimana cerita anak kecil ini? Apakah di sana ada persekongkolan untuk menentang Romawi?”

Hakim melompat dari tempat duduknya ketika ia menyebut Romawi dan ia mulai berbicara dengan keadaan emosi:

“Aku menginginkan kepala tiga orang yang cerdik itu dan aku juga menginginkan kepala anak kecil itu. Dan aku menginginkan informasi yang lengkap. Sungguh masalah ini semakin samar hai orang-orang yang bodoh.”

Lalu kepala mata-mata berkata:

“Barangkali ini hanya mimpi yang dibayangkan orang-orang Yahudi bahwa mereka melihatnya.”

Hakim berkata:

“Sungguh kepala-kepala kalian semua akan terbang lebih cepat dari merpati jika kalian tidak mendatangkan cerita secara lengkap tentang anak ini. Kebingungan dan kekacauan apa yang aku rasakan! Pergilah kalian dari sini.”

Anak buah Heradus dan para mata-mata pergi sedangkan ia masih duduk memikirkan masalah tersebut. Tampaknya masalah itu sangat menggelisahkannya. Ia tidak peduli dengan kedatangan agama baru kepada manusia tetapi yang dipikirkannya adalah kekuasaan Romawi yang ia menjadi simbolnya.

Kemudian Heradus menetapkan untuk memanggil pemuka orang Yahudi dan bertanya kepadanya tentang masalah ini.

Para pengawalnya yang khusus memanggil orang Yahudi itu.

Tidak beberapa lama orang Yahudi itu ada di depan hakim.

Heradus berkata:

“Aku ingin berbicara kepadamu tentang suatu masalah yang sangat menggelisahkanku.”

Pendeta Yahudi itu berkata:

“Aku ingin mengabdi kepadamu.”

Heradus berkata:

“Aku mendengar berita-berita yang saling berlawanan tentang anak kecil yang bisa berbicara di masa buaiannya dan ia mengatakan bahwa ia akan menyelamatkan kaumnya. Maka bagaimana berita yang sebenarnya tentang itu?”

Pendeta itu berkata—dan ia merasa bahwa pertanyaan itu sepertinya berupa jebakan yang tidak diketahuinya secara pasti:

“Apakah tuan yang mulia peduli dengan agama Yahudi?”

Heradus berkata dalam keadaan emosi:

“Aku tidak peduli sedikit pun selain kekuasaan Romawi. Jawablah pertanyaanku wahai pendeta.”

Pendeta Yahudi itu telah melihat Isa berbicara di buaiannya. Ia memahami bahwa seandainya ia mengatakan itu maka ia akan mendapatkan penderitaan pada dirinya. Maka ia lebih memilih sedikit berbohong.

Ia berkata kepada Heradus bahwa ia mendengar cerita itu tetapi ia meragukannya.

Heradus berkata:

“Apakah benar agama kalian berbicara tentang kedatangan seorang penyelamat bagi rakyat kalian?”

Pendeta berkata:

“Ini benar wahai tuan yang mulia.”

Heradus berkata:

“Apakah kalian mengetahui ini adalah persekongkolan menentang keamanan kerajaan Romawi? Apakah kalian menyadari ini adalah bentuk pengkhianatan?”

Pendeta berkata:

“Aku harap tuan membiarkan aku meluruskan suatu pemikiran yang sederhana. Berita tentang hal itu adalah berita yang kuno. Berita ini diyakini ketika rakyat menjadi tawanan di Babel sejak ratusan tahun.”

Heradus berkata:

“Apakah memang di sana ada yang membenarkan berita ini? Sekarang apakah kamu secara pribadi membenarkannya? Apakah engkau melihat anak kecil itu yang mereka katakan bahwa ia dilahirkan tanpa seorang ayah?”

Pendeta itu berkata:

“Apakah ada seorang yang percaya wahai tuan yang mulia jika dikatakan ada seorang anak yang lahir tanpa seorang ayah. Ini adalah mimpi rakyat biasa.”

Heradus berkata:

“Tidak ada sesuatu yang mengusir tidur dari mata seorang penguasa selain mimpi-mimpi rakyat. Pergilah wahai pendeta dan jika engkau mendengar berita-berita maka sampaikanlah kepadaku sebelum engkau sampaikan kepada istrimu.”

Belum lama pendeta itu pergi sehingga Heradus berpikir, bagaimana seandainya pendeta itu berbohong.

Ia menangkap benang kebohongan pada kedua matanya.

