Al Humaidi (wafat 219H)

Nama dan Latar Belakang

Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Zuber bin Isa Abu Bakar al Humaidi. Beliau adalah juga murid langsung dari Imam Syafi’i Rahimahullah. Beliau dikenal sebagai salah satu murid yang memiliki kedalaman ilmu dan pemahaman yang kuat terhadap ajaran yang dibawa oleh Imam Syafi’i.

Beliau hidup pada masa perkembangan ilmu fiqih yang sangat pesat, khususnya dalam penyebaran Madzhab Syafi’i. Kedekatan beliau dengan gurunya menjadikan beliau sebagai salah satu tokoh penting dalam menjaga kemurnian ajaran tersebut.

Peran dalam Madzhab Syafi’i

Beliaulah yang membawa dan mengembangkan Madzhab Syafi’i ketika di Mekkah, sehingga beliau diangkat menjadi Mufti Mekkah. Kedudukan ini menunjukkan betapa besar kepercayaan para ulama dan masyarakat kepada keilmuan beliau.

Dalam perannya sebagai Mufti, beliau tidak hanya memberikan fatwa, tetapi juga mengajarkan ilmu kepada para penuntut ilmu yang datang dari berbagai penjuru. Dengan demikian, peran beliau sangat besar dalam menyebarkan Madzhab Syafi’i, khususnya di wilayah Hijaz.

Wafat di Mekkah pada tahun 219 H. Kepergian beliau menjadi kehilangan besar bagi dunia Islam, khususnya bagi para pengikut Madzhab Syafi’i.

Murid Imam Syafi’i dan Penyebaran Madzhab

Inilah di antaranya murid-murid langsung dari Imam Syafi’i Rhl. yang kemudian menjadi Ulama Besar dan tetap teguh memegang Madzhab Syafi’i. Mereka adalah generasi penerus yang menjaga dan mengembangkan ajaran tersebut dengan penuh tanggung jawab.

Dengan perantaraan beliau-beliau inilah Madzhab Syafi’i tersiar luas ke pelosok-pelosok dunia Islam terutama ke bagian Timur dari Hijaz, yaitu ke Iraq, ke Khurasan, ke Maawara an Nahr, ke Adzerbaijan, ke Tabristan, juga ke Sind, ke Afganistan, ke India, ke Yaman dan terus ke Hadaramaut, ke Pakistan, India dan Indonesia.

Penyebaran ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui perjalanan panjang, pengajaran, serta dakwah yang dilakukan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Metode Dakwah dan Pengajaran

Beliau-beliau ini menyiarkan Madzhab Syafi’i dengan lisan dan tulisan. Metode ini menjadi sarana utama dalam menjaga keberlangsungan ilmu. Pengajaran secara langsung memberikan pemahaman mendalam, sementara tulisan menjadi warisan yang terus hidup lintas generasi.

Dengan cara ini, Madzhab Syafi’i tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan menjadi salah satu madzhab terbesar dalam dunia Islam.

Tokoh Lain dari Murid Imam Syafi’i

Selain dari itu ada dua orang murid Imam Syafi’i Rhl., yaitu Ahmad bin Hanbal, (wafat 241) yang kemudian ternyata membentuk madzhab sendiri yang kemudian dikenal dengan nama Madzhab Hanbali.

Yang kedua Syeikh Muhammad bin Abdul Hakam, seorang Ulama murid langsung dari Imam Syafi’i Rhl. yang ilmunya tidak kalah dari al Buwaithi. Beliau ini pada akhir umurnya berpindah ke Madzhab Maliki dan wafat dalam tahun 268 H. di Mesir.

Perbedaan jalan yang diambil oleh para murid ini menunjukkan keluasan ilmu dan dinamika pemikiran dalam dunia Islam pada masa itu, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap guru mereka.

Jejak Keilmuan dan Pengaruh

Peran Al Humaidi dalam sejarah Islam tidak hanya terbatas pada wilayah Mekkah, tetapi juga dalam jaringan ulama yang lebih luas. Melalui murid-muridnya dan para penuntut ilmu yang belajar kepadanya, ajaran Madzhab Syafi’i terus hidup dan berkembang.

Keikhlasan dalam menyampaikan ilmu serta keteguhan dalam memegang ajaran menjadi teladan yang patut dicontoh. Beliau termasuk dalam barisan ulama yang menjaga amanah ilmu dengan penuh tanggung jawab.

Penutup Sumber

Sumber: Sejarah dan Keagungan Madzab Syafi’i, karangan KH. Siradjuddin Abbas, Pustaka Tarbiyah, 1994.