Siapa Malaikat Itu?

 


Wajah itu Nurul. Ya, Nurul. Ketika aku terbangun dari ketidaksadaran, aku melihatnya tidak jauh dari kakiku bersama teman-temannya. Kulihat sekilas wajahnya sendu. Ada juga ketua dan pengurus PPMI, Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia. Saiful duduk di dekat kepalaku. Ia paling dekat denganku. Tangannya mengusap pipiku yang basah.


“Alhamdulillah, Mas Fahri sadar.” Aku mendengar mereka memuji Allah.


“Sabar Mas ya? Insya Allah segera sembuh,” lirih Saiful dengan mata berkaca-kaca.


“Aku sakit apa katanya, Saif?”


“Dokter belum menjelaskannya, Mas.”


Zaimul Abrar, Ketua PPMI, mendekat, mendoakan, dan atas nama seluruh mahasiswa ikut merasa sedih atas sakit yang menimpaku. Lalu gantian Nurul mewakili teman-temannya. Ketika dekat denganku, ia menatap dengan penuh iba dan sorot mata yang aku tidak tahu maknanya. Kedua matanya berkaca-kaca dan sendu.


“Cepat sembuh Kak. Cepat selesaikan masternya dan cepat mengabdi di tanah air tercinta,” katanya terbata-bata.


Aku mendengarnya dengan sesekali memejamkan mata.


“Mas, kami pamit. Kami sudah lama di sini. Syafakallah!” ucap Zaim.


“Kami juga minta diri Kak,” ikut Nurul.


Mereka pun pulang. Aku merasa wujudku benar-benar ada dan berarti. Aku merasa diperhatikan, disayang, dan dicintai semua orang.


Dua menit setelah mereka keluar, Syaikh Ahmad datang bersama Ummu Aiman. Syaikh Ahmad berusaha tersenyum padaku. Beliau memelukku pelan sambil mendoakan kesembuhanku. Ia tahu aku sakit dari Mishbah yang ketika shalat subuh mengabarkan padanya. Syaikh Ahmad memberikan sedikit tadzkirah yang membesarkan hatiku dan menguatkan jiwaku.


“Pintu-pintu surga terbuka lebar untuk orang yang sabar menerima ujian dari Allah.”


Syaikh Ahmad tidak lama berada di sisiku. Tak lebih dari seperempat jam. Setelah itu beliau pamit. Beliau membawa dua kilo anggur yang sangat segar.



---


Menjelang maghrib Dokter Ramzi Shakir memberi tahu setelah melihat hasil foto rontgen kepalaku bahwa aku harus dioperasi. Ada gumpalan darah beku yang harus dikeluarkan. Rencananya operasi besok pagi pukul delapan. Aku diminta untuk puasa malam ini. Aku mungkin akan tinggal di rumah sakit sekitar satu bulan lamanya.


Aku menitikkan air mata.


Saiful dan Mishbah menghibur, meskipun kulihat mereka berdua juga menitikkan air mata.


Menjelang Isya, Syaikh Utsman Abdul Fattah benar-benar datang bersama beberapa teman Mesir yang mengaji qiraah sab’ah pada beliau. Syaikh Utsman mengusap kepalaku, persis seperti ayahku mengusap kepalaku. Beliau tersenyum padaku.


Beliau meminta kepada semuanya untuk keluar sebentar. Beliau ingin berbicara hanya berdua denganku. Saiful, Mishbah, dan teman-teman Mesir keluar meninggalkan kami.


Syaikh Utsman duduk di kursi dekat dadaku.


Sambil mengelus rambut kepalaku beliau berkata,


“Anakku, ceritakan padaku apa yang dilakukan sahabat Nabi yang mulia, Abdullah bin Mas’ud padamu?”


Aku kaget bukan main. Bagaimana Syaikh Utsman tahu kalau aku bertemu sahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud dalam pingsanku?


“Tadi malam jam tiga saat aku tidur setelah tahajud aku didatangi Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu. Aku hanya sempat bersalaman saja. Beliau bilang akan menjengukmu sebelum aku menjengukmu.”


Syaikh Utsman seperti mengerti keherananku. Beliau menjelaskan bagaimana beliau tahu aku kedatangan Abdullah bin Mas’ud.


“Bagaimana Syaikh bisa yakin aku benar-benar didatangi Abdullah bin Mas’ud?” tanyaku dengan suara serak untuk lebih meyakinkan diriku.


“Seperti keyakinan Rasulullah ketika bermimpi akan berhaji dan membuka kota Makkah.”