Ia mengetahui kebohongan ini karena ia sendiri sangat pandai berbohong.

Kemudian bagaimana cerita tiga orang cerdik yang mereka mengikuti bintang?

Apakah di sana terdapat persekongkolan menentang Romawi yang tidak diketahuinya?

Heradus berteriak di tengah-tengah pengawalnya dan memerintahkan mereka untuk menangkap semua orang yang mendengar cerita ini atau ia akan melihat akibatnya.

Mula-mula dia memerintahkan untuk mencari gadis perawan yang melahirkan anak itu dan membunuh setiap anak yang lahir di saat itu.

Hijrah Maryam ke Mesir

Sementara itu Maryam keluar dari Palestina menuju ke Mesir.

Sebelumnya pada suatu malam datanglah kepadanya seseorang yang belum pernah dilihatnya dan orang itu menyampaikan salam kepadanya serta menyerukannya sambil berkata:

“Bawalah anakmu wahai Maryam dan keluarlah menuju Mesir.”

Dengan nada ketakutan Maryam bertanya:

“Mengapa? Bagaimana aku keluar menuju ke Mesir dan bagaimana aku bisa mengenali jalan?”

Orang asing itu menjawab:

“Keluarlah engkau niscaya Allah SWT akan melindungimu. Sesungguhnya Hakim Romawi mencari anakmu dan ingin membunuhmu.”

Maryam bertanya:

“Kapan aku keluar?”

Orang asing itu menjawab:

“Sekarang juga. Janganlah engkau khawatir sedikit pun karena engkau keluar bersama seorang Nabi yang mulia. Semua nabi diusir oleh kaumnya dari negeri mereka dan rumah mereka. Demikianlah hukum kehidupan. Kejahatan selalu berusaha untuk menyingkirkan kebaikan tetapi pada akhirnya kebaikan akan kembali menduduki singgasananya. Keluarlah wahai Maryam.”

Akhirnya Maryam pun pergi menuju ke Mesir.

Maryam melalui gurun Sinai bersama suatu kafilah yang menuju Mesir.

Maryam berjalan membawa Isa di jalan yang sama yang pernah dilalui Nabi Musa di mana ditampakkan kepada Nabi Musa api yang suci dan beliau dipanggil dari sisi Thur al-Aiman.

Setelah melalui perjalanan yang jauh dan melelahkan Maryam sampai di Mesir.

Mesir yang dipenuhi dengan kebaikan, kemuliaan, kebudayaan klasik serta cuacanya yang stabil merupakan tempat yang terbaik untuk pertumbuhan Isa AS.

Al-Masih tumbuh dan berkembang serta menjalani masa kecilnya di Mesir.

Kemudian datanglah kepada Maryam orang asing yang telah memerintahkannya untuk meninggalkan Palestina.

Kali ini ia memerintahkannya untuk kembali ke Palestina.

Orang asing itu berkata kepadanya:

“Raja yang lalim telah mati maka kembalilah bersama anakmu wahai Maryam. Telah datang kesempatan emas bagi Isa untuk menduduki singgasananya. Isa akan menjadi penyayang orang-orang fakir dan orang-orang yang benar. Kembalilah wahai Maryam.”

Maryam pun kembali.

Dalam perjalanan Maryam melalui banyak mata air di sungai Jordania.

Isa pun tumbuh menjadi dewasa dan mencapai masa mudanya.

Isa keluar dari rumahnya dan menuju tempat penyembahan kaum Yahudi.

Saat itu bertepatan dengan hari Sabtu.

Kehidupan Kaum Yahudi pada Hari Sabtu

Di sana tidak ada satu rumah pun dari rumah kaum Yahudi yang dapat menyalakan api atau memadamkannya pada hari Sabtu, atau mengambil buah pada hari itu. Dilarang bagi seorang wanita untuk membikin adonan roti atau seseorang anak kecil mencuci anjingnya. Nabi Musa telah memerintahkan untuk menghormati hari Sabtu dan hanya mengkhususkannya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Terdapat hikmah di balik penghormatan hari Sabtu sehingga hari Sabtu menjadi hari yang sangat disucikan di kalangan orang-orang Yahudi. Mereka melaksanakannya dengan berbagai macam tradisi dan mereka mencurahkan segala konsentrasi mereka untuk menjaga hari Sabtu dan tidak meremehkannya. Sebab mereka meyakini bahwa hari Sabtu adalah hari yang dijaga dari langit sebelum Allah menciptakan manusia sebagaimana mereka percaya bahwa Bani Israil telah diberikan pilihan kepada satu jalur saja yaitu menjaga hari Sabtu.

