Jam: 00:00:00
🟢 Kisah Terbaru:
Memuat kisah terbaru...

Nabi Zakaria as

 


Keinginan Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan

Nabi Zakaria adalah ayah dari Nabi Yahya putera tunggalnya yang lahir setelah ia mencapai usia sembilan puluh tahun. Sejak beristeri Hanna, ibu saudaranya Maryam, Zakaria mendambakan mendapat anak yang akan menjadi pewarisnya. Siang dan malam tiada henti-hentinya ia memanjatkan doanya dan permohonan kepada Allah agar dikurniai seorang putera yang akan dapat meneruskan tugasnya memimpin Bani Israil.

Ia khuatir bahawa bila ia mati tanpa meninggalkan seorang pengganti, kaumnya akan kehilangan pemimpin dan akan kembali kepada cara-cara hidup mereka yang penuh dengan mungkar dan kemaksiatan dan bahkan mungkin mereka akan mengubah syariat Musa dengan menambah atau mengurangi isi kitab Taurat sekehendak hati mereka.

Selain itu, ia sebagai manusia, ingin pula agar keturunannya tidak terputus dan terus bersambung dari generasi sepanjang Allah mengizinkannya dan memperkenankan.

Tugas Nabi Zakaria di Mihrab

Nabi Zakaria tiap hari sebagai tugas rutin pergi ke mihrab besar melakukan sembahyang serta menjenguk Maryam anak iparnya yang diserahkan kepada mihrab oleh ibunya sesuai dengan nadzarnya sewaktu ia masih dalam kandungan.

Dan memang Zakarialah yang ditugaskan oleh para pengurus mihrab untuk mengawasi Maryam sejak ia diserahkan oleh ibunya. Tugas pengawasan atas diri Maryam diterima oleh Zakaria melalui undian yang dilakukan oleh para pengurus mihrab di kala menerima bayi Maryam yang diserahkan pengawasannya kepadanya itu adalah anak saudara isterinya sendiri yang hingga saat itu belum dikurniai seorang anak pun oleh Tuhan.

Peristiwa Buah-Buahan di Mihrab

Suatu peristiwa yang sangat menakjubkan dan menghairankan Zakaria telah terjadi pada suatu hari ketika ia datang ke mihrab sebagaimana biasa. Ia melihat Maryam disalah satu sudut mihrab sedang tenggelam dalam sembahyangnya sehingga tidak menghiraukan bapa saudaranya yang datang menjenguknya.

Di depan Maryam yang sedang asyik bersembahyang itu terlihat oleh Zakaria berbagai jenis buah-buahan musim panas. Bertanya-tanya Nabi Zakaria dalam hatinya, dari mana datangnya buah-buahan musim panas ini, padahal mereka masih berada dalam musim dingin.

Ia tidak sabar menanti anak saudaranya selesai sembahyang, ia lalu mendekatinya dan menegur bertanya kepadanya:

“Wahai Maryam, dari manakah engkau dapat ini semua?”

Maryam menjawab:

“Ini adalah pemberian Allah yang aku dapat tanpa kucari dan aku minta. Diwaktu pagi dikala matahari terbit aku mendapatkan rezekiku ini sudah berada didepan mataku, demikian pula bila matahari terbenam di waktu senja. Mengapa bapa saudaranya merasa hairan dan takjub? Bukankah Allah berkuasa memberikan rezekinya kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan?”

Maryam binti Imran

Latar Belakang Keluarga Maryam

Maryam yang disebut-sebut dalam kisah Zakaria adalah anak tunggal dari Imran seorang daripada pemuka-pemuka dan ulama Bani Isra’il. Ibunya saudara ipar dari Nabi Zakaria adalah seorang perempuan yang mandul yang sejak bersuamikan Imran belum merasa berbahagia jika belum memperoleh anak.

Ia merasa hidup tanpa anak adalah sunyi dan membosankan. Ia sangat mendambakan keturunan untuk menjadi pengikat yang kuat dalam kehidupan bersuami-isteri, penglipur duka dan pembawa suka di dalam kehidupan keluarga.

Doa dan Nadzar Ibu Maryam

Tahun demi tahun berlalu, usia makin hari makin lanjut, namun keinginan tetap tinggal keinginan dan idam-idaman tetap tidak menjelma menjadi kenyataan.

Setelah segala daya upaya tidak membawa hasil, sedarlah isteri Imran bahawa hanya Allah tempat satu-satunya yang berkuasa memenuhi keinginannya. Maka ia bertekad membulatkan harapannya hanya kepada Allah, bernadzar dan berjanji bahawa jika dikaruniai anak, ia akan menyerahkannya ke Baitul Maqdis untuk menjadi pelayan.

Kelahiran Maryam

Harapan itu dikabulkan. Isteri Imran mengandung dan merasakan kebahagiaan yang besar. Namun sebelum anak itu lahir, Imran wafat.

Setelah melalui masa kehamilan, lahirlah seorang bayi perempuan. Dengan penuh harap dan sedikit kecewa ia berkata:

“Wahai Tuhanku, aku telah melahirkan seorang puteri, sedangkan aku bernadzar akan menyerahkan seorang putera yang lebih layak menjadi pelayan dan pengurus Baitulmaqdis.”

Namun Allah lebih mengetahui, dan bayi itu kelak menjadi wanita pilihan.

Penyerahan Maryam ke Baitul Maqdis

Maryam kemudian diserahkan ke pengurus Baitul Maqdis. Para rahib berebut ingin menjadi pengasuhnya hingga akhirnya dilakukan undian.

Undian tersebut jatuh kepada Zakaria sebagaimana telah ditentukan.

Pemeliharaan Maryam oleh Nabi Zakaria

Perhatian dan Kasih Sayang

Zakaria menempatkan Maryam di sebuah kamar di atas loteng Baitul Maqdis agar terjaga dari keramaian. Ia merawatnya dengan penuh kasih sayang seolah anak sendiri.

Setiap hari ia menjenguk, memenuhi kebutuhan, dan memastikan ketenangan Maryam.

Tanda Kemuliaan Maryam

Rasa cinta Zakaria berubah menjadi rasa hormat ketika ia kembali menyaksikan peristiwa yang luar biasa.

Ia melihat makanan berupa buah-buahan musim panas hadir di hadapan Maryam di musim dingin. Ia bertanya:

“Wahai Maryam, dari manakah engkau memperolehi rezeki ini, padahal tidak seorang pun mengunjungimu dan tidak pula engkau pernah meninggalkan mihrabmu?”

Maryam menjawab:

“Inilah pemberian Allah kepadaku tanpa aku berusaha atau minta. Dan mengapa engkau merasa hairan dan takjub? Bukankah Allah Yang Maha Berkuasa memberikan rezekinya kepada sesiapa yang Dia kehendaki dalam bilangan yang tidak ternilai besarnya?”

Hikmah dan Tanda Kebesaran Allah

Peristiwa ini menjadi tanda awal kemuliaan Maryam sebagai wanita pilihan yang dipersiapkan untuk melahirkan seorang nabi besar, yaitu Isa Almasih a.s.

Kisah ini disebutkan dalam Al-Quran surah Ali Imran ayat 35 hingga 37 dan 42 hingga 44.