Jawaban singkat Syaikh Utsman menyadarkan diriku akan kekuatan mimpi orang-orang saleh yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Untung aku sudah membaca dan menelaah kitab Ar-Ruh yang ditulis oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Ulama besar itu membahas masalah ruh dengan tuntas disertai dalil-dalil yang kuat. Bahwa ruh orang yang telah wafat bisa bertemu dengan ruh orang yang masih hidup atas izin dan kekuasaan Allah.


Syaikh Utsman masih menunggu jawabanku.


“Anakku, apa yang kau dapat dari Abdullah bin Mas’ud yang mendatangimu? Ceritakanlah pelan-pelan, aku ingin tahu.”


Aku lalu menceritakan semuanya.


Syaikh Utsman menitikkan air mata dan berkata,


“Allah yubarik fik ya bunayya.”


Beliau berpesan agar aku tidak menceritakan mimpi ini kepada siapa pun kecuali orang yang bisa dipercaya. Mimpi seperti ini tidak semua orang suka mendengarnya, dan tidak semua orang mempercayainya.


Syaikh Utsman lalu mengeluarkan botol kecil dari saku jubahnya.


“Ini aku bawakan air zamzam. Tidak banyak, namun semoga bermanfaat. Minumlah dengan terlebih dahulu membaca shalawat nabi dan berdoa meminta kesembuhan dan ilmu yang bermanfaat.”


Aku belum bisa menggerakkan tanganku. Syaikh Utsman sendiri yang meminumkan air zamzam itu ke mulutku.


Beliau berpesan agar aku memperbanyak istighfar dan shalawat, mengikuti semua petunjuk dokter, serta minum obat dengan teratur.


Aku juga menceritakan semua kecemasanku tentang operasi di kepalaku. Beliau menenangkan diriku dan meminta agar besok pagi meminta dokter melakukan rontgen ulang.


Jika memang harus dioperasi, maka harus dijalani.


Beliau mencium keningku seperti seorang kakek mencium cucunya.



---


Pagi hari aku merasa badanku lebih enak. Kepalaku lebih ringan.


Jam enam pagi aku meminta Mishbah memberi tahu dokter bahwa aku ingin dirontgen ulang. Aku tidak akan menandatangani surat kesediaan operasi sebelum hasil rontgen diperiksa kembali.


Dokter Ramzi memenuhi permintaanku.


Aku dibawa ke ruang rontgen. Kepalaku difoto dalam tiga posisi. Setelah itu aku dibawa kembali ke kamar.


Pukul setengah sembilan Dokter Ramzi datang dengan wajah cerah.


Beliau berkata,


“Entah ini mukjizat atau apa, gumpalan darah beku di bawah tempurung kepalanya itu telah tiada.”


Aku diminta mencoba menggerakkan tanganku. Meskipun sangat pelan, aku bisa.


“Tak perlu operasi. Kau akan sembuh seperti sedia kala.”


Aku mengucapkan syukur berkali-kali kepada Allah atas anugerah ini.


Sejak itu keadaanku semakin membaik. Hari kelima aku sudah bisa bangkit dari tempat tidur. Hari kesembilan aku sudah bisa ke toilet sendiri. Hari kesebelas aku sudah bisa berjalan-jalan ke taman.


Ketika hendak pulang dari rumah sakit, Saiful mengurus administrasi.


Ia kembali dengan wajah heran.


“Mas, biayanya semua sudah dilunasi seseorang.”


“Siapa yang melunasinya?”


“Pihak rumah sakit tidak mau menyebutkan namanya.”


Aku mencoba menanyakan kepada Tuan Boutros dan keluarganya, namun mereka mengatakan bukan mereka yang membayar.


“Semoga Allah membalas dia dengan pahala yang tiada hentinya,” lirihku.



---


Sejak pulang dari rumah sakit, aku sering memikirkan siapa sebenarnya orang yang melunasi seluruh biaya perawatanku.


Teman-teman mencoba menebak.


Ada yang menduga Syaikh Utsman. Ada yang menduga Syaikh Ahmad. Ada pula yang menduga pihak KBRI.


Namun entah mengapa, mata hatiku berkata bahwa orang itu bukan mereka.


Orang itu adalah seseorang yang berhati ikhlas, mengenalku, sangat perhatian padaku, namun aku tidak tahu siapa dia.


Aku hanya bisa berdoa agar suatu hari Allah membuka rahasia itu.


Agar aku tahu siapa sebenarnya malaikat yang telah menolongku.