Mereka bangga karena mereka dapat menjaganya meskipun hal itu menyebabkan mereka kalah di kancah peperangan atau mereka tertawan di tangan musuh. Bahkan saking ketatnya mereka mempertahankan kehormatan hari Sabtu sampai-sampai mereka menambah-nambahi berbagai macam larangan di hari Sabtu.

Majelis kaum Yahudi menetapkan ratusan larangan yang tidak boleh dilakukan di hari Sabtu. Seseorang dilarang untuk memakai gigi palsu di hari Sabtu. Seorang yang sakit dilarang untuk memakai perban atau memakai minyak di tempat yang sakit pada hari Sabtu atau memanggil dokter. Dilarang pula di hari Sabtu untuk menulis dua huruf abjad. Dilarang juga untuk mempertahankan diri pada hari Sabtu. Dilarang untuk panen dan belajar di hari Sabtu. Kemudian bepergian di hari Sabtu diharuskan untuk tidak lebih dari dua ribu yard. Dilarang juga di hari Sabtu untuk membawa sesuatu ke luar rumah.

Jadi banyaknya syariat, hukum serta larangan-larangan biasanya diikuti dengan banyaknya keburukan atau paling tidak membantu terciptanya keburukan. Setiap timbul suatu larangan maka timbul bersamanya cara untuk menghindar darinya. Demikianlah kehidupan kaum Yahudi dipenuhi dengan kemunafikan yang luar biasa di mana secara lahiriah mereka menampakkan penghormatan terhadap hari Sabtu tetapi secara batiniah mereka berusaha menodai kehormatan dengan berbagai macam cara.

Meskipun kelompok Farisiun bertanggung jawab terhadap tugas pelaksanaan syariat dan mengawasinya dengan banyak mendapatkan jaminan-jaminan maka kita akan melihat bahwa mereka siap untuk menciptakan berbagai rekayasa dan tipu daya yang memungkinkan mereka untuk menghindar dari hukum-hukum syariat di saat yang tepat.

Saat yang tepat adalah saat di mana syariat-syariat tersebut bertentangan dengan kepentingan pribadi mereka atau dapat menjadi penghalang bagi mereka untuk mendapatkan mata pencaharian yang haram yang sudah siap masuk pada kantong mereka.

Tipu Daya Kaum Farisi

Misalnya terdapat kaidah syariat yang menetapkan perjalanan pada hari Sabtu tidak boleh melebihi dua ribu yard. Namun orang-orang Farisiun mengadakan walimah di mana mereka mengundang orang-orang untuk menghadiri acara tersebut pada hari Sabtu padahal tempat diadakannya acara itu berjarak lebih dari dua ribu yard dari rumah mereka.

Lalu bagaimana mereka dapat melaksanakan hal tersebut?

Sangat mudah sekali.

Mereka meletakkan pada sore hari Sabtu sebagian makanan yang berjarak dua ribu yard dari rumah mereka lalu setelah itu mereka mendirikan suatu tempat tinggal di mana mereka dapat berjalan setelahnya dan menempuh dua ribu yard yang lain. Dari sini mereka dapat menambah jarak yang mereka inginkan.

Begitu juga agar mereka menghindar dari larangan membawa sesuatu ke luar rumah pada hari Sabtu maka mereka membuat tipu daya yang lain. Yaitu mereka mendirikan gerbang-gerbang pintu dan jendela di berbagai jalan sehingga seluruh kota seperti rumah besar yang dimungkinkan bagi mereka untuk membawa segala sesuatu dan bergerak di dalamnya.

Contoh lain yang menunjukkan bagaimana orang-orang Yahudi mempermainkan syariat sedangkan mereka mengklaim menjaganya adalah bahwa syariat Musa menetapkan agar seorang anak menginfaki kedua orang tuanya saat mereka menginjak usia tua dan membutuhkannya.

Tetapi kaum Farisiun memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk lari dan menghindar dari tanggung jawab ini dengan suatu tipu daya yang sederhana.

Ketika seorang anak dituntut oleh kedua orang tuanya untuk memberi nafkah maka ia pergi ke para pendeta dan bersepakat kepada mereka untuk mewakafkan semua hartanya dan kekayaannya kepada haikal yaitu tempat sembahan kaum Yahudi.

Saat itu kedua orang tuanya tidak mampu mengambil sesuatu pun darinya.

Ketika mereka berdua telah putus asa dan tidak lagi menuntut padanya untuk memberi nafkah maka semua harta kekayaannya akan dikembalikan kepadanya oleh para pendeta dengan catatan hendaklah ia memberikan bagian tertentu dari hartanya kepada para pendeta itu.

Demikianlah yang terdapat dalam Injil Mata.

Nabi Isa Melihat Kerusakan Masyarakat

Di tengah-tengah suasana kebodohan pemikiran yang luar biasa ini juga terdapat sikap keras kepala dan kejumudan berpikir yang mengelilingi kaum Yahudi.

Terdapat tujuh tingkat kesucian dan dua puluh enam salat yang harus mereka lakukan saat mereka membasuh tangan sebelum memakan makanan. Namun mereka menganggap bahwa meniadakan pembacaan salat-salat sebagai bentuk pembunuhan terhadap jiwa dengan cara bunuh diri dan tercegah dari kehidupan abadi.

Demikianlah kekerasan sikap masyarakat Yahudi yang menunjukkan bahwa moral mereka telah rusak dan dipenuhi dengan kemunafikan yang tiada taranya.

Sementara itu Isa berjalan menuju tempat beribadah. Orang-orang berjalan di sekelilingnya. Mereka tampak membanggakan pakaian-pakaian yang berwarna dan berharga sedangkan Isa berjalan dengan memakai baju putih dan menampakkan kezuhudannya.

Rambut Isa tampak lembut yang mencapai kedua bahunya dan tampak ia basah terkena air awan yang menurunkan gerimis. Kemudian kedua kakinya berjalan di atas tanah sehingga tanah itu dipenuhi dengan bau harum yang tidak diketahui sumbernya.

Baju yang dipakai oleh Isa terbuat dari bulu domba yang sangat sederhana dan kasar.

Meskipun hari itu hari Sabtu Isa memetik buah di suatu kebun dan mengambil dua buah yang beliau berikan kepada anak kecil yang fakir dan lapar.

Tindakan semacam ini menurut kepercayaan Yahudi dianggap sebagai tindakan yang menentang agama Yahudi.

Isa mengetahui bahwa menjalankan agama yang hakiki bukan terletak pada ketaatan eksternal sementara hati jauh dari sikap rendah diri.

Oleh karena itu Isa mencabut buah dan memberikan makan kepada manusia pada hari Sabtu. Beliau menyalakan api untuk wanita-wanita tua sehingga mereka tidak mati kedinginan.

Isa sering mengunjungi tempat sesembahan orang Yahudi. Isa berdiri di dalamnya dan mengamati para pendeta dan manusia yang hilir mudik di sekitarnya.

Sesampainya Isa di tempat sembahan ia berdiri di dalamnya.

Isa mengamat-amati apa yang ada di dalamnya.

Dinding-dinding tempat beribadah itu terbuat dari kayu gaharu yang memiliki bau yang harum. Di samping itu terdapat kelambu-kelambu yang terbuat dari kain-kain yang mengagumkan yang dicampur dengan emas. Juga terdapat lampu-lampu yang terulur dari atap dan juga ada lilin-lilin yang memenuhi ruangan dengan cahaya.

Meskipun demikian kegelapan menyelimuti hati orang-orang yang ada di situ.

Nabi Isa berdiri cukup lama di tempat penyembahan itu.

Setiap kali ia memutarkan wajahnya ia mendapati para pendeta di sana.

Terdapat dua puluh ribu pendeta.

Nama-nama mereka tercatat dalam haikal.

Mereka adalah kaum Waliyun yang memakai saku-saku yang besar yang di dalamnya ada kitab-kitab syariat.

Sedangkan kaum Farisiun mereka memakai pakaian yang lebar yang sisi-sisinya tertenun dengan emas.

Mereka adalah pembantu haikal yang resmi dengan memakai baju-baju mereka yang putih.

Adapun kaum Shaduqiyun adalah kelompok para pendeta aristokrat yang bersekutu dengan penguasa di mana mereka memperoleh kekayaan melalui persekutuan ini.

Nabi Isa memperhatikan bahwa jumlah pengunjung haikal lebih sedikit daripada jumlah para pendeta dan para tokoh agama.

Tempat penyembahan itu dipenuhi dengan kambing dan merpati yang dibeli oleh para pengunjung tempat penyembahan itu. Mereka menyerahkannya sebagai kurban kepada Allah.

Yaitu kurban yang disembelih di dalam tempat persembahan di atas tempat penyembelihan.

Alhasil setiap langkah yang diayunkan oleh para pejalan di tempat penyembahan itu akan menghasilkan uang.

Di tempat penyembahan Yahudi itulah tersingkap hakikat kehidupan kaum Yahudi.

Nilai satu-satunya yang disembah oleh manusia di zaman itu adalah uang.

Jadi kemewahan materi atau kekayaan adalah nilai satu-satunya yang karenanya manusia akan bergulat satu sama lain.

Dalam hal itu tidak ada perbedaan antara tokoh-tokoh pembawa ajaran syariat dengan manusia-manusia biasa.

Kaum Shaduqiyun dan kaum Farisiun bekerja sama di antara mereka di dalam haikal itu seakan-akan mereka di dalam suatu pasar di mana mereka memanfaatkannya untuk diri mereka dengan terus mencari kurban-kurban di dalamnya.

Seringkali kaum Shaduqiyun dan Farisiun berseteru dalam persoalan syariat dan hukum.

Demikian juga mereka berseteru dalam menentukan kurban yang harus mereka raih di haikal itu.

Kaum Farisiun berpendapat bahwa hewan-hewan kurban itu harus dibeli dari harta haikal sedangkan kaum Shaduqiyun menganggap bahwa harta dari haikal adalah hak mereka.

Oleh karena itu mereka menganggap bahwa hewan kurban itu harus dibeli dengan jumlah tersendiri.

Begitu juga kaum Farisiun mewajibkan untuk membakar hewan yang disembelih di atas tempat penyembahan sedangkan kaum Shaduqiyun mereka mengambil hewan sembelihan ini untuk diri mereka sendiri.


Nabi Isa Mengingkari Kemunafikan Para Pendeta

Isa memperhatikan semua itu dengan hati yang sedih. Ia melihat bahwa rumah ibadah yang seharusnya menjadi tempat manusia mendekatkan diri kepada Allah SWT justru berubah menjadi tempat perdagangan. Para pendeta menjadikan agama sebagai alat untuk mencari keuntungan dunia. Mereka memperjualbelikan pengampunan dan menjadikan manusia tunduk pada hukum-hukum yang mereka buat sendiri.

Isa berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata dengan suara yang tegas:

“Celakalah kalian wahai para ahli kitab. Kalian memutarbalikkan hukum Allah. Kalian memerintahkan manusia untuk melakukan sesuatu tetapi kalian sendiri tidak melaksanakannya. Kalian memikul beban yang berat kepada manusia tetapi kalian sendiri tidak mau menyentuhnya.”

Para pendeta memandang Isa dengan penuh kemarahan. Mereka merasa kedudukan mereka terancam. Selama ini mereka hidup dari kekuasaan agama yang mereka kuasai. Jika manusia kembali kepada ajaran tauhid yang murni maka kekuasaan mereka akan runtuh.

Isa melanjutkan:

“Sesungguhnya rumah ibadah ini adalah rumah doa. Tetapi kalian menjadikannya sarang para pedagang.”

Manusia yang berada di sana terdiam. Sebagian dari mereka merasa tersentuh oleh perkataan Isa. Mereka melihat ketulusan dan kesucian pada dirinya.

Isa tidak datang membawa kekayaan atau kekuasaan. Ia datang dengan pakaian yang sederhana dan hati yang penuh kasih sayang kepada manusia.

Dakwah Nabi Isa kepada Bani Israil

Isa mulai berdakwah kepada Bani Israil. Ia menyeru mereka agar kembali menyembah Allah SWT semata dan meninggalkan kemunafikan yang telah merusak kehidupan mereka.

Ia berkata kepada mereka:

“Wahai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanmu dan Tuhanku. Barang siapa mempersekutukan Allah maka Allah mengharamkan baginya surga dan tempatnya adalah neraka.”

Sebagian orang menerima ajaran Isa dengan penuh keikhlasan. Mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diberikan Allah kepadanya. Tetapi sebagian besar dari para pendeta menolak dan memusuhi Isa.

Mereka takut jika ajaran Isa menyebar maka manusia tidak lagi tunduk kepada mereka.

Isa mengajarkan manusia untuk hidup dengan kasih sayang, kejujuran, dan kerendahan hati. Ia mengingatkan mereka agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hidup.

Ia berkata:

“Apakah gunanya manusia mendapatkan seluruh dunia tetapi kehilangan jiwanya?”

Perkataan Isa menyentuh hati orang-orang fakir dan lemah. Mereka melihat dalam dirinya seorang nabi yang penuh kasih sayang.

Mukjizat-Mukjizat Nabi Isa

Allah SWT memberikan kepada Isa berbagai mukjizat sebagai bukti kenabiannya.

Di antara mukjizat itu adalah bahwa ia dapat menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan menyembuhkan penyakit kusta dengan izin Allah.

Ia juga dapat menghidupkan orang yang telah mati dengan izin Allah.

Isa berkata kepada manusia:

“Aku menyembuhkan orang buta dan orang yang berpenyakit kusta dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah.”

Mukjizat-mukjizat ini membuat banyak manusia beriman kepadanya. Tetapi para pendeta justru semakin marah.

Mereka menuduh Isa sebagai tukang sihir.

Padahal mereka mengetahui bahwa mukjizat tersebut datang dari Allah SWT.

Para Hawariyyun

Di antara orang-orang yang beriman kepada Isa terdapat sekelompok murid yang setia. Mereka disebut Hawariyyun.

Para Hawariyyun berkata:

“Kami adalah penolong-penolong agama Allah. Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri.”

Isa merasa bersyukur atas keimanan mereka.

Para Hawariyyun membantu Isa menyebarkan ajaran tauhid kepada manusia.

Mereka berjalan bersama Isa dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengajak manusia kembali kepada Allah SWT.

Permintaan Hidangan dari Langit

Pada suatu hari para Hawariyyun berkata kepada Isa:

“Wahai Isa putra Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan kepada kami hidangan dari langit?”

Isa menjawab:

“Bertakwalah kepada Allah jika kalian benar-benar beriman.”

Namun mereka berkata:

“Kami ingin memakan hidangan itu agar hati kami menjadi tenang dan agar kami mengetahui bahwa engkau telah berkata benar kepada kami.”

Isa kemudian berdoa kepada Allah SWT:

“Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit yang akan menjadi hari raya bagi kami dan bagi orang-orang setelah kami serta menjadi tanda dari-Mu. Berilah kami rezeki karena Engkau adalah sebaik-baik pemberi rezeki.”

Allah SWT mengabulkan doa Isa dan menurunkan hidangan dari langit sebagai mukjizat bagi mereka.

Permusuhan Para Pendeta

Meskipun mukjizat demi mukjizat terjadi di hadapan mereka, para pendeta Yahudi tetap menolak Isa.

Mereka merasa kedudukan mereka akan hilang jika Isa terus berdakwah.

Akhirnya mereka merencanakan suatu tipu daya untuk membunuh Isa.

Mereka pergi kepada penguasa Romawi dan menuduh Isa sebagai orang yang ingin memberontak.

Namun Allah SWT mengetahui semua rencana mereka.

Allah berfirman bahwa mereka membuat tipu daya dan Allah juga membuat tipu daya, dan Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Isa Diangkat ke Langit

Ketika para musuh Isa merencanakan untuk membunuhnya, Allah SWT menyelamatkannya.

Allah mengangkat Isa ke langit.

Dan orang yang hendak membunuhnya diserupakan dengan Isa sehingga mereka menangkap dan membunuh orang itu.

Adapun Isa telah diselamatkan oleh Allah.

Allah berfirman bahwa mereka tidak membunuh Isa dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang diserupakan bagi mereka.

Dengan demikian Allah SWT menyelamatkan nabi-Nya dari rencana jahat manusia.

Penutup Kisah Nabi Isa

Nabi Isa AS adalah salah satu nabi yang diutus kepada Bani Israil untuk mengembalikan mereka kepada ajaran tauhid yang murni.

Beliau mengajarkan kasih sayang, kesederhanaan, dan ketulusan dalam beribadah kepada Allah.

Beliau menghadapi banyak penolakan dari para pendeta dan penguasa yang merasa terancam oleh dakwahnya.

Namun ajaran yang dibawanya tetap menjadi cahaya bagi manusia yang mencari kebenaran.

Isa AS akan kembali menjelang hari kiamat sebagai salah satu tanda besar yang telah dijanjikan oleh Allah SWT.

Beliau akan menegakkan keadilan dan mematahkan segala bentuk kebatilan.

Demikianlah kisah Nabi Isa AS yang penuh dengan pelajaran tentang keimanan, kesabaran, dan keteguhan dalam menyampaikan kebenaran.